Pengurus Koresta 2026-2029
Tangerang, Gagas Indonesia Satu.com —
Komunitas Flores Tangerang Raya (KORESTA), wadah berhimpunnya para perantau asal Flores di wilayah Tangerang Raya, terus memperkuat perannya sebagai ruang kebersamaan sekaligus penggerak kontribusi sosial. Organisasi yang berdiri sejak 2 Mei 2005 ini kini memasuki usia 21 tahun dengan semangat baru di bawah kepemimpinan Editius Mbete untuk periode 2026–2029.
Dalam rapat pengurus yang digelar di kawasan Pagedangan, BSD, Sabtu (28/3/2026), Editius menegaskan bahwa KORESTA tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga harus memberi dampak nyata bagi anggotanya. “KORESTA lahir dari kebersamaan anak-anak muda Flores yang awalnya membentuk kelompok paduan suara. Dari sana, muncul kesadaran untuk membangun wadah bersama yang lebih terorganisir,” ujarnya.
Komunitas ini menghimpun perantau dari berbagai daerah di Flores, seperti Manggarai, Nagekeo, Ngada, Ende, Maumere, Flores Timur, hingga Lembata. Meski sempat mengalami dinamika pasang surut, KORESTA tetap menjadi ruang silaturahmi lintas daerah asal yang menyatukan identitas dan semangat kolektif.
Selain kegiatan seni dan pelayanan gereja, KORESTA juga aktif menggelar turnamen sepak bola antarklub. Bahkan pada masa lalu, kegiatan tersebut mendapat perhatian pemerintah daerah setempat dan dihadiri sejumlah tokoh penting. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi KORESTA pernah—and masih berpotensi—menjadi kekuatan sosial yang diperhitungkan di Tangerang.
Ke depan, pengurus merumuskan program kerja jangka pendek, menengah, dan panjang yang lebih terarah. Fokus utama tidak hanya pada kegiatan internal, tetapi juga menyentuh aspek sosial ekonomi anggota, termasuk pendampingan terhadap persoalan yang dihadapi perantau, seperti akses pekerjaan dan tantangan hukum.
Editius Mbete
Di bidang seni dan budaya, KORESTA berencana menggelar pertunjukan yang melibatkan musisi asal Flores sekaligus mempromosikan potensi wisata daerah. Sementara itu, bidang keagamaan akan melakukan pendataan umat, khususnya terkait kehidupan keluarga dan penerimaan sakramen, guna memperkuat citra positif komunitas di perantauan.
Pembina KORESTA, Wens Kopong Liat, menekankan pentingnya keberlanjutan dan dampak nyata dari setiap program. “KORESTA tidak cukup hanya menjadi nama. Ia harus hadir sebagai kekuatan yang dirasakan manfaatnya oleh anggota,” katanya.
Sebagai langkah strategis, KORESTA juga berkomitmen melengkapi legalitas organisasi agar seluruh program memiliki dasar hukum yang jelas. Upaya ini dinilai penting untuk memperluas jejaring kerja sama dengan pemerintah maupun pihak lain.
Rapat yang berlangsung sekitar tiga jam itu menghasilkan sejumlah gagasan konstruktif, termasuk upaya mengaktifkan kembali anggota yang belum terjangkau. Bagi banyak anggotanya, KORESTA bukan sekadar organisasi, melainkan “rumah kedua” yang menjaga solidaritas orang Flores di tanah rantau.
Pertemuan ditutup dengan suasana hangat melalui sajian musik khas Lamaholot yang dibawakan langsung oleh Editius Mbete dan Wens Kopong Liat, menegaskan bahwa semangat kebersamaan tetap menjadi fondasi utama perjalanan KORESTA ke depan. ** Konrad R Mangu

.jpeg)
0 Komentar