Unordered List

6/recent/ticker-posts

Kotbah Uskup Mgr. Paul Budi Kleden yang Sangat Kontekstual


Perayaan Ekartisi Kudus Tahbisan Uskup Larantuka,  Yohanes Hans Monteiro  telah berrlalu, Rabu (11/2/2026) di Katedral Larantuka, Flores, NTT. Salah satu yang menarik dari acara tersebut adalah Kotbah Uskup Ende, Mgr. Paul Budi Kleden yang menjadi perbincangan di media cetak   dan media online. Seorang teman saya   SPG Podor 1989 sampai menulis dalam profil, kotbah Uskup kelahiran Waibalun itu sangat menyentuh dan kontekstual. Saratnya pesan  isi kotbah Uskup kelahiran Waibalun, Larantuka  ini  maka media gagasindonesaisatu.com merasa perlu menurunkan   lengkap isi kotbah tersebut. 

 

Tidak ada keraguan lagi akan apa yang kita lakukan sekarang. Penahbisan  terjadi karena telah ada keputusan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik, yang tadi dibacakan oleh Orang yang juga sangat tinggi.

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Satu era kepemimpinan yang panjang berakhir hari ini di Larantuka. Pelayanan kegembalaan Bapak , yang sejak tahun  menjadi Uskup Larantuka dan meneruskan estafet kepemimpinan dari Bapak  pada perayaan  dua puluh dua tahun yang lalu, saat Bapak  Uskup Frans memulai pelayanannya sebagai setelah dua tahun menjadi  yang berperan sebagai komentator dalam perayaan itu adalah seorang romo yang waktu itu masih muda, tetapi tampil berwibawa dan meyakinkan:

 

Kita tentu tidak tahu apa yang akan terjadi dengan serem kita hari ini yang juga masih muda dan tampil meyakinkan.

 

Dari kedalaman rohani dan kekayaan pengalaman pastoralnya, Bapak Uskup Frans memilih dua moto:  Jarang ada uskup yang memilih dua moto—dan itu menunjukkan keistimewaan beliau.

 

Mungkin karena harus memimpin umat Katolik di dua wilayah kabupaten. Atau saya yakin, karena sadar bahwa untuk menjadi gembala di wilayah yang kerap mengalami bencana—banjir, gempa bumi, dan letusan gunung berapi—serta memimpin umat yang tinggal terpencar di pulau-pulau, yang dibatasi gunung dan lembah, Uskup baru kita, Bapak Uskup Hans, merasa cukup dengan satu moto. Tetapi satu moto ini tidak main-main..

 

Untuk yang pernah belajar bahasa latin, di sini kata “satu” digunakan dalam tiga genus: neutrum, feminin, dan maskulin. Dengan moto ini, seluruh diri manusia disapa—tubuh, roh, dan pengharapan. Artinya dengan moto ini,  Segala sudut disentuh. Moto ini menyentuh semua kelompok, mengajak semua umat. Moto ini menyadarkan kita bahwa apa pun perbedaan di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu.

 

Namun moto ini sekaligus membuka mata kita akan jurang yang terbentang di antara kita:

Salah satu moto Uskup Frans juga berbicara tentang kesatuan: . ”Mensyukuri anugerah kesatuan yang diberikan Tuhan di tengah berbagai perbedaan yang ada, merawat kesatuan itu dengan kasih kegembalaan, memperjuangkannya dengan sikap dan pesan kenabian, membentuk nurani dan memperluas wawasan orang untuk merangkul dengan kebijaksanaan seorang guru—itulah tugas seorang uskup, kewajiban para imam, panggilan setiap orang beriman, dan tanggung jawab setiap manusia.

 

Dengan motonya yang terinspirasi dari  , Bapak Uskup Hans mengingatkan kita akan tiga dimensi kesatuan yang sangat penting.

 

Kita adalah satu tubuh. Seperti dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, tubuh ini memiliki banyak anggota. Satu Gereja dengan satu Kepala, yaitu Kristus, yang mempersatukan anggota-anggota yang berbeda dalam satu kesatuan, masing-masing dengan peran khasnya.

 

Perbedaan bukan alasan untuk memandang diri lebih  penting dan lebih berkuasa dari pada yang lain atau lebih rendah dan tidak berarti. Kesatuan dijamin oleh pemimpin yang mau mendengarkan dan memberi ruang bagi semua untuk berpartisipasi, tetapi serentak mesti menunjukkan arah dan berani mengambil keputusan. Karena itu, ketaatan dibutuhkan untuk mewujudkan kesatuan.

 

Membawa semua orang ke dalam kesatuan berarti mencari dan merangkul semua, terutama mereka yang karena alasan tertentu menjauh atau dijauhi orang . Merawat kesatuan berarti mencegah satu kelompok menjadi terlalu dominan sambil menutup ruang bagi yang lain. Selalu memilih melihat kenyataan dari perspektif korban.

 

Mempererat persatuan menuntut usaha sungguh untuk merangkul mereka yang kehilangan pegangan dan makna hidup. Memberi perhatian istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa yang menderita karena kekerasan dan kemiskinan—kemiskinan harta, kemiskinan relasi, kemiskinan empati, kemiskinan perhatian, dan waktu.

 

Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan untuk menangkap desahan tanpa suara dari mereka yang berada di jurang keputusasaan, terutama anak-anak. Memelihara kesatuan memerlukan kesediaan dan keberanian mengatasi ketersinggungan pribadi dan menumbuhkan kerelaan untuk saling mengampuni.

 

 

Tanpa semangat yang sama, tubuh yang satu menjadi tidak berdaya. Kesatuan Roh itu diuraikan oleh dalam bacaan pertama hari ini : “.” Roh itu dicurahkan kepada kita semua, anggota Gereja. Roh itu diberikan kepada Bapak Uskup, Roh itu diberikan kepada setiap orang yang ditahbiskan, diturunkan atas Bapak Uskup Hans agar dibebaskan dari penjara ingat diri dan kecemasan akan keamanan diri. Kita berani dan sanggup mewartakan kabar pembebasan.

 

 

Semangat Roh seperti ini perlu dihidupkan supaya Gereja tidak sekadar menjadi struktur yang rapi tertata, tetapi sungguh menjadi sakramen keselamatan—tanda yang berdaya dan bermanfaat, terutama bagi mereka yang diperlakukan tidak adil.

 

Dengan menjadi imam atau uskup, kita disebut rohaniwan—orang yang berurusan dengan roh. Namun seorang rohaniwan tidak hanya tidak dilarang, tetapi mendapat kewajiban berbicara juga tentang yang duniawi dan mengupayakan kebaikan yang bersifat material.

 

Yang dipersembahkan di altar adalah pemberian bumi dan buah kerja keras manusia. Karena itu, perhatian pada pelestarian bumi dan komitmen untuk memperjuangkan kelestarian bumi  dan komitmen untuk memperjuangkan hak-hak dasar manusia adalah bagian utuh dari tanggungjawab semua yang membawa pesrsembahan ke altar Tuhan.

Ketiga, Una Spes   - - - Satu harapan.

 

Bergerak bersama sebagai satu tubuh dalam semangat yang sama di bawah tuntunan Roh yang kudus, menyalakan dalam diri kita api harapan yang sama, yakni hidup dalam Kristus yang bangkit, menjadi Gereja Tubuh Kristus, yang terlibat dalam perjuangan hidup umat dan masyarakat.

 

Kita baru saja menutup Tahun Yubileum dan merayakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia yang kelima, yang mengingatkan kita semua, pentingnya menjaga dan menyebarkan api harapan yang sama yakni hidup dalam Kristus yang bangkit, menjadi Gereja Tubuh Kristus yang terlibat dalam perjuangan hidup umat dan masyarakat.

 

Kita baru saja menutup Tahun YUbelium dan merayakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia  yang kelima yang mengingatkan kita semua, pentingnya menjaga dan menyebarkan api harapan, memancarkan ke tengah dunia yang kini terancam kehilangan harapan- - - juga karena para pemimpin sering memilih jalan kekerasan, lebih mudah cuci tangan dan mempersalahkan orang lain, lebih suka menyebarkan ancaman dan ketakutan dari pada dialog dan penghargaan.

 Harapan itu perlu disalurkan juga ke dalam Gereja kita, yang membutuhkan napas panjang menghadapi berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

 

Harapan yang tunggal itu, berpijar dalam berbagai kerinduan, penantian dan kesabaran para pelayan, para pekerja dan para pejuang.

 Api harapan itu menyala dalam kerinduan para pengungsi letusan gunung Lewotobi Laku-laki dan Ile Lewotolok.

 Ia tampak dalam kesabaran seorang Lamafa perkasa dari Lamalera yang di atas paledangnya, dengan mata yang awas memeriksa samudera luas, menangkap tanda m unculnya seekor ikan paus.

 

Harapan yang satu ini menjiwai ketelatenan si gadis dari lereng Ile Boleng yang setia dan tekun memintal benang dan menenunnya menjadi sehelai sarung Adonara yang anggun.

 

Harapan itu menafasi kesetiaan petani di Otong Solor yang menanam dan merawat menanti panen dalam doa.

 

Dan harapan yang satu itu, terdengar dalam lantunan si perempuan tua di kaki Ile Mandiri yang memendam rindu akan kembalinya sang anak dari rantauan sambil menggumam syair  “Bale Nagi , bakle Nagi… Sinyo e, Kenadati Nae Bero e….”

 

Bapak Uskup Hans, no bale Nagi  - pulang kampung—. Bale Nagi - Pulang Kampung  -- ini bukan karena mimpimu - -  bale nangi bukan kasrena tidur malammu terganggu, tabola bale di tempat tidur, terbakar rindu akan tanah sendiri. Bukan sudah terlampau lapang hatimu dan luas wawasanmu untuk sekeadar mau pulang kampung tinggal dan bekerja di tengah orang-orangmu sendiri sambil makan sayur daun merungge dan jagung titi.

 

No Bale Nagi, pulang kampung bukan pula karena umat keuskupan ini hanya bersedia digembalakan oleh seorang anak tanah.

 

Sebab sudahterlampau tua dan berpengalaman gereja di wilayah ini, kaya dijajaki para gembala dari berbagai belahan bumi. Sebuah gereja yang juga sadar bahwa ia telah menjadi Bunda yang melahirkan dan mengutus putera-puterinya untuk bekerja di banyak tempat.

 

No Bale Nagisupaya bersama kami semua, torang semua, melangkah dalam rangkulan kasih Tuna Ma mewartakan Tuan An, Kristus yang tersalib, wafat dan bangkit untuk kita semua. Sebab  Dialah satu-satunya Penyelamat -- Unus Christus.

 

Kristuslah yang mempersatukan kita dalam satu tubuh, memberi kita Roh-Nya yang mengampuni, dan membuka bagi kita pintu harapan.

 

Dilah satu-satunya Gembala Kita yang mengantar kita semua untuk Bale Nagi - -  Pulang ke rumah Bapa, kembali ke dekapan Allah yang penuh kasih, sambil membawa dunia yang terluka dan merangkul kemaunsiaan kita yang tersalib. ***

Posting Komentar

0 Komentar