Unordered List

6/recent/ticker-posts

Tonny Djogo Orasi Ilmiah Ujian Promosi dan Yudisium Doktor Studi Pembangunan Berjudul Paradoks di Balik Cita Rasa Kopi Bajawa di UKSW Salatiga

 


SALATIGA, Gagas Indonesia Satu.ccom 

Akademisi dan peneliti Antonius Paschalis Yosef Djogo, Senin (27/7) menyampaikan Orasi Ilmiah Ujian Promosi dan Yudisium Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di ruang G 505, Gedung G UKSW, Jalan Diponegoro, Salatiga, Jawa Tengah. Sidang dipimpin Dekan Fakultas Interdisiplin Aldi Herindra Lasso, S.Pd, MM.Par, Ph.D.

Tonny Djogo —sapaan akrab Antonius Paschalis Yosef Djogo — menyampaikan orasi ilmiah berjudul Paradoks di Balik Cita Rasa Kopi Bajawa: Kelembagaan dan Kebijakan Sistem Produksi Kopi di hadapan Promotor Prof Dr Daniel Daud Kameo, Ph.D serta dua Ko-Promotor Prof Dr Intiyas Utama, SE, M.Si, Ak yang juga Rektor UKSW dan Dr Lasmoni. 

Berikut, Dewan Penguji Prof Dr Gatot Sasongko, SE, MS dan Dr Wilson MA Therik, SE, M.Si dari UKSW serta penguji eksternal Dr Luftan Makmun, S.ST, MP dari Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang.

Tonny Djogo di awal pengantar orasinya mengatakan, motivasi melakukan penelitian tentang kopi dibangun dari keprihatinan atas fenomena bahwa kopi Bajawa memiliki popularitas dan nilai ekonomi tinggi namun produksinya menurun. 

“Pendekatan perbaikan produksi kopi yang sudah dilakukan terjebak pada upaya perbaikan jangka pendek tanpa mengatasi akar masalah secara sistemik, yang merupakan akar kegagalan struktural,” ujar Tonny Djogo.

Menurut Tonny, perbaikan teknik budidaya yang sudah dilakukan umumnya berdampak positif dalam jangka pendek tetapi tidak berkelanjutan. Pengembangan kelembagaan dalam bentuk organisasi seperti koperasi, unit pengolahan hasil atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UPH/UMKM) hanya berhasil dalam jangka pendek, tidak berkelanjutan. 

“Demikian pula upaya perbaikan pasar tidak bertahan lama dan belum berhasil memperbaiki luas tanam dan produksi serta ekonomi petani kopi. Pendekatan yang dilakukan selama ini terpisah atau tidak terintegrasi antara budidaya, kelembagaan, kebijakan, dan pasar,” kata Tonny.

Kendalanya diakui Tonny yakni belum adanya rencana yang terpadu. Intervensi yang dilakukan berfokus pada budidaya, bantuan peralatan, pelatihan, kelembagaan, dan pasar yang terpadu dalam perencanaan dan program. 

                                            


“Salah satu kendala yang ditemui adalah kebijakan yang tidak tersinkronisasi. Sampai saat ini peta jalan, roadmap dan rencana induk, grand design pengembangan kopi Bajawa maupun provinsi belum ada atau belum selesai dibuat,” kata Tonny lebih lanjut.

Tonny menjelaskan, disertasinya membedah krisis Kopi Arabika Flores Bajawa, komoditas lokal yang memiliki reputasi nasioanal dan internasional serta peluang pasar yang sangat tinggi namun mengalami krisis produksi. 

Saat ini diakui Tonny, luas tanam dan produksi kopi Bajawa menurun drastis dalam satu dekade terakhir padahal permintaan pasar meningkat. Penurunan produksi dapat disebabkan faktor teknis budidaya maupun faktor alam.

Pada bagian lain orasi ilmiahnya, Tonny menyebut penelitian yang ia lakukan membangun model analisis perangkap kelembagaan-kebijakan-pasar untuk menjelaskan bagaimana interaksi antar komponen ini dapat membentuk struktur insentif. Model ini menggambarkan perangkap sistemik yang memengaruhi kinerja sistem produksi kopi Bajawa. 

“Kelembagaan lokal yang lemah mengurangi efektivitas kebijakan; kebijakan yang parsial gagal memperkuat organisasi lokal dan budidaya; serta struktur pasar yang asimetris memperlemah produksi dan posisi tawar petani. Siklus interaksi negatiff ini memicu alih fungsi lahan dan penurunan produksi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Tonny di akhir orasi menyampaikan penghargaan kepada Promotor Prof Dr Daniel Daud Kameo, Ph.D; Ko-Promotor Prof Dr Intiyas Utama, SE, M.Si, Ak dan Dr Lasmoni. Juga Dewan Penguji Prof Dr Gatot Sasongko, SE, MS dan Dr Wilson MA Therik, SE, M.Si serta penguji eksternal Dr Luftan Makmun, S.ST, MP.

Tonny menyampaikan terima kasih dan penghargaan secara khusus juga disampaikan kepada Program Doktor Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana atas dukungannya selama ini. 

“Saya juga menyampaikan terima kasih secara khusus kepada Bapak Dr Viktor Laiskodat dan Bapak Dr Josef A Nae Soi, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2018-2023 yang secara pribadi memberikan dukungan finansial untuk studi dan penelitian yang menghasilkan disertasi ini,” ujar Tonny.

Orasi ilmiah juga dihadiri juga Wakil Gubernur NTT 2018-2023 Dr Josef A Nae Soi dan istrinya, Maria Fransiska Jogho serta saudara dan saudari kandung Tonny Djogo serta para kerabat. (*)

KET FOTO: Tonny Djogo didampingi Josef A Nae Soi dan istrinya, Maria Fransiska Jogho bersama Rektor UKSW sekaligus ko-promotor Prof Dr Intiyas Utama, SE, M.Si, Ak, promotor, ko- promotor, Dewan Penguji, dan Dekan Fakultas Interdisiplin Aldi Herindra Lasso, S.Pd, MM.Par, Ph.D foto bersama usai Orasi Ilmiah Ujian Promosi dan Yudisium Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin UKSW, Salatiga, Jawa Tengah, Senin (27/7). Foto: 

Posting Komentar

0 Komentar