Angela Arie Damanik
NAMA lengkapnya Angela Arie Damanik (28 tahun). Saban hari ia menjalankan tugas sebagai guru di lembaga pendidikan swasta SMA Kristen Tangerang. Bagaimana pandangan tentang karier, hidup berkeluarga dan apa pula yang perlu dipersiapkan menuju ke sana ?
Mis Citra adalah seorang pengajar di Sekolah Kristen, beralamat di Tangerang, yang dikenal sebagai pribadi sederhana, tekun, dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga. Ia merupakan anak pertama dari enam bersaudara, semuanya perempuan, yang dibesarkan dalam keluarga petani dengan nilai-nilai kerja keras dan pendidikan yang kuat. Ayahnya berasal dari Simalungun, sementara ibundanya berasal dari Asahan-Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Keluarga ini memiliki pandangan bahwa melalui pendidikan maka dapat mengelola, menjalani hidup ini dengan baik. Pandagan kedua orangtua sangat kuat bahwa lewat pendidikan maka pikiran lebih terbuka, belajar dari pengalaman dan memiliki daya tahan yang kuat bila menghadapi hidup - dalam kondisi terpuruk.
Pola pikir (mindset) inilah yang ikut membentuk Mis Citra memiliki pandangan kuat betapa pentingnya pendidikan. Yang paling utama dalam hidup adalah ketika menghadapinya dengan ‘warna-warninya’ ia bisa melewati dengan bijaksana.
Dalam suatu perbincangan di Tangerang, (Selasa, 17 Maret 2026), Mis Citra - - demikian ia disapa mengisahkan bahwa lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana, di mana kedua orang tuanya bekerja sebagai petani. Meskipun hidup kami tidak berlimpah secara materi. Orangtua Mis Citra saya memiliki tekad yang sangat kuat untuk menyekolahkan semua anak-anaknya. Kami enam bersaudara, semuanya perempuan, dan sebagai anak sulung, saya merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap adik-adik saya.
Masa kecil saya tidak selalu mudah. Saya masih ingat bagaimana orang-orang di sekitar kami sering meragukan masa depan kami. Mereka mengatakan bahwa adik-adik saya tidak akan mampu melanjutkan pendidikan tinggi. Perkataan itu sempat melukai hati saya, tetapi juga menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa kami mampu. Apa yang diucapkan oleh orang-orang itu terhadap keluarga kami tapi saya memiliki keyakinan bahwa dengan perjuangan dan pergumulan yang tiada henti saya bisa mematahkan anggapan mereka itu.
Puji syukur kepada Tuhan, semua anggapan itu tidak terbukti. Orang tua saya berhasil menyekolahkan kami dengan baik. Saya berhasil menjadi Sarjana Strata Satu Universitas Jambi – dengan jurusan Fisika, adik nomor kedua bekerja di Rumah Tahanan Sipirok , Sumatera Utara setelah menyelesaikan pendidikan. Sementara itu adikku nomor tiga sedang kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH) di Karawaci, Tangerang. Sementara itu adikku nomor empat sedang kuliah di Tanjung Pinang memilih jurusan Ilmu Pemerintahan, lalu nomor kelima kini duduk di SMA dan akan melanjutkan kuliah dan yang paling bungsu kelas 4 SD di Simalungun.
Dari situlah saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang jika disertai dengan tekad dan kerja keras. Kedua orang tuaku membuktikan bahwa apa yang menjadi anggapan yang merendahkan bahwa tidak sekolah, menjadi dipatahkan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA, saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi ke beberapa universitas besar, seperti Universitas Padjajaran Bandung dan Universitas Sumatera Utara. Namun, kondisi keluarga membuat saya harus mempertimbangkan banyak hal.
Keluarga dari pihak ibu mengingatkan agar tidak bersikap egois, karena masih banyak adik-adik saya yang membutuhkan perhatian dan dukungan. Akhirnya, memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Jambi dengan mengambil jurusan Fisika. Keputusan ini saya ambil dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sebagai anak pertama.
Setelah menyelesaikan pendidikan, saya memilih untuk mengabdikan diri sebagai guru di Sekolah Kanaan, Tangerang. Profesi ini bukan hanya pekerjaan bagi saya, tetapi juga panggilan hati. Saya ingin menjadi bagian dari proses pendidikan generasi muda, sebagaimana orang tua saya dahulu memperjuangkan pendidikan kami.
Perjalanan Cinta
Saya menjalin hubungan dengan Indra selama sembilan tahun. Perjalanan kami tidak selalu mulus, namun penuh dengan pembelajaran dan kesabaran. Kami sempat merencanakan pernikahan pada Oktober 2025, tetapi rencana tersebut harus ditunda karena pertimbangan keluarga dari pihak calon saya.
Saat itu, kakak perempuan dari calon saya belum menikah dan tidak menghendaki didahului oleh adik laki-lakinya. Saya memahami kondisi tersebut dan memilih untuk menghormati keputusan keluarga. Bagi saya, pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tetapi juga tentang menyatukan dua keluarga.
Calon saya datang langsung kepada keluarga saya untuk menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan bahwa rencana tersebut bukan dibatalkan, melainkan ditunda. Hal ini menjadi bukti keseriusannya dalam menjaga hubungan kami.
Kini, kami kembali merencanakan pernikahan pada bulan Oktober 2026. Saya menyadari bahwa dalam hidup, rencana bisa berubah. Karena itu, saya berpegang pada prinsip bahwa waktu akan menentukan segalanya, selama kita terus berusaha.
Bagi saya, pernikahan adalah keputusan besar yang harus dijalani dengan kesiapan lahir dan batin. Jika pernikahan benar-benar terlaksana tahun ini, saya siap untuk mengikuti keputusan bersama, termasuk kemungkinan untuk tidak lagi bekerja.
Saya percaya bahwa setiap rencana yang disertai doa dan usaha akan menemukan jalannya. Ketika saya kembali ke kampung halaman di Simalungun tahun lalu, saya berharap penundaan yang pernah terjadi tidak terulang kembali.
“Tahun ini semoga boleh berjalan lancar. Kalau Tuhan berkehendak, maka pernikahan itu akan dilaksanakan. Namun semua itu tetap bergantung pada kesiapan calon dalam mempersiapkan segala sesuatunya.”
Perjalanan hidup saya mengajarkan bahwa kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan adalah kunci dalam meraih impian. Dari seorang anak petani hingga menjadi seorang pendidik, dan kini bersiap memasuki jenjang pernikahan, semua adalah bagian dari proses yang saya syukuri.
Bagi Mis Citra berumah tangga bukan sekadar menyatukan dua individu, tetapi menyatukan dua latar belakang, dua keluarga, dan dua cara pandang hidup. Ia memandang pernikahan sebagai proses yang harus dijalani dengan kesiapan, kesabaran, dan komitmen yang kuat.
Dalam pandangannya, waktu memiliki peran penting dalam menentukan kesiapan sebuah hubungan. Ia percaya bahwa manusia bisa berubah, sehingga hubungan yang dijalani harus terus diusahakan, dipelihara, dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Karena itu, ia tidak memaksakan kehendak ketika rencana pernikahannya sempat tertunda. Baginya, penundaan bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses menuju kesiapan yang lebih matang.
Mis Citra juga menjunjung tinggi nilai menghormati keluarga dalam berumah tangga. Keputusan untuk menunda pernikahan karena pertimbangan keluarga calon pasangannya diterima dengan lapang dada. Hal ini menunjukkan bahwa ia memandang pernikahan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga melibatkan keharmonisan antar keluarga besar.
Selain itu, ia memiliki sikap fleksibel dan siap berkorban. Ia menyadari bahwa setelah menikah, akan ada perubahan peran, termasuk kemungkinan untuk tidak lagi bekerja jika itu menjadi keputusan bersama. Bagi Mis Citra, keharmonisan rumah tangga lebih utama dibandingkan kepentingan pribadi.
Nilai lain yang penting baginya adalah tanggung jawab dan kerja sama. Latar belakangnya sebagai anak sulung yang terbiasa memikirkan adik-adiknya membentuk dirinya menjadi pribadi yang siap memikul tanggung jawab dalam keluarga.
Terakhir, Mis Citra memegang teguh iman dan harapan. Ia percaya bahwa setiap rencana akan berjalan dengan baik jika disertai doa – doa tiada henti dan usaha. Pernikahan, dalam pandangannya, adalah bagian dari rencana Tuhan yang akan terwujud pada waktu yang tepat.
Itulah Mis Citra memandang berumah tangga sebagai perjalanan yang membutuhkan kesabaran, penghormatan terhadap keluarga, kesiapan untuk berkorban, serta keyakinan bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.***
Pewawancara : Konradus R. Mangu


0 Komentar