Unordered List

6/recent/ticker-posts

Jejak Sunyi Suster Skolastika, HK: Menghidupkan Harapan di Tengah Badai PHK

                                                

                                                    Suster Skolastika, HK

SUASANA Stasi St Petrus Pasar Kemis, Paroki St Agustinus, Minggu ( 15 Maret 2026) terlihat begitu ramai, tidak seperti hari Minggu sebelumnya. Kali ini suasana gereja stasi itu ‘didandani’ panitia hari hari sebelumnya, karena Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid berkunjung ke tempat ini.  Kegiatan  Buka Puasa Bersama diikuti sekitar  800-an warga nonKatolik. 

Ada yang berkesan dari seluruh rangkaian kunjungan itu, Yenny Wahid yang adalah puteri Gus Dur yang ikut hadir dalam acara buka bersama kepada media mengatakan, kunjungan Ibu Shinta untuk menyapa warga yang miskin, papa,terpinggirkan dan termarginalkan sekaligus memberikan santunan. 

Seorang suster yang diberikan mandat oleh panitia memberikan kain batik buatannya kepada Ibu Shinta adalah Suster Skolastika, HK.  Ketika  media yang hadir melaporkan seluruh kegiatan media ini ada kisah lain yang menjadi inspirasi  sosok suster satu ini.  Ada kesamaan kehadiran sosok suster ini sejak sembilan tahun lalu. Hari ini ia mengaku sebagai pengagum keluarga Gus Dur memberikan batik khas buatannya kepada  Ibu Negara Presiden periode 1999-2021 itu. 

Namanya Suster Skolastika, HK. Sebuah nama yang mungkin tidak banyak dikenal, namun jejak hidupnya diam-diam menyentuh begitu banyak orang—terutama mereka yang terpinggirkan oleh keadaan.

Ia lahir di Jawa Tengah sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara. Masa kecilnya tidak sepenuhnya berjalan dalam pelukan orang tua kandung. Ia diambil dan dibesarkan oleh keluarga Pak De dan Bu De yang mengangkatnya sebagai anak sendiri. Di sana, ia merasakan kasih yang begitu besar—dimanja, diperhatikan, dan dicintai. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sosok ibu yang merawatnya sejak kecil harus pergi secara mendadak karena serangan jantung. Peristiwa itu menjadi luka pertama yang diam-diam membentuk keteguhan hatinya.

Memasuki usia remaja, ia menamatkan pendidikan di SMK. Di era 1980-an, hidup membawanya ke Jakarta, tepatnya di Cawang, di lingkungan Paroki Santo Antonius Padua. Di sanalah benih panggilan itu tumbuh—sebuah kerinduan menjadi seorang suster. Sebuah pilihan yang tidak biasa, bahkan bisa dikatakan berani, karena ia berasal dari keluarga non-Katolik.

Namun, panggilan tidak selalu lahir dari kenyamanan, melainkan dari pergulatan batin yang dalam. Dengan keyakinan yang sederhana namun teguh, ia melangkah masuk dalam Kongregasi HK. Pilihan itu bukan sekadar perubahan status hidup, tetapi sebuah totalitas penyerahan diri.



Perjalanan pelayanannya dimulai di Lampung. Di sana, ia ditempa oleh berbagai pengalaman: hidup dalam komunitas biara, melayani di sekolah, hingga menjadi pengajar keterampilan di lembaga pendidikan Sekolah Pangudi Luhur Jakarta. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk—memberi ruang bagi orang lain untuk menemukan kembali harga diri mereka.

Namun, kisah pengabdiannya menemukan babak yang paling menyentuh ketika ia berada di Balaraja, Tangerang.

Di tengah kawasan industri yang keras, di mana mesin-mesin lebih sering didengar daripada suara manusia, Suster Skolastika hadir bagi mereka yang terlupakan—para pekerja yang kehilangan pekerjaan karena PHK. Mereka yang tiba-tiba kehilangan penghasilan, arah hidup, bahkan harapan.

Bersama LDD, ia mendampingi para pekerja yang terpuruk itu. Ia tidak datang dengan janji besar, tetapi dengan tindakan sederhana yang penuh makna. Ia mengajarkan keterampilan: membatik, memasak, dan berbagai keahlian praktis lainnya. Bagi sebagian orang, itu mungkin hal kecil. Tetapi bagi mereka yang kehilangan segalanya, itu adalah jalan untuk bangkit kembali.

Di ruang-ruang sederhana, di antara kain batik dan aroma masakan, Suster Skolastika menyalakan kembali semangat hidup. Ia tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga memulihkan martabat. Ia mendengarkan keluh kesah, menguatkan hati, dan meneguhkan bahwa setiap orang tetap berharga, bahkan ketika dunia seakan menolaknya.

Kisah hidupnya bukan tentang kemegahan, tetapi tentang ketekunan dalam kesunyian. Tentang kesetiaan pada panggilan, bahkan ketika tidak ada sorotan. Tentang keberanian untuk hadir di tengah luka-luka kehidupan orang lain.

Suster Skolastika, HK, mengajarkan bahwa pelayanan sejati tidak selalu berada di altar yang tinggi, tetapi seringkali justru hadir di lorong-lorong kehidupan yang paling sunyi—di antara mereka yang kehilangan harapan. ***  Konradus R. Mangu

 

窗体底端

 

Posting Komentar

0 Komentar