Oleh Yoseph
Yapi Taum
Setiap generasi mempunyai
pahlawannya sendiri. Generasi 1945 memiliki tokoh-tokoh muda yang
mempertaruhkan masa depan demi lahirnya Indonesia merdeka. Namun, generasi muda
Indonesia hari ini justru tumbuh di tengah kelimpahan informasi tanpa cukup
mengenal sosok-sosok sebaya yang pernah mengorbankan hidupnya bagi republik
ini. Di sinilah kisah Herman Yoseph Fernandez menjadi sangat relevan. Ia bukan
jenderal, bukan politikus, bukan pula tokoh yang menikmati hasil kemerdekaan.
Ia hanyalah seorang tentara pelajar berusia 22 tahun yang memilih mengorbankan nyawanya
agar orang lain dapat hidup dan Indonesia tetap berdiri.
Di tengah derasnya budaya
digital yang sering mengukur keberhasilan melalui jumlah pengikut media sosial,
kekayaan, atau popularitas, Herman menghadirkan ukuran yang berbeda: hidup yang
berarti adalah hidup yang dipersembahkan bagi orang lain.
Pahlawan
dari Flores
Herman Yoseph Fernandez yang
berdarah Larantuka, lahir di Ende, Flores, pada 3 Juni 1925. Masa mudanya
dihabiskan di Ende, kemudian bersekolah di HIK Muntilan (sekarang SMA Van Lith),
salah satu sekolah guru paling bergengsi pada zamannya. Di sekolah inilah ia
bertemu dengan pelajar-pelajar dari berbagai daerah Nusantara. Mereka datang
dari Jawa, Sulawesi, Maluku, Sumatra, Kalimantan, Timor, dan Flores. Di tengah
keberagaman itu, mereka belajar bahwa Indonesia bukan sekadar gugusan pulau,
melainkan sebuah cita-cita bersama. Pengalaman inilah yang membentuk
nasionalisme Herman jauh sebelum republik benar-benar mapan.
Nasionalisme Herman tidak
lahir dari slogan. Ia lahir dari perjumpaan. Ketika Jepang menutup sekolahnya,
Herman tidak pulang ke Flores. Ia memilih tetap tinggal di Jawa, menjadi romusha di Tambang Bayah, lalu bergabung
dengan Tentara Pelajar ketika Belanda kembali menyerbu Indonesia. Pilihan itu
menunjukkan bahwa tanah air baginya bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan
ruang kehidupan yang harus dipertahankan bersama.
Inilah pelajaran pertama
bagi Generasi Z: cinta tanah air bukanlah retorika, melainkan kesediaan
memikul tanggung jawab bersama. Pada zaman Herman, tanggung jawab itu
berupa mengangkat senjata. Pada zaman sekarang, bentuknya tentu berbeda. Ia
hadir dalam kejujuran, prestasi, kerja keras, kepedulian terhadap lingkungan,
literasi digital, serta keberanian melawan korupsi, hoaks, dan politik
kebencian. Nasionalisme hari ini tidak lagi diukur dari keberanian menghadapi
peluru, tetapi dari keberanian menjaga Indonesia tetap utuh dalam kehidupan
sehari-hari.
Lintas
Etnis dan Agama
Pelajaran kedua justru
lebih menarik. Herman berasal dari Flores dan dibesarkan dalam tradisi Katolik
yang kuat. Namun, sahabat-sahabat seperjuangannya berasal dari berbagai suku
dan agama. Salah seorang yang paling dekat dengannya adalah Alex Rumambi dari
Sulawesi. Di medan Sidobunder, ia juga bertempur bersama La Sinrang, pemuda
Bugis Muslim yang berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka tidak pernah bertanya
siapa berasal dari mana atau memeluk agama apa. Yang mereka tahu hanya satu:
mereka adalah orang Indonesia.
Persahabatan lintas
identitas itu mencapai puncaknya pada Pertempuran Sidobunder, 2 September 1947.
Ketika Alex Rumambi terluka parah akibat tembakan Belanda, Herman kembali ke
medan tempur yang telah dikuasai musuh. Ia mengangkat tubuh sahabatnya, membopongnya
melintasi sawah dan sungai, lalu menyembunyikannya agar tidak ditemukan tentara
Belanda. Dalam proses penyelamatan itulah Herman tertembak, ditangkap, dan
akhirnya diadili oleh pengadilan militer kolonial. Alex Rumambi selamat. Herman
tidak pernah kembali. Kesaksian Alex Rumambi, Frans Seda, dan rekan-rekan
seperjuangan kemudian menjadi bagian penting dalam rekonstruksi sejarah
perjuangannya.
Bukankah kisah itu terasa
sangat kontras dengan kenyataan hari ini? Kita hidup pada zaman ketika
perbedaan agama, suku, bahkan pilihan politik sering dijadikan alasan untuk
saling mencurigai. Padahal republik ini justru lahir karena anak-anak muda
seperti Herman mampu melampaui sekat-sekat identitas tersebut. Mereka tidak
memperjuangkan Flores, Jawa, Sulawesi, atau Maluku. Mereka memperjuangkan
Indonesia.
Karena itu, pelajaran kedua
dari Herman adalah bahwa persahabatan adalah fondasi kebangsaan.
Persatuan tidak dibangun pertama-tama oleh pidato politik, melainkan oleh
kesediaan melihat sesama sebagai saudara, apa pun latar belakangnya.
Pengorbanan
Herman Yoseph Fernanadez
Pelajaran ketiga merupakan
puncak seluruh kisah Herman Yoseph Fernandez: pengorbanan. Sesudah ditangkap
Belanda, Herman dihadapkan ke pengadilan militer (krijgsraad). Dalam
persidangan itulah terjadi salah satu episode paling menggetarkan dalam sejarah
revolusi Indonesia. Ketika Belanda mencari penembak seorang perwira mereka,
Herman mengakui tuduhan tersebut, meskipun berbagai kesaksian menunjukkan bahwa
pengakuan itu dilakukan untuk melindungi rekan seperjuangannya. Ia memahami
konsekuensinya. Pengakuan itu berarti hukuman mati.
Malam hari kemudian ia
dieksekusi oleh Belanda. Hingga kini lokasi makamnya pun tidak diketahui secara
pasti. Arsip-arsip Belanda mengenai krijgsraad dan praktik standrecht
menunjukkan bahwa eksekusi terhadap pejuang Republik memang dilakukan dalam
kerangka hukum kolonial yang menganggap mereka sebagai "pemberontak",
bukan sebagai tentara dari sebuah negara yang sedang memperjuangkan
kemerdekaannya.
Di sinilah Herman
memberikan pelajaran yang paling sulit tetapi sekaligus paling penting bagi
generasi sekarang: harga sebuah kehidupan bukan ditentukan oleh berapa lama
seseorang hidup, melainkan untuk siapa ia hidup.
Yang
Dicari Remaja Indonesia
Generasi Z tentu tidak
diminta mengorbankan nyawa di medan perang. Namun mereka tetap menghadapi medan
juang yang tidak kalah berat: krisis integritas, individualisme, polarisasi
sosial, intoleransi, dan hilangnya kepercayaan terhadap institusi publik. Dalam
menghadapi tantangan itu, Indonesia membutuhkan lebih banyak teladan daripada
sekadar influencer. Indonesia memerlukan figur muda yang menunjukkan bahwa
keberanian, solidaritas, dan pengabdian masih mungkin diwujudkan.
Herman Yoseph Fernandez
tidak pernah menjadi menteri, tidak pernah menjadi jenderal, bahkan tidak
sempat menikmati kemerdekaan yang diperjuangkannya. Ia gugur pada usia ketika
sebagian besar anak muda hari ini baru menyelesaikan pendidikan tinggi atau memulai
karier. Namun justru karena usianya yang sangat muda itulah kisahnya terasa
dekat dengan Generasi Z. Ia membuktikan bahwa usia muda bukan alasan untuk
menunda pengabdian.
Bangsa yang besar bukan
hanya bangsa yang mengenang para pahlawannya, melainkan bangsa yang terus
melahirkan semangat kepahlawanan baru. Herman Yoseph Fernandez mengingatkan
kita bahwa Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan muda bukan untuk mengangkat
senjata, melainkan untuk mengangkat martabat bangsanya. Dan mungkin, di tengah
zaman yang semakin gaduh oleh kepentingan diri sendiri, itulah cahaya paling
terang yang dapat diwariskan seorang tentara pelajar kepada generasi Indonesia
hari ini. (Yoseph Yapi Taum, penyair dan
budayawan)

0 Komentar