Unordered List

6/recent/ticker-posts

Prodiakon, Walau Pendosa Perlu Rasa Bersyukur

                            


                                                 Agus Purwanto 

Kutabumi, Gagas Indonesia Satu

 KITA semua tidak luput dari kesalahan atau kekurangan di hadapan Allah. Walaupun demikian semua dipanggil, dihimpun  untuk menjadi pelayan membagikan hosti kudus lambang Tubuh Kristus kepada umat. Tidak hanya tugas itu tapi ia diberikan tugas lain seperti mengantar  hosti kepada orang yang sakit, membutuhkan kehadiran Tuhan . Tugas lainnya mengunjungi  mereka yang sungguh membutuhkan kehadiran Kristus seperti  di rumah atau penjara. Tugas yang melekat pada seorang Prodiakon memimpin ibadat sabda di lingkungan atau memandu  ibadat saat orang Katolik meninggal dunia.

‘’Banyak ibu dan bapak dipilih melalui  mekanisme Ketua Lingkungan atau sedikit dipaksa pengurus hendaklah diterima sebagai panggilan Tuhan dan sebagai Prodiakon kendati sebagai pendosa mestinya perlu ada rasa bersyukur,’’  demikian dikemukakan Agutinus Purwanto  sebagai pewarta, nara sumber yang memberikan materi pendalaman bagi Calon Prodiakon dan Prodiakon yang selama ini melayani di Paroki Kutabumi, Gereja St  Gregorius Agung, Sabtu (  17 Januari 2026).

 

Sekitar 100 lebih (calon Prodiakon) termasuk Prodiakon lama, di gereja  St Gregorius Agung  Kutabumi yang ikut hadir dalam kegiatan yang bertajuk  "Identitas Prodiakon".  Turut hadir Kordinator Prodiakon, Suyatin Maintantoro  dan Ketua Prodioakon periode sebelumnya, Pius Dwi Yulianto  serta para pengurus Prodiakon lainnya.

Di hadapan para Prodiakon, Agustinus menyampaikan sharing pengalaman sebagai pelayan di gereja Cengkareng  Jakarta Barat. Selain sebagai Kepala Sekolah di salah satu lembaga pendidikan di Jakarta Barat, Agustinus memliki kesibukan sebagai pewarta yang mengajar di berbagai paroki untuk menyampaikan kabar baik. Ia mengaku hidup di daerah pedalaman Lampung kemudian merantau di   Jakarta. Ia mengaku sebagai guru tentu saja memiliki penghasilan yang tak seberapa namun semua itu ia merasa Tuhan baik maka semua kebutuhan dicukupkan.

 

Ia mengaku bahwa kegiatan di paroki ia melakukannya dengan tekun, sebagai Katekis, Ketua Lingkungan dan Prodiakon, dan saya bersyukur karena Tuhan telah memberikan segala sesuatunya sehingga semuanya boleh dicukupkan.

 

‘’Dalam keluarga saya, boleh tak henti -hentinya saya bersyukur salah seorang anak laki-laki yang baru diwisuda  Oktober  2025 lalu kini bekerja di Pertamina. Orang bilang saya punya “orang dalam’ dan saya menjawab ‘orang dalam’ adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan orang lain. Maka pengalaman hidup yang penuh kasih Tuhan itu saya perlu  dengan melakukan apapun yang penting melayani di gereja,’’ kata   Agustinus Purwanto.

 

Lebih lanjut Agus Purwanto menjelaskan tentang Identitas sosok Prodiakon  adalah , orang-orang terhormat, Prodiakon bukan jabatan duniawi tapi diberikan oleh Allah sendiri, Prodiakon terlibat baik secara moral dan rohani secara sosial dan dalam keluarga. Selain itu Prodiakon tidak menjelekkan nama baik orang, tidak bercabang lidah  juga tidak membicarakan keburukan sesamanya.

 

‘’Kita perlu menyadari bahwa sebagai orang terhormat di hadapan Tuhan, maka Tuhan lah yang memberikan kekuatan. Tuhan pula yang memberikan perlindungan mana kala kita mendapat cobaan dalam hidup, kita semua dimampukan   saat kita mungkin merasa lelah dalam melayani  tugas sebagai Prodiakon,’’ tambah Agustinus Purwanto.

                                                     

Kehadiran Prodiakon di gereja Katolik di mana pun ada dua kemungkinan, pertama menjadi Prodiakon oleh karena keterbatasan umat dan mereka sedikit agak dipaksa, di sisi lain ada juga umat dengan penuh kesadaran untuk memilih melayani Tuhan melalui wadah Prodiakon. Christin, seorang peserta yang malam itu mengaku ia tidak layak, tidak mampu untuk melakukan pelayanan itu tapi karena keterbatasan orang se lingkungannya maka ia pun menurut  apa yang disarankan oleh pengurus lingkungan.

 

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Simamora. Sosok ini mempunyai istri yang juga sebagai Prodiakon periode sebelumnya dan kali ini ia dengan kesadarannya yang tinggi ia mau bergabung dan menjadi pelayan Tuhan, Prodiakon dan melakaukannya selama tiga tahun ke depan. Di hadapan rekan lainnya sebelumnya ia mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP)  dan Kursus Kitab Suci di parokinya, maka ini menjadi sarana untuk tetap meningkatkan kompetensinya dalam melayani umat. **  

                                                                                                                                           Konradus R Mangu

 

 

Posting Komentar

0 Komentar