Unordered List

6/recent/ticker-posts

HANYA DENGAN MENYANGKAL DIRI DAN MEMIKUL SALIB

                                


Selagi Dia berbicara kepada para murid-Nya, Yesus membuat jelas bahwa hanya dengan menyangkal diri dan memikul salib-lah kita akan mampu menerima kehidupan-Nya di dalam diri kita. Mengapa? Karena ada suatu perbedaan besar antara pemahaman manusiawi tentang tingkah laku yang baik dan standar kekudusan ilahi. Dalam bacaan Injil hari ini, misalnya Petrus memahami sebagian pemikiran Allah ketika dia berkata: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16), namun di sisi lain dia masih tidak mampu menerima aspek kehendak Allah lebih lanjut ketika dia “menegur” Yesus yang baru saja bernubuat tentang kematian-Nya di atas kayu salib.


Santo Paulus sering berbicara mengenai ajaran Yesus bagi para murid-Nya untuk memikul salib mereka. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma yang menjadi bacaan kedua hari ini, rasul ini menulis: “Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna” (Rm 12:1-2).


Sebagaimana Petrus, Paulus juga belajar melalui pengalaman-pengalaman praktis bahwa akal budinya dan tindakan-tindakannya harus diselaraskan dengan kerendahan hati atau kedinaan, ketaatan, dan rasa percaya yang dimanifestasikan oleh Yesus di bukit Kalvari.


Setiap hari Roh Kudus mencari peluang untuk mengubah diri kita sedikit demi sedikit, dengan mengangkat pemikiran-pemikiran natural dan manusiawi kita agar sampai kepada suatu cara pemikiran dan bertindak-tanduk secara ilahi. Ia tidak hanya hadir dan bekerja serta mendorong kita pada saat-saat kita berdoa. Ia juga mendorong kita agar dapat terus maju, teristimewa melalui pencobaan-pencobaan hidup. Segala pencobaan dan konflik sebenarnya mengungkapkan di area-area mana saja kita tidak mampu untuk mengasihi dan melayani, atau mengampuni sebagaimana telah dicontohkan oleh Yesus sendiri. Ada dalil sederhana yang tidak pernah boleh kita lupakan: Kita tidak akan pernah dapat mencerminkan kehidupan dan kepribadian Yesus tanpa pertolongan dari Roh Kudus!


Ketika kita siap untuk melawan serta mengalahkan kelemahan-kelemahan kita masing-masing, janganlah takut atau berkecil hati. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk bergegas menghadap Allah dan mohon pertolongan-Nya. Pada kesempatan itu kita dapat mohon kepada-Nya untuk mematikan segala sesuatu dalam diri kita yang bertentangan dengan Yesus, setiap oposisi terhadap panggilan-Nya bagi untuk mengasihi tanpa pamrih. Kemudian, apabila kita melihat terjadi perubahan dalam hati kita – betapa kecil pun perubahan itu, marilah kita bersukacita! Dengan mempersatukan diri kita dengan kematian Yesus, maka kita pun akan menyerupai Dia dalam kehidupan-Nya yang dibangkitkan dan kekal.

                                                                                                     (F.X. Indrapradja, OFS)



Posting Komentar

0 Komentar