Unordered List

6/recent/ticker-posts

Pelayanan dalam Syukur dan Kesederhanaan Hidup

 

Aloysius Agus Pertana 

Di tengah kesibukan menjalani usaha dagang mie di Kutabumi, sosok Aloysius Agus Partana  tetap menunjukkan komitmennya dalam pelayanan gereja. Pria yang akrab disapa Agus Pratama ini menjalani tugas sebagai pelayan altar atau Prodiakon di lingkungan Santo Laurensius dan Wilayah Skolastika. Baginya, pelayanan bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan iman yang dijalani dengan penuh rasa syukur dan kesadaran akan penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Agus mengungkapkan bahwa perjalanan hidupnya tidak selalu langsung mengarah pada pelayanan gereja. Dalam prinsip hidupnya, ia pernah merasakan bagaimana Tuhan membawa dirinya menikmati kebahagiaan duniawi. Namun pada akhirnya, ia menyadari bahwa ada tugas yang lebih besar yang harus dijalani, yakni melayani Tuhan dan sesama. Kesadaran itulah yang kemudian membawanya menerima tugas sebagai Prodiakon pada periode pelayanan tahun 2023–2026.

Bagi Agus, menjadi Prodiakon bukanlah jaminan seseorang otomatis masuk surga. Ia percaya bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh jabatan pelayanan di gereja, melainkan oleh cara seseorang menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.

Menurutnya, rasa syukur harus menjadi dasar dalam kehidupan setiap orang beriman. Dengan bersyukur, manusia akan belajar menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, tidak mudah tersinggung, serta tidak gampang putus asa ketika menghadapi persoalan hidup.

Ia juga meyakini bahwa panggilan menjadi pelayan altar lahir dari kehendak Tuhan sendiri. Ketika lingkungan membutuhkan seorang Prodiakon, Agus melihat hal itu sebagai tanda bahwa Tuhan sedang memilih dirinya untuk terlibat dalam pelayanan. Karena itu, ia menerima tugas tersebut dengan rendah hati. Ia menegaskan bahwa dirinya dan sang istri bukanlah orang suci. Mereka hanyalah pribadi biasa yang ingin mengambil bagian dalam pelayanan gereja sesuai kemampuan yang dimiliki.

Dalam perjuangan hidup beriman, Agus tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Baginya, satu hal yang terpenting adalah “Imanuel”, yakni keyakinan bahwa Tuhan selalu beserta umat-Nya. Ia percaya setiap keputusan yang diambil dengan niat baik akan selalu berada dalam perlindungan Tuhan. Keyakinan itu menjadi kekuatan baginya dalam menjalani pekerjaan sehari-hari maupun pelayanan di lingkungan gereja, termasuk membantu imam, memimpin ibadat lingkungan, hingga mendampingi keluarga yang berduka dalam ibadat orang meninggal dunia.

Sebagai ayah dari dua orang anak, Agus juga menaruh perhatian besar terhadap kehidupan dan pergaulan anak-anaknya. Ia merasa bersyukur karena salah satu anaknya aktif mengambil bagian dalam kegiatan gereja. Di tengah perkembangan zaman dan pergaulan bebas yang sering menjadi kekhawatiran banyak orang tua, Agus mengaku sempat merasa cemas akan pengaruh lingkungan luar yang dapat merusak masa depan anak-anaknya. Namun setelah melihat pergaulan dan komunitas anaknya yang baik, ia merasa lebih tenang dan bersyukur karena anaknya tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Kesibukan sebagai pengusaha tidak membuat Agus melupakan tugas pelayanan. Setiap hari ia tetap menjalankan usaha dagangnya demi memenuhi kebutuhan keluarga. Namun di sela-sela aktivitas itu, ia selalu berusaha hadir ketika gereja dan umat membutuhkan pelayanan. Ia ikut membantu imam dalam pelayanan liturgi, melayani orang sakit, serta hadir dalam berbagai kebutuhan umat di lingkungan.

Melalui kehidupan yang sederhana, Agus Pratama menunjukkan bahwa pelayanan sejati bukanlah soal kedudukan atau penghargaan, melainkan kesediaan untuk melayani dengan tulus hati. Ia percaya bahwa hidup yang dijalani dengan rasa syukur, kesetiaan, dan iman kepada Tuhan akan membawa manusia pada kedamaian hidup yang sejati.  *** 

 


                                                                                                                       
Konradus R Mangu

Posting Komentar

0 Komentar