Unordered List

6/recent/ticker-posts

Abu Tanda Pertobatan



                                                         Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Hari ini kita memulai masa Prapaskah dengan menerima abu di dahi kita. Abu atau debu tanah melambangkan kesementaraan, tidak abadi/kekal, kerendahan, dukacita atau keprihatinan, penyesalan dan pertobatan.

“Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu,” kata Ayub menandai pertobatan dan penyesalannya.

Begitu pun yang dilakukan orang Ninive atas pemberitaan Yunus. Mereka melakukan puasa dan pertobatan dan mengenakan kain kabung serta duduk di atas debu.

Sejak zaman dahulu kala, debu atau abu dipakai sebagai tanda penyesalan dan pertobatan. Abu yang dioleskan di dahi kita bukan hanya ritual belaka tetapi wujud nyata dari sikap tobat dan pembaharuan diri.

Pembaharuan itu dinyatakan dalam sikap yang nyata bahwa puasa yang kita lakukan tidak sekedar pamer kesalehan yang ditunjukkan kepada orang lain, tetapi lebih-lebih membaharui diri dengan sikap tobat kepada Allah dan sesama.

Maka Yesus menekankan puasa yang kita jalani bukan untuk dipamerkan kepada orang lain, tetapi sikap batin yang mau bertobat kepada Allah.

“Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga,” tegas Yesus.

Ada tiga kebajikan dalam kaitannya mengolah hidup rohani; Beramal, berdoa dan berpuasa. Dalam melakukan tiga kebajikan itu, kita hendaknya tidak perlu pamer kepada orang lain, agar diketahui banyak orang.

Tanpa pamrih itulah yang sangat dihargai oleh Tuhan sebagaimana Ia juga mengasihi kita tanpa pamrih.

“Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang,”

Saking sucinya orang sampai mereka kekurangan tempat untuk sembahyang. Di jalan-jalan, di lapangan, di candi-candi, orang show sembahyang.

“Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa,”

Berbuatlah seperti biasa agar orang tidak tahu kalau kita sedang berpuasa. Tidak perlu takut ada warung atau restoran buka. Tidak perlu marah ada orang makan dan minum di depan kita saat kita berpuasa.

Jangan sampai menghalangi rejeki orang supaya Tuhan tidak menghentikan rejeki kita. Pada saat itulah iman kita diuji kesabaran dan ketekunan kita.

Mari kita berpuasa bukan untuk diri kita sendiri, tetapi kita berpuasa demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain juga.  ***


Posting Komentar

0 Komentar