Unordered List

6/recent/ticker-posts

Lulus dari Universitas Indonesia, Bercita-cita Jadi Peneliti

 

Maria Carmelita Sodo

BAGI sebagian anak muda, diterima di Universitas Indonesia merupakan sebuah impian. Namun bagi Maria Carmelita Sodo, yang akrab disapa Amel, keberhasilan itu bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk mewujudkan cita-cita yang lebih besar: menjadi seorang peneliti yang menemukan

Maria Carmelita Sodo

obat bagi penyakit yang hingga kini belum dapat disembuhkan.

Perjalanan Amel menuju salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia tidak diraih secara instan. Sejak kecil ia dikenal sebagai pribadi yang tekun belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Pendidikan dasarnya ditempuh dengan penuh semangat hingga kemudian melanjutkan ke SMP Budi Mulia. Setelah itu, ia diterima di SMA Regina Pacis Bogor, sebuah sekolah yang turut membentuk karakter, disiplin, dan semangat belajarnya.

Selama bersekolah di Regina Pacis, prestasi akademik Amel selalu membanggakan. Ia hampir selalu berada di peringkat teratas dan berhasil mengakhiri masa SMA sebagai Juara I di kelasnya.

Kesuksesan itu tidak diperoleh tanpa kerja keras. Ketika ditemui di Bogor, Minggu (20 Juni 2026) Amel mengisahkan, sejak memasuki kelas XII, Amel telah menyusun target untuk lolos seleksi masuk Universitas Indonesia. Sementara teman-temannya fokus menghadapi ujian sekolah, ia membagi waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.

"Harus belajar lebih awal dan konsisten," demikian prinsip yang dipegangnya selama mempersiapkan diri.

Pilihan Amel akhirnya jatuh pada Program Studi Farmasi Universitas Indonesia. Sebenarnya, ia pernah bercita-cita menjadi dokter hewan. Namun setelah mempertimbangkan minat dan peluang untuk berkarya di dunia kesehatan, ia memutuskan memilih Farmasi sebagai jalan hidupnya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sejak SMA, mata pelajaran yang paling disukainya adalah Kimia dan Fisika. Kedua bidang ilmu tersebut justru menjadi pelajaran yang paling mudah dipahaminya dibandingkan mata pelajaran lainnya. Ketertarikan pada dunia sains itulah yang semakin memperkuat langkahnya memasuki dunia farmasi.

Meski memiliki prestasi akademik yang gemilang, Amel tidak hanya mengembangkan kemampuan di ruang kelas. Saat duduk di kelas XI, ia dipercaya teman-temannya menjadi Wakil Ketua OSIS. Amanah tersebut membuatnya lebih banyak berkonsentrasi pada kepemimpinan dan pelayanan di sekolah sehingga tidak banyak mengikuti perlombaan akademik.

Bagi Amel, menjadi pemimpin berarti belajar bertanggung jawab, bekerja sama, dan melayani orang lain. Pengalaman organisasi itu menjadi bekal berharga dalam membentuk karakter serta cara berpikirnya.

Kini, setelah berhasil menempuh pendidikan di Universitas Indonesia, Amel memiliki impian yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh pekerjaan bergengsi. Ia ingin mengabdikan ilmunya sebagai peneliti di bidang farmasi.

Ia berharap suatu hari nanti dapat menemukan obat bagi penyakit yang hingga kini belum ditemukan pengobatan yang efektif. Baginya, ilmu pengetahuan harus memberi manfaat nyata bagi kehidupan manusia.

Karena itu, Amel juga tertarik berkarya di lingkungan Non-Governmental Organization (NGO) yang bergerak di bidang kesehatan maupun pendidikan. Ia percaya bahwa penelitian, pelayanan, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan.

Maria Carmelita Sodo merupakan putri kedua dari pasangan Yustinus Robby Sodo dan Selvi Gampur. Semangatnya untuk mengabdi kepada masyarakat tampaknya tidak terlepas dari teladan sang ayah yang bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah yang berfokus pada pelayanan pendidikan.

Di usianya yang masih muda, Amel telah membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar mampu membuka jalan menuju masa depan yang cerah. Perjalanan akademiknya mungkin baru dimulai, tetapi cita-citanya sudah melampaui kepentingan pribadi. Ia ingin menghadirkan harapan baru melalui ilmu pengetahuan, agar suatu hari nanti hasil penelitiannya dapat menjadi jawaban bagi mereka yang masih menantikan hadirnya obat untuk penyakit yang belum teratasi.

"Belajar bukan hanya untuk meraih gelar, tetapi untuk memberi manfaat bagi sesama." Kalimat itu seolah menjadi gambaran perjalanan hidup Maria Carmelita Sodo, seorang anak muda yang memilih mengabdikan kecerdasannya demi masa depan yang lebih baik.

Konradus R. Mangu

 

Posting Komentar

0 Komentar