Perang antara
Amerika Serikat – Israel dengan target Iran sebagai lawannya belum juga
berakhir. Perang yang berkepanjangan ini menimbulkan keresahan dan penderitaan
bagi mereka yang berdampak langsung serta bagi dunia. Dunia internasional turut
merasakan dampak dari adanya perang ini, terutama karena kelangkaan minyak. Melihat
situasi yang serba tidak pasti ini, menyita ruang publik untuk menyerukan
perdamaian sebagai salah satu jalan terbaik untuk membangun ketenangan dan
kesejahteraan manusia. Era modern sebagai era yang terus membangun peradaban,
namun di lain pihak negara-negara adidaya terus mempertontonkan kecanggihan
peralatan perang dan teknologi, mencari musuh-musuh untuk “dibumi-hanguskan.”
Apa yang dicari
dalam peperangan ini? Ini pertanyaan sederhana namun mendasar karena esensi
perang, sesungguhnya mendatangkan kemelaratan bagi umat manusia. Perang tidak
membawa keuntungan. Perang hanya mempertontonkan “kebuasan” manusia yang menghancurkan
sesamanya sendiri. Perang di Timur Tengah dan penghancuran manusia, mengingatkan kita akan
apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes, “Homo Homini Lupus” (manusia menjadi serigala
bagi manusia lain). Ketika manusia melihat sesamanya sebagai serigala maka akan
terjadi pertentangan, gesekan bahkan pembunuhan. Peristiwa pembunuhan ini juga
mengingatkan bahwa setiap manusia, dalam dirinya ada sifat serigala yang begitu buas, siap
memangsa setiap lawannya.
Manusia memiliki
martabat yang luhur. Hidup merupakan sebuah anugerah dari Allah maka setiap
pribadi juga berkewajiban untuk melindungi hak-hak hidup orang lain. Perang yang
dilancarkan oleh Amerika dan Israel untuk menggempur Iran, bukanlah tindakan
yang terpuji karena memberi dampak kehancuran bagi mereka yang dibom. Orang hidup
dalam ketidakpastian dan trauma yang berkepanjangan. Melihat situasi yang semakin
rumit ini, banyak pihak sudah menyerukan perdamaian sebagai jalan tengah
membangun peradaban. Salah satu tokoh spiritual, yakni Paus Leo XIV terus
mengkritik dan menyerukan perdamaian. Kritik dan seruan Paus Leo XIV tidak digubris
oleh Trump, presiden Amerika Serikat. Seruan Paus Leo XIV berangkat dari pesan
kitab suci di mana Yesus mengajarkan tentang cinta kasih dan mendoakan musuh-musuh.
Ajaran Yesus ini terus digaungkan sebagai cara sederhana dalam menciptakan perdamaian
dunia.
Paus Leo XIV
juga menyerukan semua umat Katolik sedunia untuk tetap berdoa agar peperangan
bisa dihentikan dan perdamaian dunia bisa terwujud. Seruan dari Vatikan supaya
kita tidak membiarkan Paus Leo XIV berjuang sendiri namun suara-suara umat
Katolik juga terus digaungkan untuk mengingatkan pemimpin-pemimpin yang
negaranya terlibat dalam perang untuk segera berhenti. Kiranya seruan
perdamaian Paus Leo XIV dan doa sejuta umat bisa mengubah perang menjadi situasi
yang aman dan damai. Kita memandang orang lain sebagai teman, “Homo Homini Socius”
(manusia menjadi teman bagi manusia lain). ***(Valery Kopong)

0 Komentar