Unordered List

6/recent/ticker-posts

Kekuatan Tenang dari Kerendahan Hati


                                                


Orang-orang Farisi pergi dan bersekongkol melawan Yesus untuk membunuh-Nya. Ketika Yesus menyadari hal ini, Ia meninggalkan tempat itu. Banyak orang mengikuti-Nya, dan Ia menyembuhkan mereka semua, tetapi Ia memperingatkan mereka agar tidak memberitakan tentang Dia. Matius 12:14-16

Bagi jiwa-jiwa yang mengasihi Tuhan dan bersatu dengan-Nya, Injil hari ini mengungkapkan pelajaran mendalam tentang menghadapi perlawanan. “Orang-orang Farisi pergi dan berunding melawan Yesus untuk membunuh-Nya.” Mengapa? Karena penafsiran mereka yang kaku terhadap hukum Sabat tentang istirahat. Tetapi Yesus, sebagai Anak Allah, dalam persatuan dengan Bapa dan Roh Kudus, adalah asal mula hukum itu. Sabat dimaksudkan untuk mengingatkan akan istirahat Allah setelah enam hari penciptaan—istirahat kontemplatif di mana orang-orang merenungkan kebaikan Allah.

Orang-orang Farisi telah mengubah hari Sabat menjadi kewajiban yang memberatkan, tugas yang teliti namun hampa. Yesus, Pencipta dan Tuhan dari hari Sabat, melihatnya dengan cara yang sangat berbeda. Perbuatan amal tidak boleh ditahan—bahkan pada hari Sabat sekalipun. Karena "pelanggaran" menyembuhkan seorang pria dengan tangan yang lumpuh pada hari Sabat, orang-orang Farisi mulai merencanakan pembunuhan Yesus.

Ketika Yesus menyadari hal ini, Ia mundur dari tempat itu. Mundurnya Ia bukanlah karena rasa takut, melainkan karena kelembutan hati—suatu kebajikan yang sering disalahpahami di dunia kita. Kelembutan hati menurut Alkitab bukanlah kelemahan atau rasa takut; melainkan kuasa yang terkendali sempurna. Itu adalah kekuatan yang dikendalikan oleh hikmat dan kasih. Yesus memiliki semua kuasa namun memilih untuk menahan diri. Ia bisa saja memanggil pasukan malaikat untuk menghancurkan musuh-musuh-Nya, tetapi sebaliknya, Ia dengan tenang menjauh. Waktu-Nya belum tiba.

Kelembutan ilahi ini memungkinkan Yesus untuk melanjutkan misi-Nya dengan tekad yang tenang. Banyak orang mengikuti-Nya, dan Ia menyembuhkan mereka semua, membawa kesembuhan dan pemulihan bagi kehidupan yang hancur. Pada saat ini, kita melihat kekuatan Yesus yang tenang terungkap dengan sempurna. Ia tidak datang untuk berperang melawan para pemimpin sinagoge, tetapi untuk mendirikan Kerajaan kasih karunia dan kebenaran.

Sesuai dengan nubuat Yesaya, Yesus menarik hati kepada diri-Nya dalam keheningan dan belas kasihan. “Bulu yang patah”—rapuh, bengkok, dan tampaknya tidak berharga—Ia tidak akan mematahkannya. “Sumbu yang hampir padam”—berkedip-kedip, hampir habis—Ia tidak akan memadamkannya. Sebaliknya, Ia menyembuhkan dan menyalakan kembali, dengan sabar menuntun keadilan menuju kemenangan (bdk. Matius 12:18–21 ).

Pertimbangkan misi Anda sendiri dan penentangan yang Anda hadapi. Apakah rekan kerja mengejek praktik Katolik Anda—mungkin puasa Anda pada hari Jumat atau meluangkan waktu untuk berdoa setiap hari? Apakah anggota keluarga mengabaikan komitmen Anda terhadap ajaran Gereja tentang perkawinan, seksualitas, atau kesucian hidup? Apakah teman-teman mempertanyakan dedikasi Anda untuk melayani kaum miskin sebagai "waktu yang terbuang" yang dapat digunakan untuk memajukan karier Anda?

Kita masing-masing dipanggil untuk menanggapi seperti yang dilakukan Kristus—dengan kerendahan hati yang mencerminkan kekuatan sejati. Dengan penuh doa, renungkan apakah ini "saatnya" Anda untuk menderita teguran, atau apakah Anda dipanggil, seperti Kristus dalam Injil hari ini, untuk berpaling dari permusuhan dan fokus pada orang-orang yang Allah tarik kepada diri-Nya melalui kesaksian Anda.

Renungkanlah hari ini setiap penentangan yang Anda hadapi saat Anda berupaya memenuhi kehendak Tuhan. Tidak setiap pertempuran harus diperjuangkan hari ini. Kerendahan hati dan kelembutan seringkali mengajak kita untuk mundur dengan tenang agar kita dapat membangun fondasi Kerajaan Allah di hati orang lain. Tentu saja, saat Salib akan tiba bagi kita masing-masing. Ketika saat itu tiba, kita harus menerimanya dengan kasih. Tetapi sampai saat itu, kita mengikuti Yesus dalam membedakan, mendengarkan, dan mengasihi—bahkan dalam keheningan.

Tuhan yang Maha Bijaksana, meskipun kasih-Mu ditentang oleh orang-orang Farisi, Engkau tidak selalu berkonfrontasi dengan mereka. Terkadang Engkau berbicara; di lain waktu, Engkau menarik diri untuk melanjutkan misi-Mu dalam keheningan. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, hati yang bijaksana, agar aku tahu kapan aku dipanggil untuk berdiri teguh dalam kebenaran dan kapan aku harus merangkul keheningan yang rendah hati. Semoga aku hanya berusaha melakukan kehendak-Mu, agar Kerajaan kasih karunia-Mu dapat lebih sepenuhnya ditegakkan di dalam dan melalui hidupku. Yesus, aku percaya kepada-Mu. Amin. ***

Posting Komentar

0 Komentar