ADA seseorang yang mengajukan pertanyaan menarik “Coba tunjukkan satu hal dalam kehidupan yang tidak dapat membuat manusia menderita.”
Orang miskin menderita karena kemiskinannya. Namun, ketika ia menjadi kaya, belum tentu penderitaannya berakhir. Ia mungkin justru mulai khawatir kehilangan kekayaannya, takut ditipu, cemas menghadapi persaingan, atau merasa tidak pernah cukup dengan apa yang dimilikinya.
Orang yang tidak memperoleh pendidikan merasa menderita karena keterbatasannya. Namun, setelah menempuh pendidikan tinggi, ia mungkin kembali menderita karena tekanan pekerjaan, tuntutan prestasi, persaingan, atau kegagalan memenuhi harapannya sendiri.
Orang yang belum menikah mungkin merasa kesepian dan mendambakan pasangan hidup. Akan tetapi, setelah menikah, ia dapat menghadapi persoalan penyesuaian diri, perbedaan pandangan, tanggung jawab, dan konflik rumah tangga.
Orang yang tidak mempunyai anak mungkin merasakan kekosongan. Sebaliknya, orang yang mempunyai anak juga dapat mengalami kecemasan tentang kesehatan, pendidikan, masa depan, dan berbagai persoalan yang dihadapi anaknya.
Begitulah kehidupan. Sesuatu yang kita anggap sebagai sumber kebahagiaan hari ini dapat menjadi sumber kecemasan esok hari. Apa yang dahulu kita dambakan, setelah diperoleh, ternyata membawa tanggung jawab dan persoalan baru.
Lalu, seseorang menarik kesimpulan: hidup memang penderitaan. Namun, tunggu dahulu. Apakah kesimpulan itu benar-benar menggambarkan keseluruhan kehidupan?
Ketika Penderitaan Dijadikan Filsafat Kehidupan. Jika setiap keadaan hidup dapat menghadirkan penderitaan, kita mungkin tergoda untuk menyimpulkan bahwa kehidupan pada dasarnya adalah penderitaan.
Akan tetapi, jika kita mengamati kehidupan dengan cara yang sama dari sisi lain, kita akan menemukan kenyataan yang berbeda.
Ada orang yang hidup sederhana, tetapi merasa cukup dan bahagia. Ada orang kaya yang menikmati hasil kerja kerasnya sekaligus menggunakan kekayaannya untuk membantu sesama.
Ada orang yang memilih tidak menikah dan menjalani kehidupannya dengan tenteram, bermakna, serta penuh pengabdian. Ada pula orang yang menemukan kebahagiaan dalam kehidupan berkeluarga.
Ada orang yang tidak memiliki anak, tetapi menemukan makna hidup melalui pendidikan, persahabatan, pelayanan, dan kepedulian terhadap generasi muda. Ada pula orang yang memperoleh kebahagiaan mendalam dalam membesarkan anak-anaknya, meskipun perjalanan itu tidak selalu mudah.
Dengan demikian, dari kenyataan yang sama, kita dapat membangun kesimpulan yang berlawanan: hidup adalah penderitaan, atau hidup adalah kebahagiaan.
Jika keduanya dapat muncul dari pengamatan terhadap kehidupan, persoalannya bukan sekadar memilih salah satu kesimpulan. Kita perlu mempertanyakan cara kita memahami kehidupan itu sendiri.
Jangan-jangan, yang keliru bukan kehidupan yang kita amati, melainkan kesimpulan yang terlalu cepat kita tarik darinya.
Kita mengambil sebagian pengalaman, lalu menganggapnya sebagai gambaran keseluruhan. Kita melihat penderitaan, kemudian menyebut seluruh kehidupan sebagai penderitaan. Kita melihat kebahagiaan, kemudian menganggap kebahagiaan sebagai hakikat tunggal kehidupan.
Padahal, kehidupan jauh lebih luas daripada pengalaman mana pun yang kita jadikan dasar untuk menilainya.
Keadaan Tidak Selalu Menentukan Pengalaman.
Kemiskinan bukan kebahagiaan dengan sendirinya. Kekayaan juga bukan penderitaan dengan sendirinya.
Pendidikan bukan jaminan kebahagiaan. Ketiadaan pendidikan pun bukan alasan untuk meniadakan seluruh kemungkinan hidup yang bermakna.
Pernikahan tidak otomatis membuat seseorang bahagia. Tidak menikah juga tidak otomatis membuat seseorang kesepian.
Kita perlu membedakan dua hal: keadaan yang dialami manusia dan pengalaman batin yang tumbuh ketika manusia menghadapi keadaan tersebut.
Keadaan nyata tetap memiliki pengaruh. Kelaparan, ketidakadilan, kekerasan, kehilangan, dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar dapat menimbulkan penderitaan yang sungguh-sungguh. Kita tidak dapat menghapus kenyataan itu hanya dengan mengubah cara berpikir.
Namun, keadaan yang sama tidak selalu menghasilkan pengalaman batin yang sama pada setiap orang. Dua orang dapat menghadapi kesulitan serupa, tetapi menyikapinya secara berbeda. Seseorang dapat tenggelam dalam keputusasaan, sementara yang lain tetap menemukan alasan untuk bertahan, berusaha, dan memelihara harapan.
Ini tidak berarti orang yang menderita kurang bijaksana atau kurang mampu berpikir positif. Setiap orang memiliki keadaan, pengalaman, dukungan, dan kemampuan yang berbeda.
Maksudnya, keadaan bukan satu-satunya unsur yang membentuk pengalaman hidup kita.
Di antara keadaan dan pengalaman, terdapat cara kita memahami, menilai, merespons, serta bertindak terhadap apa yang sedang kita hadapi.Di sanalah kesadaran manusia mempunyai peranan penting.
Bahagia dan Derita: Dua Pengalaman yang Tidak Selalu Terpisah
Apakah kebahagiaan dan penderitaan merupakan dua hal yang sepenuhnya terpisah? Dalam pengalaman manusia, keduanya sering hadir berdampingan.
Kita dapat mencintai seseorang sekaligus merasa khawatir kehilangannya. Kita dapat bersukacita atas kelahiran seorang anak sekaligus merasa cemas memikirkan tanggung jawab membesarkannya. Kita dapat bangga atas keberhasilan yang dicapai sekaligus merasa lelah oleh perjuangan yang menyertainya.
Bahkan, sesuatu yang membuat kita bahagia dapat pula membuka kemungkinan penderitaan, bukan karena kebahagiaan itu salah, melainkan karena kehidupan membawa perubahan, keterikatan, tanggung jawab, dan ketidakpastian.
Namun, kita juga perlu berhati-hati. Ini tidak berarti setiap kebahagiaan harus disertai penderitaan, atau setiap penderitaan pasti melahirkan kebahagiaan.
Tidak ada keharusan seperti itu.
Ada kebahagiaan yang berlangsung tanpa penderitaan yang berarti. Ada pula penderitaan yang sangat berat dan tidak segera berubah menjadi sesuatu yang membahagiakan.
Yang ingin kita pahami ialah bahwa kehidupan tidak dapat dinilai secara utuh hanya melalui satu jenis pengalaman.
Siang berganti malam. Cuaca cerah dapat berubah menjadi hujan. Masa lapang dapat berganti menjadi masa sulit. Kita tumbuh, berubah, kehilangan, memperoleh sesuatu, lalu kembali menyesuaikan diri dengan kenyataan yang baru.
Akan tetapi, analogi siang dan malam tidak berarti bahagia dan derita selalu bergantian secara teratur. Keduanya dapat hadir bersamaan, dalam kadar yang berbeda, dan dengan durasi yang tidak dapat kita tentukan.
Kehidupan bukan garis lurus menuju kebahagiaan, tetapi juga bukan lorong panjang yang hanya berisi penderitaan. Kehidupan adalah perjalanan yang di dalamnya kita berhadapan dengan beragam pengalaman, dan belajar memberi tanggapan yang tepat terhadapnya.
Jangan Mengubah Pengalaman Menjadi Belenggu
Ketika seseorang berkata, “Hidup adalah penderitaan,” kita perlu bertanya: apakah ia sedang mengungkapkan pengalaman yang sungguh-sungguh dialaminya, atau sedang menjadikan pengalamannya sebagai hukum bagi seluruh kehidupan?
Jika ia sedang menderita, yang dibutuhkan mungkin bukan perdebatan filosofis, melainkan perhatian, pertolongan, dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Namun, jika ia menjadikan penderitaan sebagai kesimpulan mutlak tentang kehidupan, kita perlu mengajaknya melihat kenyataan dengan lebih luas.
Demikian pula ketika seseorang berkata, “Hidup adalah kebahagiaan.” Kita dapat menghargai rasa syukurnya, tetapi tidak perlu menjadikan pengalamannya sebagai ukuran bagi semua orang.
Kebahagiaan seseorang tidak membatalkan penderitaan orang lain. Penderitaan seseorang juga tidak menghapus kemungkinan kebahagiaan yang dialami orang lain.
Kita tidak perlu memilih satu kesimpulan mutlak untuk menolak kesimpulan mutlak yang lain.
Sebab, ketika kita terlalu cepat memberi label kepada kehidupan, kita berisiko kehilangan kemampuan untuk melihat kehidupan sebagaimana adanya.
Kita menjadi sibuk membuktikan bahwa hidup itu menyenangkan atau menyedihkan, sehingga lupa memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi dan apa yang dapat kita lakukan untuk menghadapinya.
Menjalani Kehidupan dengan Kesadaran
Lalu, bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan?Bukan dengan mengejar kebahagiaan seolah-olah kita dapat menghapus seluruh penderitaan. Bukan pula dengan menyerah pada penderitaan seolah-olah tidak ada lagi sesuatu yang dapat diperbaiki.
Kita perlu belajar membedakan apa yang harus diterima, apa yang perlu diubah, apa yang dapat diusahakan, dan apa yang memang berada di luar kendali kita.
Ketika kemiskinan membuat seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, yang diperlukan bukan sekadar nasihat agar ia mengubah sudut pandang, melainkan juga usaha memperbaiki keadaan dan membangun kehidupan yang lebih layak.
Ketika kekayaan mendatangkan kecemasan, yang perlu diperiksa bukan hanya kekayaannya, tetapi juga rasa takut kehilangan, keinginan yang tidak pernah selesai, dan cara ia menggunakan apa yang dimilikinya.
Ketika seseorang merasa kesepian, kita tidak perlu memaksanya menikah. Kita dapat membantunya membangun hubungan yang sehat, menemukan komunitas, dan memperoleh makna hidup.
Ketika kehidupan keluarga menghadirkan persoalan, kita tidak harus menyimpulkan bahwa pernikahan adalah kesalahan. Kita dapat belajar memperbaiki komunikasi, membangun tanggung jawab, dan memperlakukan satu sama lain dengan lebih bijaksana.
Dengan demikian, kesadaran bukan berarti menerima semua keadaan tanpa usaha. Kesadaran justru memungkinkan kita melihat keadaan dengan jernih agar dapat memberikan tanggapan yang lebih tepat.
Kita tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi dalam kehidupan. Namun, sejauh kemampuan dan keadaan memungkinkan, kita dapat belajar memilih bagaimana memahami, menghadapi, dan menanggapi apa yang terjadi.
Di sinilah kebijaksanaan mulai tumbuh: bukan ketika kita berhasil membuat seluruh kehidupan berjalan sesuai keinginan, melainkan ketika kita tidak kehilangan kejernihan pikiran, keluhuran sikap, dan tanggung jawab moral di tengah berbagai keadaan.
Kehidupan Tidak Perlu Dipaksa Menjadi Satu Kesimpulan
Barangkali kita tidak perlu mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan. Kita juga tidak perlu bersikeras mengatakan bahwa hidup adalah kebahagiaan.
Keduanya terlalu sederhana untuk menggambarkan kehidupan manusia yang begitu luas dan beragam.
Ada saat ketika kita tertawa, ada saat ketika kita menangis. Ada saat ketika kita memperoleh sesuatu, ada saat ketika kita harus melepaskannya. Ada masa ketika usaha kita membuahkan hasil, ada masa ketika kita harus menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.
Semua itu merupakan bagian dari pengalaman hidup, meskipun tidak semuanya harus kita anggap baik atau kita biarkan tanpa perubahan.
Yang terpenting bukanlah memenangkan perdebatan tentang apakah kehidupan pada hakikatnya bahagia atau menderita.
Yang lebih penting ialah bagaimana kita menjalani kehidupan itu sendiri.
Apakah ketika menderita kita masih mampu melihat jalan untuk memperbaiki keadaan? Apakah ketika bahagia kita tetap memiliki kerendahan hati? Apakah ketika berhasil kita tetap peduli kepada sesama? Apakah ketika kehilangan kita tetap mampu menjaga keluhuran diri?
Kita tidak harus bahagia setiap saat untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Kita juga tidak harus menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang baik untuk belajar darinya.
Kita hanya perlu memiliki kesadaran untuk tidak membiarkan satu keadaan menguasai seluruh cara kita memandang kehidupan.
Bahagia tidak menjamin bahwa hidup akan selalu mudah. Menderita tidak berarti bahwa hidup telah kehilangan seluruh maknanya.
Kehidupan terus bergerak, dan kita pun perlu terus belajar.
Maka, jalani kehidupan dengan mata yang jernih, hati yang lapang, pikiran yang bijaksana, dan tindakan yang bertanggung jawab.
Bukan karena kita yakin bahwa semua akan berakhir bahagia, melainkan karena dalam keadaan apa pun, kita masih memiliki kewajiban untuk mengupayakan kebaikan.
Sebab, pada akhirnya, ukuran kedewasaan manusia bukanlah apakah ia selalu bahagia atau tidak pernah menderita, melainkan *bagaimana ia tetap menjadi manusia yang baik ketika kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang diharapkannya.*
Kehidupan tidak selalu dapat kita pilih, tetapi kita dapat terus belajar memilih sikap dan tindakan yang membuat kita tetap layak disebut manusia.***
.jpeg)
0 Komentar