Ursula Penaten Kelo adalah sosok ibu sederhana yang membangun kehidupan keluarganya melalui kerja keras dan ketekunan. Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Sejak kecil, ia sebenarnya memiliki cita-cita menjadi seorang perawat. Namun, keadaan keluarga dan pemikiran orang tua pada masa itu membuat Ursula harus mengubur cita-citanya. Setelah menamatkan pendidikan di SD Katolik Honihama pada tahun 1982, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang SMP karena diminta tetap tinggal di kampung untuk menjaga dan merawat kedua orang tuanya.
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan begitu besar.
Bahkan, ketika harapannya tidak terwujud, Ursula sempat menangis karena merasa
cita-citanya harus berhenti. Sekitar tahun 1987, keluarga dari pihak ibunya
yang tinggal di Jakarta datang berlibur ke Witihama. Mereka sebenarnya ingin
membawa Ursula ke Jakarta dan menyekolahkannya agar kelak dapat memperoleh masa
depan yang lebih baik. Namun, lagi-lagi orang tuanya belum mampu melepaskan
Ursula pergi jauh dari Honihama. Kesempatan itu akhirnya hanya menjadi sebuah
kenangan yang mungkin mengubah perjalanan hidupnya apabila saat itu ia ikut ke
Jakarta.
Meski tidak dapat melanjutkan pendidikan, Ursula tidak
menyerah pada keadaan. Sebagai seorang remaja, ia aktif dalam Karang Taruna
Kakan Dike Arin Sare (Kadiare), sebuah wadah kaum muda yang mengembangkan diri
melalui kegiatan musik dan olahraga. Ia bahkan menjadi penyanyi dalam kelompok
Sinar Remaja Band yang dimotori oleh kakaknya, Yos Tokan. Bersama kelompok
tersebut dan di bawah asuhan Josef Ola Beda, Ursula pernah tampil di berbagai
tempat, bahkan hingga ke Pulau Lembata.
Namun, ketika membangun keluarga bersama suaminya, Gabriel
Luli, Ursula menemukan jalan lain untuk memperjuangkan kehidupan keluarganya.
Ia memilih berusaha melalui kegiatan ekonomi sederhana. Sejak tahun 1991, ia
mulai membuat dan menjual berbagai jenis kue, seperti donat, roti goreng, dan
kue pintal. Bagi Ursula, membuat kue bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan
uang, tetapi menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus
mempersiapkan masa depan kelima anaknya.
Setiap hari, Ursula bangun sekitar pukul 04.00 dini
hari. Ia menyiapkan tepung, minyak goreng, dan bahan-bahan lainnya sebelum
mulai membuat kue. Setelah semuanya siap, ia membawa dagangannya untuk dijual.
Awalnya kue-kue tersebut dititipkan kepada pedagang yang sudah dikenalnya.
Namun, setelah menghitung keuntungan, ia memilih memasarkannya sendiri dengan
berjalan dari tempat ke tempat. Baginya, tidak ada alasan untuk merasa malu
selama pekerjaan yang dilakukan halal dan dapat membantu memenuhi kebutuhan
keluarga.
"Kalau malu, kapan mempunyai uang? Usaha dan
terus berusaha, itu cara berpikir saya," demikian prinsip yang
dipegang Ursula.
Perjuangan itu dijalani ketika ia bersama suaminya
membesarkan lima orang anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. Kehidupan
keluarga tidak selalu berlimpah. Bahkan, salah seorang putrinya masih mengingat
bagaimana dahulu satu telur harus dibagi menjadi lima bagian untuk kelima anak.
Namun, keterbatasan tersebut justru menjadi kekuatan bagi Ursula dan suaminya
untuk terus bekerja keras. Suaminya juga pernah bekerja hingga ke Malaysia
Barat demi membantu membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Perlahan, perjuangan itu mulai membuahkan hasil. Anak
pertama berhasil menyelesaikan pendidikan hingga menjadi sarjana di UNDANA
Kupang. Setelah lulus, ia sempat bekerja sebagai pengajar di SMKN I Witihama.
Namun, karena suatu alasan, ia memilih berhenti dari pekerjaannya dan kemudian
beralih menjadi pengusaha bengkel di kampung. Sebagai seorang ibu, Ursula
sempat merasa stres melihat anaknya meninggalkan pekerjaan sebagai guru. Namun,
ia akhirnya menerima keputusan tersebut karena percaya bahwa setiap anak berhak
menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Kini, Ursula dapat melihat hasil dari perjuangannya.
Kelima anaknya telah menempuh pendidikan hingga tingkat SMA/SMK dan mulai
membangun kehidupan masing-masing. Anak keduanya bahkan berada di Jakarta dan
siap bekerja di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Ursula tidak
menuntut anak-anaknya untuk membalas semua perjuangan yang telah dilakukan. Ia
hanya berharap kelima anaknya dapat hidup bahagia, mandiri, dan mampu menentukan
masa depan mereka sendiri.
Perjalanan Ursula Penaten Kelo menjadi bukti bahwa usaha
kecil yang dilakukan dengan tekun dapat memberikan perubahan besar bagi sebuah
keluarga. Dari dapur sederhana, dari bangun pukul empat pagi, dan dari langkah
kaki menjajakan kue, ia perlahan membuka jalan bagi masa depan anak-anaknya.
Bagi Ursula, keberhasilan bukan tentang memiliki banyak
harta atau mendapatkan sesuatu dari anak-anak. Kebahagiaan terbesar adalah
melihat anak-anaknya tumbuh, memperoleh pendidikan, bekerja, dan mampu memenuhi
kebutuhan hidup mereka sendiri. Ia adalah ibu sederhana yang memilih untuk
terus berjuang ketika keadaan tidak berpihak kepadanya.
Kisah Ursula mengajarkan bahwa keterbatasan pendidikan,
keadaan ekonomi, dan kegagalan meraih cita-cita tidak harus menjadi alasan
untuk menyerah. Dengan kerja keras, keberanian, dan ketekunan, seseorang tetap
dapat menciptakan masa depan yang lebih baik. Usaha kue yang dimulainya sejak
tahun 1991 mungkin terlihat sederhana, tetapi dari usaha itulah tumbuh harapan
besar: masa depan lima anak yang lebih baik daripada kehidupan yang
pernah ia jalani.
Pewawancara:
Conrad Mangu Bahy
.jpeg)
0 Komentar