Unordered List

6/recent/ticker-posts

Homo Homini Socius

 


Perang antara Amerika Serikat – Israel dengan target Iran sebagai lawannya belum juga berakhir. Perang yang berkepanjangan ini menimbulkan keresahan dan penderitaan bagi mereka yang berdampak langsung serta bagi dunia. Dunia internasional turut merasakan dampak dari adanya perang ini, terutama karena kelangkaan minyak. Melihat situasi yang serba tidak pasti ini, menyita ruang publik untuk menyerukan perdamaian sebagai salah satu jalan terbaik untuk membangun ketenangan dan kesejahteraan manusia. Era modern sebagai era yang terus membangun peradaban, namun di lain pihak negara-negara adidaya terus mempertontonkan kecanggihan peralatan perang dan teknologi, mencari musuh-musuh untuk “dibumi-hanguskan.”

Apa yang dicari dalam peperangan ini? Ini pertanyaan sederhana namun mendasar karena esensi perang, sesungguhnya mendatangkan kemelaratan bagi umat manusia. Perang tidak membawa keuntungan. Perang hanya mempertontonkan “kebuasan” manusia yang menghancurkan sesamanya sendiri. Perang di Timur Tengah  dan penghancuran manusia, mengingatkan kita akan apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes, “Homo Homini Lupus” (manusia menjadi serigala bagi manusia lain). Ketika manusia melihat sesamanya sebagai serigala maka akan terjadi pertentangan, gesekan bahkan pembunuhan. Peristiwa pembunuhan ini juga mengingatkan bahwa setiap manusia, dalam dirinya  ada sifat serigala yang begitu buas, siap memangsa setiap lawannya.

Manusia memiliki martabat yang luhur. Hidup merupakan sebuah anugerah dari Allah maka setiap pribadi juga berkewajiban untuk melindungi hak-hak hidup orang lain. Perang yang dilancarkan oleh Amerika dan Israel untuk menggempur Iran, bukanlah tindakan yang terpuji karena memberi dampak kehancuran bagi mereka yang dibom. Orang hidup dalam ketidakpastian dan trauma yang berkepanjangan. Melihat situasi yang semakin rumit ini, banyak pihak sudah menyerukan perdamaian sebagai jalan tengah membangun peradaban. Salah satu tokoh spiritual, yakni Paus Leo XIV terus mengkritik dan menyerukan perdamaian. Kritik dan seruan Paus Leo XIV tidak digubris oleh Trump, presiden Amerika Serikat. Seruan Paus Leo XIV berangkat dari pesan kitab suci di mana Yesus mengajarkan tentang cinta kasih dan mendoakan musuh-musuh. Ajaran Yesus ini terus digaungkan sebagai cara sederhana dalam menciptakan perdamaian dunia.

Paus Leo XIV juga menyerukan semua umat Katolik sedunia untuk tetap berdoa agar peperangan bisa dihentikan dan perdamaian dunia bisa terwujud. Seruan dari Vatikan supaya kita tidak membiarkan Paus Leo XIV berjuang sendiri namun suara-suara umat Katolik juga terus digaungkan untuk mengingatkan pemimpin-pemimpin yang negaranya terlibat dalam perang untuk segera berhenti. Kiranya seruan perdamaian Paus Leo XIV dan doa sejuta umat bisa mengubah perang menjadi situasi yang aman dan damai. Kita memandang orang lain sebagai teman, “Homo Homini Socius” (manusia menjadi teman bagi manusia lain). ***(Valery Kopong)    

Posting Komentar

0 Komentar