Thomas A. Sogen bersama staf guru dan siswa-siswi
Gagas Indonesia Satu.com
Dalam
lawatan ke tanah kelahirannya di Pulau Solor, pegiat literasi Provinsi Nusa
Tenggara Timur, Thomas Akaraya Sogen, selalu menyisihkan waktu untuk melakukan
safari literasi ke sejumlah sekolah di daerah itu. Setelah beberapa sekolah di
wilayah utara pulau tersebut, Senin, 31/8, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat
Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) ini berkesempatan mengunjungi SMA
Negeri 1 Solor Selatan di Desa Kalike Aimatan. Ia disambut hangat oleh seluruh
warga sekolah.
Para
siswa dan guru ternyata sudah menantinya di aula sekolah yang tahun ini berusia
12 tahun itu. Di sana mereka berdiskusi dan berbagi cerita tentang dunia
baca-tulis, dunia literasi. Acara dibuka oleh kepala sekolah, Yohanes Parinbala
Kukun, dan dipandu oleh Yustina Daniwaen, salah seorang guru di sekolah itu.
Sebagai
pimpinan sekolah, Anis Kukun berterimakasih bisa mendapatkan kesempatan untuk
berdiskusi soal literasi sebagai salah satu bagian integral dalam dunia pendidikan
di sekolah. Karena itu, ia mengajak seluruh warga sekolah untuk mendapatkan
sebanyak mungkin hal langsung dari pegiat literasi yang adalah putra asli
daerah ini untuk kemajuan diri dan lembaga ini di masa mendatang. “Mari bapak
ibu guru dan anak-anak, manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk
memperkaya informasi dan wawasan agar kemampuan diri kita diasah, juga untuk
pengembangan lembaga ini pada masa mendatang”, ujarnya.
Thomas
A. Sogen mengawali
pembicaraannya dengan menceritakan pengalaman awalnya mulai menulis ketika
masih duduk di bangku SMP kelas II. Dirinya penasaran karena sering membaca
majalah yang menurunkan berita dari daerah lain, tanpa ada berita lokal dari
daerah pulau Solor. Ia pun berani menulis dengan tulisan tangan tentang
peristiwa kunjungan para biarawan/biarawati asal Solor ke semua stasi kala itu
dan dikirimkan oleh om kandungnya melalui kantor pos di Larantuka ke Ende,
tempat majalah itu terbit. “Tak banyak berharap untuk dimuat dan bahkan dilupakan
begitu saja,” kenangnya. Namun sekitar sebulan kemudian, berita itu dimuat dan
baru dibaca di kampungnya 2 bulan kemudian. Ia membacanya di rumah para guru SD
di kampung yang berlangganan majalah tersebut. Ini ternyata menjadi pemantik
bagi dirinya hingga terus mencintai dunia menulis hingga kini.
Ketua
Agupena Wilayah NTT dua periode ini mengungkapkan rasa bangga berada di sekolah
yang kegiatan literasinya sudah lumayan berkembang. Karena, menurutnya, tidak
semua lembaga pendidikan kita memiliki komitmen untuk terus membumikan literasi
dengan mengikuti berbagai even penulisan baik di tingkat lokal, regional,
maupun nasional. “Saya bangga berada di sekolah yang memiliki komitmen
berliterasi termasuk mengikuti sejumlah kegiatan lomba penulisan”, ujarnya
penulis buku kisah inspirasi berjudul Anak Kampung ke UGM ini. Pihaknya bahkan
memuji para siswa yang mendapat nominasi dalam even-even tersebut, termasuk
yang sudah menerbitkan cerpen dan dalam proses menuliskan sebuah novel.
Kepada
para siswa yang telah mengikuti berbagai even lomba namun belum masuk dalam
nominasi, Thomas Sogen berharap agar pengalaman tersebut dapat dijadikan
rujukan sekaligus pelajaran berharga untuk even-even berbeda lainnya pada
kesempatan mendatang. Karya-karya yang telah dihasilkan tersebut, tambahnya,
akan bermanfaat suatu saat nanti misalnya dikompilasi untuk diterbitkan sebagai
karya bersama para peserta didik dalam bentuk buku antologi.
“Karya-karya
yang ada bukan lagi tak berguna, nanti bisa dikumpulkan dan diterbitkan dalam
buku antologi bersama, why not?”, tukas mantan pengawas SMP Kabupaten
Kupang ini memberi harap pada semua peserta yang hadir.
Di
akhir sesi diskusi dan sharing pengalaman, ia juga berharap agar para guru dan
tenaga kependidikan tetap menjadi sosok panutan dalam berliterasi bagi para
peserta didik. Jika ada kegiatan membaca bersama sebelum pelajaran dimulai,
misalnya, maka, menurutnya, sebagai guru tentu tidak sekedar mengawasi tanpa
terlibat aktif bersama para siswa. “Jangan biarkan mereka berjalan sendiri atau
sekedar mengawasi apalagi bermain game di hp; ikutlah terlibat dengan
memberi contoh”, tukasnya disambut tepuk tangan para siswa.
(Laporan: Yustina Daniwaen
K., Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Solor Selatan)

.jpeg)
0 Komentar