Unordered List

6/recent/ticker-posts

Ketika Seorang Dosen Pulang ke Tanah Tandus

 

                                                    


Kisah Joakim Deke Kokomaking Membangun Harapan dari Lembata

"Don't go where the path may lead. Go instead where there is no path and leave a trail."

Ralph Waldo Emerson

Frasa ikonik "the road less traveled"—yang dalam percakapan publik sering disalahkutipkan sebagai the road last traveled—menyimpan dua tingkatan makna yang mendalam: pemahaman populer yang transformatif dan penafsiran literatur yang mengugah jiwa. Secara umum, kutipan karya esais dan filsuf Amerika Serikat, Ralph Waldo Emerson, ini dibaca sebagai seruan untuk menjadi pribadi yang individualis, berani, dan berani menolak konformitas.

Memilih "jalan yang jarang dilalui" berarti mengambil keputusan yang berbeda dari arus utama masyarakat. Ini adalah keberanian untuk menolak sekadar mengekor tren, menerima risiko kesunyian, dan menempuh alur kehidupan yang sarat tantangan demi melahirkan hasil yang berdampak nyata—sebuah pencerahan yang dalam bait-bait literatur dipahami sebagai keberanian mengubah takdir.

Bagi sebagian besar orang, petuah Emerson mungkin sekadar hiasan buku atau bahan diskusi akademis. Namun, bagi Joakim Deke Kokomaking—yang akrab disapa Kim—nasihat tersebut terpatri begitu kuat di pikiran, hati, dan jiwanya. Ia tidak hanya membacanya; ia memilih untuk hidup di dalamnya.

Menanggalkan Zona Nyaman Ibu Kota

Pada tahun 2017, Joakim mengambil sebuah keputusan yang menghentakkan lingkungan sekitarnya. Ia memilih pensiun diri dari posisinya yang terpandang sebagai dosen di President University, Cikarang. Karier akademis di ibu kota—sebuah posisi mentereng dengan kepastian masa depan yang diimpikan banyak orang—ia tanggalkan begitu saja.


                                            


Sebagai seorang ayah satu anak, keputusan Joakim untuk berputar arah di puncak usia produktif adalah langkah yang ekstrem, penuh risiko, dan hampir tak masuk akal bagi rasio awam. Namun, panggilan dari tanah kelahirannya memanggil lebih nyaring daripada riuk-pikuk dan kemewahan kota megapolitan.

Joakim membulatkan tekad untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Muruona, kawasan pinggiran Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah kepulangan yang bukan untuk beristirahat, melainkan untuk memulai pertarungan yang baru.

Menembus Kritisnya Tanah Lembata

Setibanya di Lembata, Joakim dihadapkan pada realitas lapangan yang memprihatinkan. Tanah tempatnya bertumbuh sedang memanggil imbas dari krisis ekologis yang berkepanjangan. Budaya pertanian masyarakat setempat telah berada dalam kondisi kritis akibat ketergantungan yang terlampau parah pada penggunaan bahan-bahan anorganik—pupuk kimia dan pestisida sintetis yang perlahan membunuh kesuburan tanah alami.

Melihat kondisi tanah yang kian tandus dan ketergantungan petani yang kian mencekik, Joakim menyadari bahwa ia tidak bisa tinggal diam. Mengandalkan latar belakang keilmuan dan ketajaman analisanya, ia mulai memotong semak belukar keputusasaan dan meretas jalannya sendiri.

Di tanah Muruona, ia mendirikan sebuah pergerakan sekaligus ruang usaha terpadu yang diberi nama Nugu Terpadu (NT). Dalam konsepsi Joakim, Nugu Terpadu diposisikan sebagai sebuah Meeting Point dalam konteks sosiologis dan ekologis yang luas—sebuah tempat bertemunya berbagai simpul kepentingan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Melalui Nugu Terpadu, Joakim merajut kembali jejaring kerja sama antara:

·         Pemerintah sebagai pemilik otoritas dan kebijakan publik,

·         Gereja sebagai pengayom moral dan basis komunitas spiritual lokal, serta

·         Masyarakat Petani sebagai aktor utama di garis depan pengolahan tanah.

Tujuannya satu namun fundamental: merevolusi budaya pertanian di Lembata, memulihkan tanah yang rusak, dan mengembalikan kedaulatan petani melalui metode pertanian organik.

Membangun Harapan dan Meninggalkan Jejak

Mengubah tradisi bercocok tanam yang sudah berakar puluhan tahun tentu bukan perkara gampang. Mempersatukan institusi pemerintah, tatanan gereja, dan kebiasaan petani membutuhkan ketabahan, kesabaran argumentatif, serta bukti nyata di lapangan. Namun, di sanalah letak nilai dari jalan yang dipilih Joakim.

Langkah ekstrem yang diambil seorang Joakim Deke Kokomaking membuktikan bahwa the road less traveled bukanlah jargon kosong tentang keberanian personal, melainkan tentang kesediaan menanggung beban dan risiko demi menghadirkan perubahan yang berdampak luas (made all the difference).


                                    


Kini, di balik tanah Muruona yang perlahan kembali menghijau, sang mantan dosen tidak lagi berdiri di depan papan tulis kelas ber-AC. Ia berdiri di atas tanah tandus Lembata, menyingsingkan lengan baju, dan membuktikan bahwa dari tempat yang paling tak terduga, harapan bisa disemai—dan sebuah jejak peradaban yang baru dapat ditorehkan. ** Yapi Taum 

 

Posting Komentar

0 Komentar