Oleh Grace Siahaan Njo
Setiap tanggal 2
September, Desa Sidobunder di Kebumen menyimpan ingatan tentang sebuah
pertempuran dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tujuh puluh sembilan
tahun lalu, para pelajar dan pemuda menghadapi pasukan Belanda yang menyerang
dari berbagai arah. Palagan Sidobunder menjadi bagian dari upaya menahan gerak
Belanda menuju Yogyakarta, pusat pemerintahan Republik ketika itu. Namun,
dibandingkan dengan sejumlah pertempuran besar pada masa revolusi, Sidobunder
belum banyak hadir dalam ingatan publik.
Padahal, Sidobunder
menyimpan kisah tentang generasi muda yang harus menjadi dewasa lebih cepat
karena sejarah. Salah seorang di antara mereka adalah Herman Yoseph Fernandez,
pemuda asal Larantuka, Flores Timur. Herman lahir pada 3 Juni 1925. Ketika
Palagan Sidobunder pecah pada 2 September 1947, usianya baru 22 tahun.
Sebelum menjadi
pejuang, Herman adalah anak muda dengan mimpi tentang masa depan. Setelah
menamatkan sekolah menengah di Ndao, ia ingin melanjutkan pendidikan ke
Muntilan untuk menjadi guru. Cita-cita itu membawanya ke HIK Muntilan, sekolah
guru yang turut membentuk wawasan kebangsaan, kepemimpinan, dan wataknya.
Namun, pendudukan Jepang membuat sekolah itu ditutup. Jalan hidup yang
dibayangkannya berubah. Cita-cita menjadi guru pupus, sementara masa depan
menjadi serba tidak pasti.
Herman tidak
berhenti ketika rencananya berubah. Pergolakan zaman membawanya masuk ke
perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Di Sidobunder, ia dipercaya memegang
senapan mesin Juki dan ikut menghadapi pasukan Belanda yang jauh lebih kuat.
Ketika Alex Rumambi, seorang kawan seperjuangan, tidak diketahui keberadaannya,
Herman mendapat perintah untuk mencarinya. Alex ditemukan terluka akibat
tembakan dan bayonet. Meski Alex meminta agar ditinggalkan, Herman menolak. Ia
menggendong kawannya menyeberangi sungai yang sedang banjir untuk mencari
tempat yang lebih aman.
Di tengah
pertempuran, Herman memilih tidak meninggalkan kawannya. Keputusan sederhana
itu memperlihatkan sesuatu yang melampaui keberanian di medan perang: tanggung
jawab dan kemanusiaan. Herman kemudian terluka, ditangkap, dibawa ke Gombong,
dan menghadapi pengadilan militer Belanda. Ketika ditanya memilih antara Negara
Indonesia Timur atau Yogyakarta, jawabannya tegas: “Yang kami kenal dan kami
pertahankan hanya satu, Negara Republik Indonesia!” Ia kemudian dijatuhi
hukuman mati dan dieksekusi oleh otoritas militer Belanda.
Larantuka adalah
tanah asalnya. Budaya Lamaholot membentuk akar kehidupannya. Namun, Sidobunder
menunjukkan bahwa pengabdiannya melampaui batas daerah. Bersama pemuda-pemuda
dari berbagai wilayah, Herman mengambil bagian dalam mempertahankan sebuah
republik yang pada saat itu bahkan belum genap berusia tiga tahun.
Jarak hampir
delapan dasawarsa membuat kisah seperti Sidobunder semakin jauh dari keseharian
generasi muda. Nama para pejuang mungkin tersimpan di monumen, arsip, atau buku
sejarah, tetapi belum tentu hidup dalam percakapan generasi hari ini. Ini patut
menjadi keprihatinan. Sejarah kehilangan makna jika hanya menjadi deretan
tanggal dan nama yang dihafalkan, tanpa menghadirkan manusia dan nilai di
baliknya.
Generasi muda
sekarang tentu tidak menghadapi medan perjuangan yang sama. Mereka tidak harus
memanggul senjata atau berhadapan dengan pasukan kolonial. Namun, setiap
generasi memiliki tantangannya sendiri. Anak muda hari ini tumbuh di tengah
perubahan yang cepat, ketidakpastian masa depan, derasnya arus informasi, serta
masyarakat yang semakin beragam. Dalam keadaan seperti itu, keberanian,
tanggung jawab, solidaritas, keterbukaan terhadap perbedaan, dan keteguhan
memegang nilai tetap dibutuhkan.
Di sinilah kisah
Herman dapat berbicara kepada generasi muda hari ini. Ia pernah menjadi anak
muda yang mempunyai mimpi tentang masa depan, lalu menyaksikan jalan yang
direncanakannya berubah karena keadaan. Ia tidak pernah sempat menjadi guru
seperti yang dicita-citakannya. Namun, perubahan itu tidak membuatnya berhenti
memberi arti bagi kehidupan bersama. Ketika seorang kawan terluka, ia memilih
menolong. Ketika dihadapkan pada pilihan tentang republik yang diperjuangkannya,
ia memilih untuk tetap teguh.
Generasi Herman
mempertahankan sebuah republik yang ketika itu bahkan belum genap berusia tiga
tahun. Generasi muda hari ini menerima Indonesia dalam keadaan yang sangat
berbeda. Karena itu, bentuk pengabdiannya pun tidak harus sama. Pesan yang
dapat dibawa dari Sidobunder bukanlah bahwa anak muda hari ini harus mengulang
perjuangan generasi 1947, melainkan bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab
untuk menentukan Indonesia seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi
berikutnya.
Soekarno pernah
mengingatkan dalam pidato Hari Pahlawan 10 November 1961, “Bangsa yang besar
adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Menghormati pahlawan tidak
cukup dengan membangun monumen atau mengenang nama mereka pada hari tertentu.
Penghormatan menjadi hidup ketika kisah mereka dikenal dan nilai yang
ditinggalkan dapat berbicara kepada generasi baru.
Dalam konteks
itulah pengusulan Herman Yoseph Fernandez sebagai Pahlawan Nasional memperoleh
makna yang lebih luas. Pengakuan negara bukan semata-mata penambahan sebuah
gelar, tetapi juga kesempatan menghadirkan kembali sebuah teladan ke dalam
ingatan nasional. Indonesia membutuhkan role model yang menunjukkan bahwa
keberanian dapat berjalan bersama kemanusiaan, dan kecintaan pada tanah asal
tidak membatasi pengabdian kepada bangsa.
Herman tidak pernah
sempat mewujudkan cita-citanya menjadi guru. Namun, 79 tahun setelah
Sidobunder, perjalanan hidupnya masih menyimpan pelajaran bagi generasi muda
Indonesia. Mengenalkan kembali Sidobunder dan Herman Fernandez bukan sekadar
menghidupkan masa lalu, melainkan merawat teladan untuk masa depan. ***

0 Komentar