Aulia Yeyen Ainistira
Perjalanan menuju mimpi tidak selalu dimulai dari jalan yang mulus. Bagi Aulia Yeyen Ainistira Lamanepa (19) , mimpi itu justru diawali dari gelombang laut, kapal Pelni, dan hari-hari panjang penuh kelelahan. Namun dari sanalah, langkahnya menuju ajang Puteri Persahabatan 2026 bermula.
Yeyen, demikian ia akrab disapa, merupakan gadis asal Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini tercatat sebagai finalis Puteri Persahabatan 2026 dengan nomor urut 11. Lahir pada 22 April 2007 di Witihama, Yeyen baru saja menamatkan pendidikan menengahnya di SMANSA Adonara Timur pada tahun 2025. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, tumbuh dalam keluarga sederhana dengan nilai kebersamaan yang kuat.
Kesempatan mengikuti Puteri Persahabatan 2026 bermula secara sederhana. Yeyen pertama kali mengetahui informasi pendaftaran melalui media sosial Instagram. Ketertarikannya pada dunia permodelan membuatnya ingin mencari tahu lebih jauh. Ia berdiskusi dengan seorang kakak yang pernah mengikuti ajang serupa, yang kemudian membantunya memahami proses pendaftaran hingga tahapan seleksi awal.
Dengan dukungan penuh dari kedua orang tuanya, Anwar Lamanepa dan Mardia Due Dulia, Yeyen akhirnya memantapkan diri untuk mendaftar. Setelah menyelesaikan administrasi, ia memutuskan berangkat ke Jakarta bersama sang tante. Pilihan transportasi laut menjadi satu-satunya jalan yang memungkinkan, meski harus ditempuh selama lima hari penuh.
“Perjalanannya berat, melelahkan, dan penuh keterbatasan,” ujar Yeyen mengenang. “Tapi di kapal itu saya belajar sabar, belajar kuat, dan yakin bahwa mimpi memang perlu diperjuangkan.”
Setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Yeyen merasakan perasaan campur aduk antara lelah, gugup, dan antusias. Ini merupakan kunjungan keduanya ke Jakarta, namun kali ini berbeda. Ia datang bukan sekadar sebagai pengunjung, melainkan sebagai seorang perempuan muda yang membawa harapan besar.
Tanpa menunda waktu, Yeyen langsung menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan panitia. Mulai dari pemotretan profesional, pembuatan video pengenalan diri, video bakat, hingga latihan catwalk. Ia juga mulai mempelajari bagaimana berjalan dengan percaya diri, berbicara di depan kamera, serta membawa diri di ruang publik.
Saat ini, Yeyen telah melewati seluruh tahapan awal seleksi dan dinyatakan siap mengikuti masa karantina selama tiga hari. Persiapan telah ia lakukan dengan serius, termasuk menyiapkan busana untuk malam pertama dan grand final.
Di balik semua proses tersebut, Yeyen memegang teguh makna persahabatan yang ia yakini. Baginya, persahabatan adalah ruang aman—tempat orang-orang saling berbagi tanpa tuntutan kesempurnaan. “Persahabatan itu seperti rumah singgah,” katanya. “Kita datang dengan cerita masing-masing, lalu melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih ringan.”
Dalam kehidupan sehari-hari, Yeyen menjadikan kedua orang tuanya sebagai panutan utama. Ia belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, dan rendah hati dari teladan sederhana yang ditunjukkan orang tuanya. Nilai-nilai itulah yang ia bawa dalam setiap langkah.
Saat menghadapi masalah, Yeyen memilih berhenti sejenak, menenangkan diri, dan berpikir sebelum bertindak. Ia mengaku lebih takut mengecewakan orang lain daripada mengalami kegagalan. Baginya, kepercayaan adalah hal yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
Ke depan, Yeyen juga memiliki mimpi untuk tampil di ajang internasional. Bukan demi popularitas, melainkan untuk memperluas wawasan dan membawa nilai-nilai kebaikan ke ruang yang lebih luas.
Dari Adonara Timur hingga Jakarta, dari gelombang laut hingga sorot lampu panggung, perjalanan Yeyen menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa lahir dari langkah kecil—asal dijalani dengan ketulusan dan keberanian. ( Senuken )

0 Komentar