Unordered List

6/recent/ticker-posts

Musuh Memberikan Kita Kesempatan


                                             


Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-16 ini ialah: Musuh Memberikan Kita Kesempatan. Seorang siswa SMA mendapatkan pujian dan hadiah dari orang tuanya karena mendapatkan nilai-nilai rapor yang bagus. Padahal semua di dalam keluarga masih mengingat, bahwa nilai prestasinya di waktu permulaan sekolah jauh dari harapan. Ia bahkan memiliki sejumlah nilai merah.

 

Mengapa ia berubah begitu cepat dengan prestasinya itu setelah naik kelas dua dan kelas tiga? Apakah ia bermain curang pada waktu ujian demi mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan umum yang selalu ditujukan kepadanya. Kepada semua yang bertanya, siswa tersebut menjawab dengan sangat bijaksana, katanya: "Setiap temanku mendapat nilai lebih baik dari pada aku, aku selalu tertantang untuk menjadi seperti dia, bahkan harus melebihi dia." Ia tetap mengikuti prinsip itu selama belajar di SMA.

 

Pengalaman si remaja itu merupakan sebuah contoh kompetisi yang sehat. Ada juga kompetisi atau perlawanan yang tidak sehat, yang melalui cara yang tidak baik dan dengan tujuan yang tidak baik pula. Di dalam setiap kompetisi, masing-masing pihak yang bersaing menganggap lawannya sebagai musuh. Ada musuh yang menjadi teman persaingan atau perjuangan, sehingga kita dapat dibantu untuk meraih kemajuan dan kesuksesan. Musuh dalam kualitas seperti ini adalah musuh yang baik, yang memberikan kita kesempatan untuk menjadi lebih baik.

 

Tetapi ada musuh yang menjadi lawan mematikan, yang karena didasari oleh kebencian, marah dan iri hati, sehingga kita tidak mendapatkan bantuan untuk maju, tetapi sebaliknya kerugian dan bahkan kebinasaan. Secara kodrati dan mengikuti akal sehat, kita ingin memiliki musuh yang baik. Tuhan sendiri termasuk dalam kategori musuh kita yang baik. Kita adalah orang-orang yang berdosa. Setiap menyadari diri sebagai orang berdosa, kita harus dapat melihat Tuhan sebagai musuh kita yang baik, yang sabar terhadap kita dan menyediakan segala kesempatan supaya kita dapat bertobat dan kembali kepada-Nya.

 

Perumpamaan tentang hidup berdampingan antara penabur benih dan musuhnya yaitu penabur lalang, kemudian antara benih yang tumbuh bersama dengan musuhnya lalang, sangat jelas mengajarkan kita tentang peran musuh yang membantu kita di dalam hidup ini. Anggota keluarga sendiri, teman atau orang yang tidak kita kenal dapat menjadi musuh-musuh kita yang baik. Bahkan jika kita memang tidak dapat menghindari adanya musuh yang tidak baik atau yang mematikan, ini merupakan juga pengalaman Tuhan Yesus sendiri dan para martir yang sudah mendahului kita. Musuh yang demikian membuka kesempatan bagi kita untuk meminum piala penderitaan seperti Yesus Kristus. Dalam hal ini, kita sepantasnya bersyukur dan mendoakan musuh-musuh kita.  ***Pastor Peter Tukan, SDB 

 


Posting Komentar

0 Komentar