Unordered List

6/recent/ticker-posts

Witihama "Taan Tou" Jakarta; Merajut Persatuan, Menguatkan Persaudaraan Warga Witihama di Perantauan

                                         

JAKARTA, Gagas Indonesia Satu — Gagasan untuk membangun sebuah wadah persatuan bagi warga Witihama di Jakarta dan sekitarnya mulai menemukan bentuk. Wadah yang kemudian diberi nama “Witihama Taan Tou” ini digagas sebagai ruang bersama untuk mempererat persaudaraan, membangun kepedulian, serta menjadi jembatan bagi warga Witihama di perantauan.

 Witihama merupakan sebuah wilayah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu dikenal sebagai Perwakilan Witihama, wilayah ini kini telah berkembang menjadi Kecamatan Witihama yang menaungi 14 desa.

 Seiring perkembangan zaman, semakin banyak warga Witihama yang merantau dan mengadu nasib di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan wilayah Jabodetabek lainnya. Kehadiran berbagai ikatan keluarga dan paguyuban warga Witihama selama ini menjadi bukti kuatnya ikatan persaudaraan di tanah rantau.

 Namun, keberadaan berbagai kelompok tersebut juga melahirkan gagasan untuk menghadirkan sebuah wadah yang dapat mengakomodasi seluruh warga Witihama tanpa membedakan asal desa maupun kelompok keluarga.

                                            

 Ini berawal dari pertemuan di Bumi Serpong Damai (BSD).Gagasan pembentukan Witihama “Taan Tou” bermula dari sebuah pertemuan di Bumi Serpong Damai (BSD), di rumah Kamilus Inglan. Dalam pertemuan tersebut, sembilan orang warga Witihama berdiskusi mengenai pentingnya membangun wadah bersama yang dapat menjadi rumah besar bagi seluruh warga Witihama di perantauan.

 Dominikus Daeng Raya menjelaskan, pertemuan awal, 18 Juli 2026  di BSD tersebut kemudian melahirkan kesepakatan untuk mengajak lebih banyak warga Witihama terlibat dalam pembentukan wadah persatuan tersebut.

 “Tim yang bertemu di BSD sepakat untuk mengundang warga Witihama lainnya agar hadir dalam pertemuan lanjutan pada bulan Agustus. Tujuannya untuk merealisasikan pembentukan wadah ini,” jelas Domi Daeng, salah seorang senior warga Witihama di Jakarta.

Tim sembilan tersebut terdiri dari Agus Demon Kebon (Lamablawa), Dominikus Daeng Raya (Orongbele), Kamilus Inglan (Lamaleka), Theo Sulong (Lamalaka), Yulius Lamanepa (Pledo), Herman Daton (Balaweling), Eta B. (Pledo), Anselmus Ulin Take (Pledo), dan Kasmin Gega (Pledo).

 Semangat persaudaraan menguat di Bekasi. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui pertemuan warga Witihama yang berlangsung pada 30 Agustus 2026 di Bekasi. Sekitar 30-an warga Witihama hadir dan ikut memberikan gagasan untuk membangun wadah bersama tersebut.

Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh persaudaraan. Tidak hanya membicarakan struktur organisasi, para peserta juga mendiskusikan berbagai kegiatan yang dapat mempererat hubungan antarwarga sekaligus memberikan manfaat nyata bagi anggota.

Sejumlah bidang mulai menjadi perhatian, antara lain sosial, kesenian, olahraga, kepedulian terhadap sesama, serta pemberdayaan warga Witihama di perantauan.

Semangat yang muncul dari pertemuan tersebut adalah bagaimana menjadikan Witihama “Taan Tou” bukan sekadar organisasi, tetapi rumah bersama bagi seluruh warga Witihama di tanah rantau.

Olahraga dan seni menjadi ruang kebersamaan. Salah satu gagasan yang mulai dipersiapkan adalah kegiatan olahraga, khususnya futsal antarwarga Witihama.

Rencananya, kegiatan tersebut akan mempertemukan kesebelasan dari desa-desa yang berada di wilayah Witihama. Agenda yang direncanakan berlangsung pada September mendatang itu diharapkan bukan semata-mata menjadi kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan mempererat hubungan antargenerasi.

Selain olahraga, bidang kesenian dan kegiatan sosial juga dipandang penting untuk dikembangkan. Potensi warga Witihama di perantauan diharapkan dapat dihimpun sehingga berbagai bakat, kreativitas, dan kemampuan warga dapat menjadi kekuatan bersama.

Wadah ini menjadi jembatan bagi peranau baru. Salah satu isu penting yang mengemuka dalam pertemuan adalah keberadaan warga Witihama yang baru datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Witihama “Taan Tou” diharapkan dapat menjadi jembatan informasi, komunikasi, dan jaringan bagi para perantau baru. Wadah ini diharapkan dapat membantu warga mendapatkan informasi mengenai peluang kerja maupun usaha yang sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Dengan adanya jaringan bersama, warga yang baru datang ke Jakarta diharapkan tidak merasa sendirian. Mereka dapat memperoleh dukungan, informasi, dan pendampingan dari sesama warga Witihama yang telah lebih dahulu berada di perantauan.


                                            

Gagasan ini sekaligus menunjukkan bahwa semangat persatuan yang dibangun bukan hanya untuk berkumpul, tetapi juga untuk saling membantu dan menghadirkan manfaat nyata bagi sesama.

Ketua terpilih menyusun kepengurusan. Dalam pertemuan di Bekasi, pembahasan kemudian mulai mengerucut pada sosok yang dinilai mampu menggerakkan wadah tersebut.

Peserta menginginkan figur yang enerjik, komunikatif, mampu bekerja sama, serta terbuka membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

Sejumlah nama kemudian diusulkan untuk mengisi kepengurusan inti, yakni Agustinus Demon Kebon sebagai Ketua I, Kamilus Inglan sebagai Ketua II, Ruben Tokan, serta Petrus Kanisius sebagai Bendahara I dan Bendahara II.

                                                    

Susunan kepengurusan lainnya akan disusun kemudian oleh ketua terpilih bersama tim.   Kepengurusan tersebut diharapkan mampu menjalankan amanah warga dan menerjemahkan berbagai gagasan yang telah muncul menjadi program kerja yang konkret dan bermanfaat.

Natal bersama menjadi momentum pengukuhan.  Sebagai bagian dari agenda ke depan, Witihama “Taan Tou” merencanakan Natal Bersama pada Januari 2027 di Bumi Serpong Damai (BSD), bertempat di kediaman Ketua II, Kamilus Inglan.

Natal Bersama tersebut akan menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan warga Witihama sekaligus direncanakan sebagai kesempatan untuk mengukuhkan kepengurusan Witihama “Taan Tou”.

Momentum tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi para pengurus untuk mulai bekerja dan melayani seluruh warga Witihama di perantauan.

 Satu Witihama, satu persaudaraan. Terbentuknya Witihama “Taan Tou” merupakan langkah baru dalam memperkuat persatuan warga Witihama di Jakarta dan sekitarnya.

Wadah ini diharapkan tidak menjadi pesaing bagi ikatan keluarga maupun paguyuban yang telah ada. Sebaliknya, Witihama “Taan Tou” diharapkan menjadi payung kebersamaan yang dapat mempertemukan berbagai kelompok dan potensi warga dalam semangat persaudaraan.

 Perbedaan asal desa, keluarga, profesi, dan latar belakang tidak menjadi penghalang. Di tanah rantau, semuanya dipersatukan oleh satu identitas dan satu akar: Witihama.

Dari sini, semangat “Taan Tou” diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama untuk saling menjaga, saling membantu, membuka jaringan, mengembangkan potensi, serta membawa nama baik Witihama di tanah rantau.

                                                        

 Witihama “Taan Tou” bukan sekadar wadah berkumpul. Ia adalah rumah persaudaraan, ruang kepedulian, dan jembatan untuk tumbuh bersama.Satu Witihama, satu hati, satu persaudaraan. Dari tanah rantau, bersama membangun masa depan. ***

                                                                                                     Konradus R. Mangu

  

Posting Komentar

0 Komentar