Lucia Indah
PADA awalnya Lucia Indah merasa kurang percaya diri alias ‘pede’ dalam melakukan tugas pelayanan Prodikon. Ia mengaku kesulitan berdoa, karena kurang begitu pandai merangkai kata-kata dalam. Kosa katanya sangat minim. Sewaktu kecil sampai usia remaja di Madura – Jawa Timur ia hanya sebagai umat biasa dan tidak dikenal aktif seperti banyak orang. Kalau pun aktif hanya menjadi anggota paduan suara meski pun ia juga yakin suaranya pas-pasan saja.
‘’Saat menjadi Prodiakon periode 2023- 2026 dari kurang pede itu saya berusaha untuk melakukan terbaik. Awalnya saya sulit membuat renungan, homili tapi lama – lama saya berpikir dalam komunitas Prodiakon saya leluasa untuk terus belajar, bahkan kalau pun tidak tahu saya mesti bertanya kepada mereka yang sudah paham dalam tugas pelayanan Prodiakon,’’ kata Lucia Indah, Prodikon dari lingkungan St. Kornelius – Sepatan, Paroki Kutabumi, St Gregorius Agung.
Suatu hal yang menarik bahkan boleh dikatakan sebagai ‘keajaiban’ dalam kehidupan keluarga, ketika bergabung dalam Prodiakon semangat suaminy dalam hidup menggereja mulai berkobar-kobar, bahkan sungguh luar biasa.
Antonius Rinang adalah suami Bu Indah - - lebih dari tiga puluhan tahun telah menikah. Bersamaan dengan tugas pelayanan yang diterima Bu Indah, suaminya semakin dijamah Roh Kudus dikenal sangat aktif, dengan keterlibatannya di KEP dan latihan koor, dikenal sangat aktif termasuk dalam ibadat lingkungannya.
Kisah awal menjadi Prodiakon, ibu dua anak ini pertama kali dihubungi Pak Heribertus- - senior Prodiakon satu lingkungan dengannya. Kepadanya diminta untuk menjadi pelayan altar, membantu romo membagikan komuni kepada umat. Kendati awal measa kurang percaya diri , Indah berpikir melalui Heribertus ia sebenarnya dipanggil Tuhan untuk melayani.
Lucia Indah merasa yakin melalui pelayanan ini membawanya ke dalam hidup rohani yang tertatur. Ia menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan selalu berjalan bersama dengan Tuhan dalam suka maupun duka. Lulusan Fakultas Teknik Pertanian , salah satu universitas di Jawa Timur (Jatim) itu terus menerus belajar dari sesama teman Prodiakon sehingga membantunya dalam pelayanan.
Ibu Indah sejak awal agak sangsi dengan tugas karena fokus dengan pekerjaannya sebagai guru sebuah bimbingan belajar di Duta Garden – Tangerang. Namun setelah menjalani tugas itu, Indah merasa seakan tak merasa kesulitan karena waktu selalu diatur sehingga nyaris tak banyak absen dalam tugas pelayanan kelompok Prodiakon.
Setelah satu periode berakhir Indah terus menekuni pelayanan ini di balik kesibukannya sebagai guru bimbingan belajar. Jika ada kesulitan dalam tugas ia selalu bertanya dan terus bertanya kalau ia masih bimbang. Beruntungnya anggota yang bergabung satu kelompok bersama Bu Indah pun selalu memberikan pengarahan dan saling memberikan penjelasan.
‘’Dalam kelompok Prodiakon mungkin saya yang masih kurang ilmu tentang Katolik. Terus terang saya banyak belajar dari senior, anggota lainnya - juga ketika di rumah saya bertanya kepada suami,’’ kisah Bu Indah.
Ia menyarankan jika ada tugas yang diberikan kepadanya, jangan sampai mendadak. Berikanlah tugas sebelum hari H sehingga perlu ada persiapan yang matang. Tugas semisal memimpin ibadat lingkungan, mengambil hosti di Tabernakel saat misa atau tugas lainnya, kepada saya diberikan waktu jangan samapai mendadak karena kalau mendadak takut melakukan kesalahan sehingga ada waktu untuk melakukan latihan.
Jika ada anggapan bahwa menjalankan tugas sebagai Prodiakon sebagai ‘beban’ bagi Bu Indah, di mata dia, pelayanan ini membuatnya semakin bertumbuh dalam iman. Ia semakin dekat dengan Tuhan dan sesama. Tugas yang sering dilakukan selain memandu ibadat ia juga rajin membawa hosti untuk pelayanan bagi mereka yang tidak bisa hadir di gereja karena alasan kesehatan. Lagi-lagi Bu Indah berkata, lewat Prodiakon hidup rohani semakin disempurnakan, kendati ia yakini kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. **
Konradus R Mangu


0 Komentar