Pastor Nikholas Strawn, SVD (92) (Nicky Strawn) lahir 24 September 1934 di Cedar Rapids, Oelwein, Amerika Serikat. Ia lahir sebagai anak keempat dari pasangan Lone David Strawn berdarah Inggris (Wales) dan Loreta Bauer, berdarah Jerman.
Saudara dan saudari kandungnya yakni
Loren Jr, Dale, Delbert (kakak) serta Allan dan Paul (adik). Pada 20 Oktober
1963, saat berusia 28 tahun sebagai misionaris muda ia bertolak dari Pelabuhan
San Fransisco menumpang Kapal SS President Madison.
Dari negeri Paman Sam ia membawa serta 16 buah peti berisi obat-obatan, buku, dan pakaian sebagai bekal awal karya misionernya di tanah Misi. Setelah berlayar selama dua bulan 11 hari, pada 4 Desember 1963 Paster Nicholas tiba di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Ia dijemput Pater Yosef Diaz Vera, SVD. Saat itu, situasi politik dalam negeri kurang kondusif sehingga kedua imam SVD ini sepakat sebelumnya agar saat ketemu di Tanjung Priok, mereka mengenakan jubah.
Ternyata dengan mengenakan jubah semua urusan di pelabuhan lancar dan beres hingga tiba di Soverdi Jakarta. Imam muda ini kemudian naik Kereta Api Pater Nico menuju Surabaya.
Pada 12 Desember 1963 ia naik KM Stella Maris menuju Ende. Dalam Stella Maris ada dua rekan imam jadi teman seperjalanan: Pater Marinus Krol, SVD dan Pastoe Frans Lachner, SVD serta 6 suster 3 dari biara CIJ dan 3 SSpS. Namun tiba-tiba musibah datang. Menjelang memasuki perairan Madura, terjadi kebakaran dalam kapal Stella Maris.
Dalam situasi yang panik 16 peti yang dibawa dari Amerika semua dibuang ke laut. Namun akhirnya muibah itu dapat diatasi berkat keberanian stirman kapal yang kemudian dikenal dengan nama Kapten Sina Unarajan.
”Saya sangat kecewa dan shock. 16 peti sebagai bekal awal sebagai misionaris terkubur di dasar laut. Saya seolah datang ke tanah misi dengan tangan kosong,” kata Pastor Nicholas.
Kapal Stella Maris akhirnya kembali ke Surabaya untuk diperbaiki dan baru berangkat lagi tanggal 28 Desember 1963. Tanggal 31 Desember 1963 ia tiba di Ende lalu dijemput Pater Regional Nikolaus Apeldorn, SVD. Di Ende, Pater Nicholas mendapat tugas berkarya di Lomblen (kini Lembata).
Dari Ende Pater Nico menumpang KM St Theresia menuju Larantuka ditemani Bruder Marianus, SVD. Setelah bertemu dengan Uskup Larantuka, Mgr Anthonius Thijjssen, SVD dengan Motor Siti Nirmala, Pater Nicholas didampingi Pater Lorens Hambach, SVD menuju Lewoleba diterima oleh Dekan Lomblen kala itu, Pastor Ben Brabander, SVD.
Saat datang pertama kali ke Paroki Hati Kudus Lerek, semua orang berdecak kagum melihatnya. Gagah, ganteng apalagi sedang menunggang kuda atau sedang melaju dengan sepeda motornya.
Ia tampak begitu lembut, damai bersahaja, selalu senyum, ramah dan sangat bersahabat. Ia selalu tampil rapih dan tenang, tanpa ada kesan grasa-grusu atau mau buru-buru.
Sejak Februari 1964 Pater Nicholas menjadi Pastor Paroki Lerek selama 24 tahun, sebelum pindah ke Paroki Boto tahun 1987. Ia bertugas di Boto selama 17 tahun. Umat di kedua paroki ini sangat mengenal dekat dengan gembalanya. Pater Niko begitu dekat dan menyatu dengan umatnya.
Pada Selasa, 4 Agustus 2026 pukul 12.20 WITA ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Bukit Lewoleba, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Selamat jalan menuju rumah Bapa di Surga, Pater Nicholas Strawn, SVD.
Terima kasih atas cinta dan kebaikanmu selama menggembalakan umat Katolik di Keuskupan Larantuka khususnya di Dekanat Lembta teristimewa umat Paroki Lerek dan Paroki Boto.
Terima kasih keluarga besar SVD Chicago, USA dan keluarga besar SVD Ende yang telah mempersembahkan Pastor Nicholas Strawn SVD melayani kami umat di Lembata, khususnya di Paroki Lerek dan Paroki Boto.
Terima kasih juga untuk keluarga
besar Almarhum Pastor Nicholas di USA yang telah merelakan imam Tuhan untuk
umat-Nya di Keuskupan Larantuka khususnya di Lembata. Tuhan sungguh baik dan
Ajaib melalui imam kesayangan kami, Pastor Nicholas Strawn SVD. Damailah di
sisi-Nya. Sungguh kehilangan seorang imam yang baik hati. *** (Ansel Deri)
0 Komentar