Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-16 ini ialah: Musuh Memberikan
Kita Kesempatan. Seorang siswa SMA mendapatkan pujian dan hadiah dari orang
tuanya karena mendapatkan nilai-nilai rapor yang bagus. Padahal semua di dalam
keluarga masih mengingat, bahwa nilai prestasinya di waktu permulaan sekolah
jauh dari harapan. Ia bahkan memiliki sejumlah nilai merah.
Mengapa ia berubah begitu cepat dengan prestasinya itu setelah naik kelas
dua dan kelas tiga? Apakah ia bermain curang pada waktu ujian demi mendapatkan
nilai-nilai yang memuaskan? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan umum yang selalu
ditujukan kepadanya. Kepada semua yang bertanya, siswa tersebut menjawab dengan
sangat bijaksana, katanya: "Setiap temanku mendapat nilai lebih baik dari
pada aku, aku selalu tertantang untuk menjadi seperti dia, bahkan harus
melebihi dia." Ia tetap mengikuti prinsip itu selama belajar di SMA.
Pengalaman si remaja itu merupakan sebuah contoh kompetisi yang sehat. Ada
juga kompetisi atau perlawanan yang tidak sehat, yang melalui cara yang tidak
baik dan dengan tujuan yang tidak baik pula. Di dalam setiap kompetisi,
masing-masing pihak yang bersaing menganggap lawannya sebagai musuh. Ada musuh
yang menjadi teman persaingan atau perjuangan, sehingga kita dapat dibantu
untuk meraih kemajuan dan kesuksesan. Musuh dalam kualitas seperti ini adalah
musuh yang baik, yang memberikan kita kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Tetapi ada musuh yang menjadi lawan mematikan, yang karena didasari oleh
kebencian, marah dan iri hati, sehingga kita tidak mendapatkan bantuan untuk
maju, tetapi sebaliknya kerugian dan bahkan kebinasaan. Secara kodrati dan
mengikuti akal sehat, kita ingin memiliki musuh yang baik. Tuhan sendiri
termasuk dalam kategori musuh kita yang baik. Kita adalah orang-orang yang
berdosa. Setiap menyadari diri sebagai orang berdosa, kita harus dapat melihat
Tuhan sebagai musuh kita yang baik, yang sabar terhadap kita dan menyediakan
segala kesempatan supaya kita dapat bertobat dan kembali kepada-Nya.
Perumpamaan tentang hidup berdampingan antara penabur benih dan musuhnya
yaitu penabur lalang, kemudian antara benih yang tumbuh bersama dengan musuhnya
lalang, sangat jelas mengajarkan kita tentang peran musuh yang membantu kita di
dalam hidup ini. Anggota keluarga sendiri, teman atau orang yang tidak kita
kenal dapat menjadi musuh-musuh kita yang baik. Bahkan jika kita memang tidak
dapat menghindari adanya musuh yang tidak baik atau yang mematikan, ini
merupakan juga pengalaman Tuhan Yesus sendiri dan para martir yang sudah
mendahului kita. Musuh yang demikian membuka kesempatan bagi kita untuk meminum
piala penderitaan seperti Yesus Kristus. Dalam hal ini, kita sepantasnya
bersyukur dan mendoakan musuh-musuh kita. ***Pastor Peter Tukan, SDB

0 Komentar