Dalam Injil Matius 6:1-18 yang diperdengarkan hari ini, memberikan tiga pilar kesalehan, yakni bersedekah, doa dan puasa. Tigas pilar kesalehan ini terkesan biasa saja namun memberikan energi bagi setiap pemeluk agama. Yesus mengajarkan bahwa dalam memberikan sedekah tidak perlu dipamerkan kepada orang lain. “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Kiasan ini lebih menyadarkan kita bahwa kebaikan yang dilakukan harus tulus dan lahir dari hati nurani. Kebaikan yang dilakukan, bukanlah ajang untuk memamerkan kehebatan untuk berbuat baik. Berbuat baik itu bisa dilakukan oleh setiap orang. Namun dalam berbuat baik, banyak motif yang tersembunyi di balik perbuatan baik itu. Apakah kebaikan itu lahir dari sebuah ketulusan hati, ataukah hanya menanamkan kebaikan agar suatu saat nanti, kebaikan yang sama bisa diterima kembali?
Kebaikan yang telah kita lakukan harusnya lahir dari sebuah
kesadaran yang tulus dan tanpa pamrih. Itu berarti bahwa apa yang dilakukan
berasal dari diri yang digerakkan oleh kesadaran untuk melakukan sebuah
tindakan kasih. Banyak orang mengatakan bahwa apabila engkau melakukan
kebaikan, pada saat setelah melakukan tindakan kasih itu, haruslah dilupakan. Mengapa
kita harus melupakan kebaikan itu? Karena hanya dengan cara itu, kita tidak
memperhitungkan kembali, berapa kali saya berbuat baik. Lebih baik orang lain
mengingat kebaikan kita, ketimbang diri sendiri yang mengingat kebaikan.
Yesus juga menyoroti tentang bagaimana berdoa yang baik. Yesus mengingatkan
supaya dalam berdoa, tidak boleh pamer kesalehan di ruang publik. Berdoa dengan
ketulusan hati dan dilakukan di ruang tertutup sangat dianjurkan oleh Yesus.
Jika mau berdoa, masuklah dalam kamar, tutup pintu dan berdoalah. Hanya Tuhan yang
tahu akan isi hati saat berdoa pada-Nya. Tidak hanya doa dan sedekah, Yesus
juga menyoroti soal puasa. Ketika hendak berpuasa, tidak usah dipamerkan di
depan umum.

0 Komentar