Unordered List

6/recent/ticker-posts

Kekuatan Sabda



Setiap hari Senin, setelah mengikuti upacara bendera di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tangerang, bersama teman-teman penyuluh, kami melakukan kunjungan, sekaligus pendampingan bagi orang-orang dengan gangguan jiwa yang kini sedang menjalani masa pemulihan di Panti Ecclesia, Cileles – Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Berjumpa dengan orang-orang yang berkebutuhan spesial ini, mengajarkan para pengelola dan pendamping untuk selalu sabar dalam proses pendampingan. Pada saat-saat awal ketika berkunjung di panti rehabilitasi itu, sempat penulis mewawancarai Bapak Aris, pemilik dan pengelola panti Ecclesia. Dalam wawancara, pertanyaan yang  saya lontarkan seputar, bagaimana bisa menghidupi panti Ecclesia yang dihuni oleh 19 orang ini. Pertanyaan ini dilontarkan karena berawal dari rasa ingin tahu, seberapa besar kekuatan ekonomi dari pihak pengelola dalam menghidupi anggota panti Ecclesia.

Dari penelusuran saya, ternyata hampir tidak ada perhatian dari keluarga terhadap salah seorang anggota keluarganya yang dititipkan di panti itu. Bapak Aris sebagai pemilik, berusaha sejauh dapat untuk menghidupi keluarga dan para penghuni panti. Ada kecemasan yang muncul ketika mereka mengalami kekurangan bahan makanan. Kecemasan yang dihadapi terubahkan menjadi kekuatan, ketika mereka bawa seluruh kecemasan dan rasa tidak pasti ke dalam doa. Doa adalah kekuatan dan sekaligus memberikan harapan bagi mereka untuk terus hidup dan melayani.    

Belajar dari pengelola panti, memberikan gambaran tentang hidup yang bersandar pada kemurahan hati Allah. Ketika badai kekurangan bahan makanan itu menerpa, mereka lari pada Tuhan yang memberikan kemudahan bagi mereka. Pijakan utama bagi Bapak Aris dan keluarga dalam mengelola panti itu, bukan atas dasar kekayaan duniawi, melainkan karena kemauan dan penyerahan secara total pada kehendak Allah. Burung-burung di udara yang beterbangan setiap hari dan tidak pernah menanam, namun burung-burung tidak mati kelaparan. Pesan Injil ini menjadi titik pijak bagi mereka untuk bergumul dengan hidup.

Pertanyaan lain yang sempat saya tanyakan pada Bapak Aris dalam wawancara, yakni soal perawatan pada orang-orang dengan gangguan jiwa. Dari pengamatan saya, tidak ada tindakan medis yang dilakukan untuk memulihkan orang-orang dengan gangguan jiwa itu. Tapi mengapa ada yang sembuh setelah berada dan mengalami masa-masa pemulihan di panti Ecclesia? Pertanyaan yang terkesan bernada skeptis ini muncul dalam diriku karena kesembuhan yang dialami oleh mereka yang sebelumnya mengalami gangguan jiwa. Saya mencoba untuk bertanya pada Bapak Aris. Apa rahasia penyembuhan yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan jiwa? Bapak Aris dengan santai menjawab bahwa kekuatan “Sabda Tuhan” menjadi andalan bagi setiap orang yang menaruh harap untuk memperoleh kesembuhan.

Jawaban yang diberikan oleh Bapak Aris ini membuat saya tergidik diam. Saya hanya mengagumi iman yang tulus dari orang sederhana yang dipakai Tuhan dalam upaya memulihkan orang-orang dengan gangguan jiwa. Memang, selama hidup-Nya, Yesus tidak hanya mengajarkan tentang Kerajaan Allah saja tetapi juga menegaskan apa yang diajarkan itu dengan tindakan nyata, yakni melalui mukjizat.  Orang buta dibuat-Nya melihat, orang lumpuh dibuat-Nya bisa berjalan bahkan orang mati pun dibangkitkan-Nya. Mukjizat yang menggemparkan dunia yang terjadi secara nyata dua ribuan tahun lalu, tetap hidup sampai saat ini. Walaupun Yesus tidak hadir secara nyata, namun kekuatan Sabda-Nya terus memberi dampak pada kesembuhan orang-orang yang memiliki gangguan jiwa. Doa dan kepasrahan diri yang tulus pada Tuhan, memberikan harapan akan kesembuhan.***(Valery Kopong)

Posting Komentar

0 Komentar