Jakarta, Gagas Indonesia Satu.com
Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Keuskupan Agung Ende
menyampaikan pandangan tetap meneolak geothermal di Ende. Hal ini disampaikan
di kantor JPIC OFM, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/26).
SIKAP uskup dan pendamping Keuskupan Ende juga sikap para
uskup Provinsi Gerejawi Ende itu sampai sekarang tidak berubah. Kami tetap
menolak geotermal sebagai bentuk energi terbarukan yang mau diterapkan di
Flores.
Sikap ini kita utarakan pertama kali ketika saya
menyampaikannya secara terbuka pada 6 Januari 2025, lalu juga ditulis dalam
beberapa surat gembala dan juga para uskup se-provinsi Gerejawi Ende. Enam
uskup--Uskup Denpasar, Uskup Labuan Bajo, Uskup Ruteng, Uskup Ende, Uskup
Maumere, Uskup Larantuka--juga menyatakan yang sama, sikap yang sama terhadap
geotermal.
Saya perlu tegaskan bahwa dengan sikap ini, kami bukan
berarti menolak kemajuan atau juga menolak kebutuhan akan listrik. Kami sangat
sadar kita butuh listrik. Juga dengan sikap seperti ini, bukan berarti kita
menolak untuk beralih ke energi terbarukan.
Bersama Paus Fransiskus, kami sadar akan kemendesakan untuk
beralih dari energi berbasis fosil ke energi terbarukan. Hanya bahwa, geotermal
itu bukan pilihan yang tepat untuk konteks kami di Flores.
Uskup menyampaikan beberapa alasan yang bisa saya sampaikan.
Pertama. Pertama, soal topografi wilayah. Kami terutama di Keuskupan Agung
Ende, wilayah yang bergunung-gunung dan berbukit, yang menyisakan lahan yang
sangat terbatas untuk pemukiman dan untuk pertanian warga. Sementara
titik-titik yang mau diincar untuk pengembangan geothermal ini justru titik-titik
seperti itu. Karena itu akan mengambil lahan yang digunakan untuk pemukiman,
juga untuk pertanian warga.
Kedua, soal kekurangan air. Itu geothermal pasti membutuhkan
air, sekurang-kurangnya pada fase drilling. Itu butuh air. Sementara masyarakat
kita sudah mengeluh kekurangan air. Dua minggu lalu saya ada di Laja. Laja itu
tempat dari mana air akan diambil untuk pengembangan geothermal di Mataloko.
Itu orang sudah mengeluh untuk kekurangan air di sana. Kalau
nanti, walaupun katanya ini sangat terbatas penggunaan air, tapi tetap sekarang
sudah mengeluh kekurangan air. Kalau air yang sudah berkurang itu digunakan
lagi untuk geothermal, maka masyarakat yang adalah para petani itu akan sangat
menderita. Lalu air di Laja itu digunakan untuk mengairi persawaan warga. Soal
kekurangan air yang menjadi masalah yang sangat serius.
Yang ketiga, soal kebudayaan kami di Flores, masyarakat yang
memang hidupnya sangat ditentukan oleh pertanian. Pertanian menentukan
semuanya. Menentukan cara orang berinteraksi satu sama lain. Cara orang membagi
ketenangan dalam masyarakat. Semuanya terputar sekitar pertanian.
Kalau dengan geothermal ini, yang nanti akan mengambil
sebagian dari lahan warga untuk pertanian, maka pasti akan terjadi pergeseran
budaya. Bukan berarti kita anti perubahan-perubahan atau budaya, tapi kalau
perubahan itu terjadi dalam tempo yang sangat cepat, itu akan sangat sulit.
Masyarakat akan kehilangan orientasi budayanya, dan dengan demikian akan
kehilangan identitasnya. Itu yang tidak mau terjadi di Flores.
Keempat, itu alasan pengalaman traumatis yang kami miliki
dengan satu site yang menimbulkan masalah besar yaitu Mataloko. Di Mataloko itu
sekarang ada manifestasi uap panas di banyak tempat dan ini menunjukkan bahwa
persoalan mitigasi risiko tidak ditangani dengan baik.
Untuk mengiakan, untuk bisa meyakinkan masyarakat tentang
baiknya proyek ini harus ditunjukkan dulu bahwa ketika terjadi, ada masalah,
orang mengatasinya. Tapi kalau sudah ada masalah tapi belum ditangani dengan
baik, lalu bagaimana memaksakan orang menerima pengembangan geotermal internal
yang lain?
Untuk ini ada dua hal yang saya kira sangat penting, yaitu
soal kemauan dan kemampuan. Apakah ada kemauan untuk membuat mitigasi risiko
kalau terjadi sesuatu yang tidak dihendaki dan juga apakah ada kemampuan.
Kemampuan ini berkenaan dengan kemampuan teknis dan
kemampuan finansial, apakah ada kemampuan teknis untuk mengatasi risiko ketika
terjadi bencana atau terjadi hal yang tidak diinginkan dan apakah ada kemampuan
finansial, mengalihkan yang sudah tidak berjalan ini menjadi geopark, itu bukan
bukti ada kemauan dan ada kemampuan untuk menangani risiko itu.
Dengan konteks seperti ini, maka kami, saya dan para uskup
di Flores punya sikap yang sama. Kami tetap menolak geotermal dengan
alasan-alasan yang disebutkan tadi, karena kami mempunyai tanggung jawab untuk
bersama masyarakat, bersama umat kami yang merupakan korban yang menjadi korban
dari proyek ini.
Kita harus berdiri bersama mereka, ada bersuara bersamaan
untuk mereka. Masyarakat memang sebagiannya sudah bersuara sebelumnya ya.
Sebelum uskup berbicara, masyarakat sudah bicara. Tetapi umumnya suara mereka
kurang didengar. Dan sekarang, kami bersama-sama menyuarakan penolakan ini.
Dan saya mengharapkan supaya ini mendapat tanggapan yang
serius dari para pengambil kebijakan karena ini kondisi yang kami alami di
sana. Seperti tadi, kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, siapa yang
menanggung risiko itu? Kan masyarakat setempat. Para pengambil kebijakan
mungkin juga punya tanggung calon, tapi kan tidak langsung masyarakat setempat
dan untuk mereka kami berbicara, persoalannya mereka kami berbicara.*
0 Komentar