Unordered List

6/recent/ticker-posts

Sumber Iman

 


Ketika mengikuti perdebatan para apologet Katolik dengan apologet Protestan di media sosial, terkadang memberi ruang pada setiap pembaca untuk bertanya diri. Mengapa sesama umat beragama (khususnya Katolik dan Protestan) sering berbenturan menyangkut sumber iman dan memperdebatkan soal posisi Bunda Maria? Selama mengikuti perdebatan itu, boleh saya katakan bahwa beberapa imam Katolik berusaha meluruskan penyerangan yang terjadi dari beberapa orang yang menamakan diri sebagai apologet Protestan. Perdebatan-perdebatan yang terjadi, menurut hemat saya, tidak akan menemukan titik puncak penyelesaian sepanjang sejarah hidup ini. Mengapa? Karena antara Katolik dan Protestan memiliki kitab suci yang sama, walaupun Protestan tidak menerima Deuterokanonika.

Untuk menafsir kitab suci dalam kalangan umat Katolik, hanya dilakukan oleh para ekseget yang belajar secara khusus tentang kitab suci. Para ekseget Katolik tahu tentang waktu penulisan kitab suci dan konteks historisnya. Dengan melihat latar belakang penulisan dan kepada siapa tulisan itu ditujukan, perlu dilihat secara jeli dan dimaknai secara mendalam. Dengan menafsir sesuai konteks historis penulisan kitab suci oleh para ekseget Katolik, memudahkan umat Katolik untuk membaca dan memahaminya konteks historisnya secara baik. Penafsiran kitab suci oleh para ekseget Katolik, bukan mempersempit daya tafsir umat, tetapi lebih mengarahkan umat supaya tidak tafsir liar.  

Ada beberapa point perdebatan yang selama ini diikuti, namun kali ini, penulis hanya memfokuskan diri pada sumber iman yang dihidupi oleh umat Katolik. Perdebatan yang selama ini berlangsung, lebih melihat kitab suci, yang oleh Protestan sebagai otoritas tertinggi. Apa yang dilakukan dalam pengajaran harus sejalan dengan apa yang tertulis dalam kitab suci. Lalu bagaimana dengan Katolik? Ada tiga sumber iman yang dihidupkan oleh Gereja Katolik, yakni kitab suci, tradisi suci dan magisterium Gereja. Sebelum orang mengenal tulisan, orang-orang Israel hidup dari tradisi lisan. Pengalaman iman yang dialami, dituturkan secara turun temurun. Demikian juga dalam perjanjian baru, kisah hidup Yesus, mulai dari pewartaan-Nya sampai dengan menderita, wafat dan bangkit dari alam maut, juga awalnya dituturkan secara lisan. Namun dalam perjalanan waktu, para penulis kitab suci mulai menulis tentang hidup dan karya Yesus.

Apa itu tradisi suci yang menjadi salah satu sumber iman yang dihidupi oleh Gereja Katolik? “Tradisi atau kata latinnya traditio dalam ranah gerejawi dapat berarti: Hal-nya (ajarannya) yang diwariskan dari generasi ke generasi. Contoh : kita mewarisi Tradisi bahwa Yesus Lahir dari Perawan Maria. Berbagai cara pewarisan itu (kerigma ekklesiastikon predicatio ecclesiastica).” Doa Aku Percaya (Credo) merupakan warisan iman dari para rasul. Rumusan Credo, mengungkapkan ikrar para rasul setia para Kristus dan ajaran-Nya. Doa Credo ini tidak terdapat dalam kitab suci, namun Gereja meyakini bahwa doa ini berasal dari para rasul yang tetap diwariskan. Perbedaan sumber iman bukan menjadi alasan untuk terus memperdebatkan posisi iman akan Kristus. Sejauh mana kita sudah mengimani Kristus?*** (Valery Kopong)

 

 

Posting Komentar

0 Komentar