Unordered List

6/recent/ticker-posts

Rancangan Tuhan Tidak Memilihnya

NAMANYA Abraham Baro Angin, putra asal Desa Watoone, Adonara, Flores Timur. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha memahami dan menerima rencana Tuhan yang terkadang berbeda dari harapan manusia. Baginya, setiap peristiwa yang dialami merupakan bagian dari rancangan ilahi yang telah dipersiapkan dengan baik.

Saya kembali berjumpa dengan Abraham di sela-sela Festival Budaya Lamaholot yang berlangsung di Anjungan Nusa Tenggara Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (30 Mei 2026). Pertemuan itu menjadi momen yang berharga karena kami telah lama tidak bertemu sejak masa sekolah. Ketika bersekolah di SMP Gotong Royong Witihama, Abraham adalah kakak kelas saya. Meski tidak terlalu dekat karena perbedaan angkatan, hubungan kami terjalin melalui keluarganya, terutama dengan adiknya, Arnold Ola Aman, yang kini menjabat sebagai Kepala SMP 1912.

Dalam perbincangan yang berlangsung santai, Abraham menceritakan perjalanan hidupnya setelah meninggalkan kampung halaman. Sejak tahun 1995 ia menetap di Bekasi. Namun sebelum itu, ia pernah menghabiskan tujuh tahun menjalani pendidikan dan pembinaan hidup religius.

Perjalanan panggilannya dimulai ketika ia bergabung dengan Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Selama satu tahun ia menjalani masa pembinaan di Salatiga, kemudian melanjutkan studi filsafat selama enam tahun di Kentungan, Yogyakarta. Selain itu, ia juga menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Kalimantan sebagai bagian dari proses pembentukan calon imam.

Ketika mengenang masa-masa tersebut, Abraham mengungkapkan refleksi yang sangat mendalam tentang panggilan hidup. Menurutnya, hidup manusia berada dalam rancangan Tuhan. Tidak semua yang diinginkan manusia akan berjalan sesuai harapan. Ia menerima kenyataan bahwa dirinya tidak melanjutkan jalan hidup sebagai imam religius.

"Bagi saya, dalam hal panggilan hidup, keputusan itu ada pada Tuhan. Saya merasa Tuhan tidak memilih saya untuk melanjutkan jalan hidup sebagai MSF. Karena itu saya harus menjalani panggilan hidup yang lain," tuturnya.

Ia tidak ingin memperdebatkan alasan-alasan yang menyebabkan dirinya tidak melanjutkan kehidupan membiara. Sebaliknya, ia memilih melihatnya sebagai bagian dari kehendak Tuhan. Menurutnya, jika Tuhan memang menghendaki dirinya menjadi imam, maka jalan itu pasti terbuka hingga akhir.

Abraham juga menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman panggilan yang berbeda. Ada yang sempat meninggalkan biara, tetapi kemudian kembali karena merasakan dorongan yang kuat dalam hati. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Namun pengalaman itu tidak terjadi pada dirinya.

"Saya sempat berpikir setelah selesai dari Kalimantan dan berada beberapa waktu di luar biara, mungkin Tuhan mempunyai rencana lain. Saya bahkan pernah mempertimbangkan untuk menjadi imam projo," kenangnya.

Setelah meninggalkan kehidupan religius, Abraham kembali ke kampung halamannya di Watoone selama sekitar enam bulan. Dalam masa itu ia berusaha menata kembali arah hidupnya. Ia juga berencana menemui Hila Moa Nurak, salah seorang dosen yang pernah membimbingnya selama menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Kesempatan baru kemudian membawanya ke Jakarta. Pada tahun 1995 ia memperoleh pekerjaan sebagai pengajar di Akademi Perawat (Akper) Carolus Jakarta. Pekerjaan tersebut dijalaninya sebagai langkah awal untuk membangun kehidupan baru sekaligus menenangkan pikirannya setelah melewati berbagai pergumulan panggilan.

Tidak lama kemudian, Abraham mulai terlibat dalam pelayanan di Paroki Taman Galaxy, Bekasi. Kehadirannya di lingkungan paroki mendapat perhatian dari pengurus dan pastor setempat. Setelah membantu berbagai pekerjaan di sekretariat paroki, ia diminta untuk mengajukan lamaran resmi sebagai pegawai paroki.

"Saya mengajar di Akper Carolus sekitar satu setengah tahun atau tiga semester. Sementara itu saya juga membantu di Paroki Taman Galaxy. Setelah melihat keterlibatan saya, pihak paroki meminta saya mengajukan surat lamaran untuk bekerja di sana," ungkapnya.

Penulis bersama Abraham Baro
Perjalanan hidup Abraham Baro Angin menunjukkan bahwa tidak semua cita-cita dan rencana manusia berakhir sesuai yang diharapkan. Namun melalui setiap pengalaman, ia belajar menerima bahwa Tuhan memiliki jalan yang berbeda. Kegagalan melanjutkan panggilan hidup religius tidak membuatnya kehilangan arah. Sebaliknya, ia menemukan kesempatan baru untuk berkarya dan melayani melalui profesi serta keterlibatannya dalam kehidupan Gereja.

Baginya, hidup bukan soal berhasil mencapai semua yang diimpikan, melainkan kesediaan untuk menerima dan menjalani kehendak Tuhan. Dari pengalaman itulah Abraham semakin yakin bahwa setiap langkah hidup manusia telah berada dalam penyelenggaraan Tuhan yang penuh makna. ***  Konradus R. Mangu



Posting Komentar

0 Komentar