Unordered List

6/recent/ticker-posts

Ketika PWK St. Monika Bertemu, Ada Sukacita dan Kekuatan dalam Kebersamaan

 

                                    


                                                        Anggota Warakawuri Katolik 

TANGERANG, Gagas Indonesia Satu.com

Suara lagu-lagu rohani Katolik terdengar dari sebuah rumah di Kedaung, Neglasari, Tangerang, Sabtu (5/9/2026). Empat belas anggota Perhimpunan Warakawuri Katolik (PWK) St. Monika dari sejumlah paroki tampak bernyanyi dengan penuh sukacita.

Di tengah usia yang telah memasuki 60 hingga 70 tahun, wajah-wajah mereka justru memancarkan keceriaan. Sesekali terdengar tawa dan sapaan akrab. Tidak tampak kesan bahwa mereka sedang menjalani kehidupan dalam kesendirian setelah ditinggalkan pasangan.

Hari itu, anggota PWK dari Paroki Kemakmuran, Cijantung, Gonzaga, dan Bartolomeus berkumpul di rumah Robertha Sri Subekti. Mereka datang bukan sekadar untuk bertemu, melainkan untuk berbagi cerita, mendengarkan pengalaman satu sama lain, dan saling menguatkan.

Cecilia Johana, anggota PWK St. Monika dari Paroki Kemakmuran, mengatakan pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari rekoleksi yang mereka ikuti di Samadi, Jakarta Timur, beberapa waktu sebelumnya.

Rekoleksi itu meninggalkan kesan mendalam. Dari sana muncul kesepakatan untuk tidak berhenti pada kegiatan rekoleksi saja. Mereka ingin terus menjaga persaudaraan dengan bertemu di tempat dan waktu yang berbeda.

“Setelah rekoleksi di Samadi, kami merasa perlu bertemu lagi. Kami ingin terus berbagi pengalaman dan saling menguatkan,” ujar Cecilia.

Sekitar pukul 10.00 WIB, anggota PWK St. Monika tiba di kediaman Sri Subekti. Mereka disambut hangat oleh Sri Subekti bersama putrinya.

Tidak Sendiri dalam Kesendirian

PWK menjadi ruang perjumpaan bagi para warakawuri Katolik yang sedang melanjutkan perjalanan hidup setelah kehilangan pasangan. Kehilangan tentu meninggalkan kesedihan. Namun, kebersamaan membuat mereka menyadari bahwa hidup tidak harus dijalani seorang diri.

Dalam komunitas ini, pengalaman hidup yang berbeda-beda justru menjadi kekuatan. Ada yang datang dengan cerita tentang keluarga, anak, cucu, pekerjaan, kesepian, kegembiraan, maupun berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka saling mendengarkan tanpa menghakimi. Ada yang memberi semangat. Ada yang sekadar menjadi pendengar. Ada pula yang membagikan pengalaman hidupnya sebagai pelajaran bagi anggota lainnya.

Ada sukacita. Ada kekecewaan, itu pasti. Namun, kita tetap setia menjalani hidup dengan rasa syukur yang mendalam,” ungkap Sri Subekti.

Pernyataan itu menggambarkan semangat para anggota PWK. Kehilangan pasangan bukan berarti kehilangan harapan. Kesendirian bukan berarti harus menjalani semuanya sendirian.

                                            



Berbagi Cerita, Saling Meneguhkan

Pertemuan semakin menarik ketika Theresia Tri Setijawati, putri bungsu Sri Subekti, memandu acara. Guru Bimbingan Konseling di Strada Tangerang itu mengajak para peserta memperkenalkan diri dan membagikan pengalaman hidup.

Satu per satu peserta menyampaikan cerita berdasarkan pernyataan yang diberikan oleh pemandu.

Dari sharing tersebut terlihat bahwa masing-masing anggota memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Namun, mereka mempunyai satu kesamaan: sama-sama membutuhkan ruang untuk didengarkan dan dikuatkan.

Sri Subekti sendiri membagikan kisahnya sebagai ibu yang membesarkan tiga anak. Ketiga anaknya kini telah bekerja dan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi dirinya. Bahkan, ia telah memiliki cucu.

Saat ini Sri Subekti tinggal bersama putrinya yang bekerja sebagai guru Bimbingan dan Konseling. Ia bersyukur melihat anak-anak yang dahulu dibesarkannya kini telah memiliki kehidupan masing-masing.

Theresia Tri pun merasa kehidupannya memiliki banyak kemiripan dengan sang ibu.

“Saya seperti ‘fotokopi’ ibu. Ibu menjadi guru, saya juga menjadi guru. Saya menjadi guru BK dan mengajar agama di sekolah negeri. Saya bersyukur karena apa yang dilakukan ibu dahulu, sekarang saya jalani dengan penuh kesetiaan,” tuturnya.

PWK Mengajarkan Arti Persaudaraan

Pengalaman lain datang dari Cecilia Johana.Keterlibatannya dalam PWK St. Monika berawal dari kebiasaannya mengikuti rapat-rapat yang dilaksanakan di rumah Bu Karim, ketua sekaligus pendiri PWK. Semula hanya hadir sebagai peserta rapat, Cecilia kemudian tertarik untuk bergabung dan akhirnya menjadi bagian dari kepengurusan PWK St. Monika.

Lulusan SPG Santa Maria Jakarta itu bahkan pernah menjadi Korcab Paroki Kemakmuran, Jakarta. Menurut Cecilia, bergabung dalam PWK membuat wawasan dan cara pandangnya terhadap kehidupan semakin berkembang.Ia menyadari bahwa persoalan hidup akan terasa berbeda ketika seseorang mempunyai tempat untuk bercerita.

“Setelah menjadi anggota PWK, wawasan dan cara pandang saya bertumbuh. Dalam kesendirian, saya mendengarkan sharing anggota lain. Saya merasa bahwa kesulitan seberat apa pun, kalau kita bisa sharing dan didengarkan oleh teman, kita menjadi lebih kuat,” katanya.

Bagi Cecilia, kekuatan itu bukan hanya berasal dari sesama anggota. Ada keyakinan bahwa Tuhan pun mendengarkan setiap keluhan dan pergumulan manusia.

“Itulah rasanya ketika PWK St. Monika bertemu. Pasti bercerita dan saling meneguhkan,” ungkapnya.

Jangan Menjalani Hidup Sendirian

Pertemuan PWK St. Monika di Kedaung memberikan pesan sederhana tetapi kuat: setelah kehilangan pasangan, kehidupan tetap harus dilanjutkan dengan harapan.

Memang tidak semua hari mudah. Ada saat-saat penuh sukacita, tetapi ada pula rasa kecewa, sepi, dan kehilangan. Namun, kehadiran komunitas membuat setiap anggota memiliki teman untuk berbagi.

PWK bukan tempat untuk meratapi masa lalu. PWK menjadi ruang untuk menatap masa depan dengan hati yang lebih kuat.

Di dalamnya ada persahabatan. Ada persaudaraan. Ada pengalaman hidup yang dapat dibagikan. Ada telinga yang bersedia mendengarkan. Ada tangan yang siap menguatkan. Dan yang paling penting, ada kesadaran bahwa setiap orang tetap berharga dan tidak berjalan sendirian.

Karena itu, bagi para warakawuri Katolik yang selama ini mungkin merasa sendiri, PWK dapat menjadi rumah persaudaraan untuk melanjutkan perjalanan hidup bersama.

Tidak perlu menunggu memiliki cerita yang sempurna untuk bergabung. Tidak harus datang dengan membawa solusi atas semua persoalan. Cukup datang sebagai diri sendiri, membuka hati, dan bersedia bertemu dengan sesama.

Sebab terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat panjang, melainkan seorang teman yang mau duduk bersama, mendengarkan cerita, tertawa bersama, berdoa bersama, dan berkata:“Kita tidak sendirian. Mari kita jalani hidup ini bersama.”

                                                                                                                  Konradus R. Mangu

Posting Komentar

0 Komentar