Setiap hari Senin, setelah mengikuti upacara bendera
di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tangerang, bersama teman-teman penyuluh,
kami melakukan kunjungan, sekaligus pendampingan bagi orang-orang dengan
gangguan jiwa yang kini sedang menjalani masa pemulihan di Panti Ecclesia,
Cileles – Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Berjumpa dengan orang-orang yang
berkebutuhan spesial ini, mengajarkan para pengelola dan pendamping untuk
selalu sabar dalam proses pendampingan. Pada saat-saat awal ketika berkunjung di
panti rehabilitasi itu, sempat penulis mewawancarai Bapak Aris, pemilik dan
pengelola panti Ecclesia. Dalam wawancara, pertanyaan yang saya lontarkan seputar, bagaimana bisa
menghidupi panti Ecclesia yang dihuni oleh 19 orang ini. Pertanyaan ini
dilontarkan karena berawal dari rasa ingin tahu, seberapa besar kekuatan
ekonomi dari pihak pengelola dalam menghidupi anggota panti Ecclesia.
Dari penelusuran saya, ternyata hampir tidak ada
perhatian dari keluarga terhadap salah seorang anggota keluarganya yang
dititipkan di panti itu. Bapak Aris sebagai pemilik, berusaha sejauh dapat
untuk menghidupi keluarga dan para penghuni panti. Ada kecemasan yang muncul
ketika mereka mengalami kekurangan bahan makanan. Kecemasan yang dihadapi
terubahkan menjadi kekuatan, ketika mereka bawa seluruh kecemasan dan rasa
tidak pasti ke dalam doa. Doa adalah kekuatan dan sekaligus memberikan harapan
bagi mereka untuk terus hidup dan melayani.
Belajar dari pengelola panti, memberikan gambaran
tentang hidup yang bersandar pada kemurahan hati Allah. Ketika badai kekurangan
bahan makanan itu menerpa, mereka lari pada Tuhan yang memberikan kemudahan
bagi mereka. Pijakan utama bagi Bapak Aris dan keluarga dalam mengelola panti
itu, bukan atas dasar kekayaan duniawi, melainkan karena kemauan dan penyerahan
secara total pada kehendak Allah. Burung-burung di udara yang beterbangan
setiap hari dan tidak pernah menanam, namun burung-burung tidak mati kelaparan.
Pesan Injil ini menjadi titik pijak bagi mereka untuk bergumul dengan hidup.
Pertanyaan lain yang sempat saya tanyakan pada Bapak
Aris dalam wawancara, yakni soal perawatan pada orang-orang dengan gangguan
jiwa. Dari pengamatan saya, tidak ada tindakan medis yang dilakukan untuk
memulihkan orang-orang dengan gangguan jiwa itu. Tapi mengapa ada yang sembuh
setelah berada dan mengalami masa-masa pemulihan di panti Ecclesia? Pertanyaan
yang terkesan bernada skeptis ini muncul dalam diriku karena kesembuhan yang
dialami oleh mereka yang sebelumnya mengalami gangguan jiwa. Saya mencoba untuk
bertanya pada Bapak Aris. Apa rahasia penyembuhan yang dialami oleh orang-orang
dengan gangguan jiwa? Bapak Aris dengan santai menjawab bahwa kekuatan “Sabda
Tuhan” menjadi andalan bagi setiap orang yang menaruh harap untuk memperoleh
kesembuhan.
Jawaban yang diberikan oleh Bapak Aris ini membuat
saya tergidik diam. Saya hanya mengagumi iman yang tulus dari orang sederhana
yang dipakai Tuhan dalam upaya memulihkan orang-orang dengan gangguan jiwa.
Memang, selama hidup-Nya, Yesus tidak hanya mengajarkan tentang Kerajaan Allah
saja tetapi juga menegaskan apa yang diajarkan itu dengan tindakan nyata, yakni
melalui mukjizat. Orang buta dibuat-Nya
melihat, orang lumpuh dibuat-Nya bisa berjalan bahkan orang mati pun
dibangkitkan-Nya. Mukjizat yang menggemparkan dunia yang terjadi secara nyata
dua ribuan tahun lalu, tetap hidup sampai saat ini. Walaupun Yesus tidak hadir
secara nyata, namun kekuatan Sabda-Nya terus memberi dampak pada kesembuhan
orang-orang yang memiliki gangguan jiwa. Doa dan kepasrahan diri yang tulus
pada Tuhan, memberikan harapan akan kesembuhan.***(Valery Kopong)

0 Komentar