Dalam ajaran Khonghucu, ‘’hati adalah sumber dari tindakan”. Apa yang kita kerjakan setiap hari—mengajar, melayani, mengelola—pada akhirnya akan mengikuti arah hati kita. Ketika hati hadir, pekerjaan terasa bermakna. Ketika hati lelah atau menjauh, pekerjaan tetap berjalan, tetapi terasa ringan makna.
Sekolah Khonghucu lahir dari cita-cita yang luhur: *kesetiaan pada Jalan Kebajikan dan Bakti pada pembentukan manusia*. Nilai ini bukan sekadar warisan sejarah, melainkan nafas yang seharusnya menghidupi setiap peran di dalamnya. Namun dalam perjalanan itu sebagai insan yang kerap kali mengalami mengalami keletihan, kejenuhan, bahkan terasa seakan terseret oleh rutinitas.
Rutinitas memang menjaga keteraturan, tetapi tanpa disadari ia dapat membuat kita bekerja dengan kebiasaan, bukan dengan kesadaran. Suatu pekerjaan secara sadar yakni mengajar bisa berubah menjadi menyelesaikan materi. Melayani bisa menjadi memenuhi prosedur. Pada saat itulah, hati perlu diajak kembali hadir.
Ada upaya-upaya baik untuk menjalankan ajaran dan tata nilai. Namun ajaran akan benar-benar hidup bila disampaikan *dengan cara yang memanusiakan manusia*. Ajaran yang tidak disertai empati berisiko terasa jauh, bahkan memberatkan, padahal hakikatnya adalah menuntun dan menguatkan.
Renungan ini bukanlah ajakan untuk menyalahkan, melainkan tetapi semacam ruang refleksi *undangan untuk berhenti sejenak* dan bertanya pada diri sendiri; Apakah hati saya masih terhubung dengan makna pekerjaan ini? Apakah kesetiaan saya masih lahir dari kesadaran, bukan sekadar kewajiban? Apakah bakti saya masih disertai rasa hormat dan kasih?
Dalam ajaran Khonghucu, kesetiaan dan bakti tidak tumbuh dari paksaan, tetapi dari “hati yang terpelihara”. Ketika hati dijaga, pekerjaan—betapapun sederhana—menjadi laku kebajikan. Ketika hati hadir, hubungan antar manusia pun terasa lebih hangat dan bermartabat.
Karena itu, pembaruan yang paling awal dan paling sunyi adalah “menata kembali hati kita masing-masing”. Mengingat kembali mengapa kita memilih jalan ini, dan untuk siapa kita melayani.
Bila hati kembali jernih,
kesetiaan tidak terasa berat,
dan bakti kembali menjadi kehormatan.
Semoga sekolah ini terus bertumbuh bukan hanya dalam aktivitas, tetapi juga dalam *kedalaman makna dan kemanusiaan*, melalui hati-hati yang setia, berbakti, dan penuh kebajikan. ***
*) Penulis adalah Pengajar SMK Setia Bhakti , Kepala Sekokah SD di Tangerang Selatan..

0 Komentar