Ketika
mengikuti perdebatan para apologet Katolik dengan apologet Protestan di media
sosial, terkadang memberi ruang pada setiap pembaca untuk bertanya diri.
Mengapa sesama umat beragama (khususnya Katolik dan Protestan) sering
berbenturan menyangkut sumber iman dan memperdebatkan soal posisi Bunda Maria?
Selama mengikuti perdebatan itu, boleh saya katakan bahwa beberapa imam Katolik
berusaha meluruskan penyerangan yang terjadi dari beberapa orang yang menamakan
diri sebagai apologet Protestan. Perdebatan-perdebatan yang terjadi, menurut
hemat saya, tidak akan menemukan titik puncak penyelesaian sepanjang sejarah
hidup ini. Mengapa? Karena antara Katolik dan Protestan memiliki kitab suci
yang sama, walaupun Protestan tidak menerima Deuterokanonika.
Untuk
menafsir kitab suci dalam kalangan umat Katolik, hanya dilakukan oleh para
ekseget yang belajar secara khusus tentang kitab suci. Para ekseget Katolik
tahu tentang waktu penulisan kitab suci dan konteks historisnya. Dengan melihat
latar belakang penulisan dan kepada siapa tulisan itu ditujukan, perlu dilihat
secara jeli dan dimaknai secara mendalam. Dengan menafsir sesuai konteks
historis penulisan kitab suci oleh para ekseget Katolik, memudahkan umat
Katolik untuk membaca dan memahaminya konteks historisnya secara baik. Penafsiran
kitab suci oleh para ekseget Katolik, bukan mempersempit daya tafsir umat,
tetapi lebih mengarahkan umat supaya tidak tafsir liar.
Ada
beberapa point perdebatan yang selama ini diikuti, namun kali ini, penulis
hanya memfokuskan diri pada sumber iman yang dihidupi oleh umat Katolik. Perdebatan
yang selama ini berlangsung, lebih melihat kitab suci, yang oleh Protestan
sebagai otoritas tertinggi. Apa yang dilakukan dalam pengajaran harus sejalan
dengan apa yang tertulis dalam kitab suci. Lalu bagaimana dengan Katolik? Ada
tiga sumber iman yang dihidupkan oleh Gereja Katolik, yakni kitab suci, tradisi
suci dan magisterium Gereja. Sebelum orang mengenal tulisan, orang-orang Israel
hidup dari tradisi lisan. Pengalaman iman yang dialami, dituturkan secara turun
temurun. Demikian juga dalam perjanjian baru, kisah hidup Yesus, mulai dari
pewartaan-Nya sampai dengan menderita, wafat dan bangkit dari alam maut, juga
awalnya dituturkan secara lisan. Namun dalam perjalanan waktu, para penulis
kitab suci mulai menulis tentang hidup dan karya Yesus.
Apa
itu tradisi suci yang menjadi salah satu sumber iman yang dihidupi oleh Gereja
Katolik? “Tradisi atau kata latinnya traditio dalam ranah gerejawi dapat
berarti: Hal-nya (ajarannya) yang diwariskan dari generasi ke generasi. Contoh
: kita mewarisi Tradisi bahwa Yesus Lahir dari Perawan Maria. Berbagai cara
pewarisan itu (kerigma ekklesiastikon predicatio ecclesiastica).” Doa Aku
Percaya (Credo) merupakan warisan iman dari para rasul. Rumusan Credo,
mengungkapkan ikrar para rasul setia para Kristus dan ajaran-Nya. Doa Credo ini
tidak terdapat dalam kitab suci, namun Gereja meyakini bahwa doa ini berasal
dari para rasul yang tetap diwariskan. Perbedaan sumber iman bukan menjadi
alasan untuk terus memperdebatkan posisi iman akan Kristus. Sejauh mana kita
sudah mengimani Kristus?*** (Valery Kopong)

0 Komentar