Judul Buku: Anak
Kampung ke UGM
Penulis: Thomas
Akaraya Sogen
Penyunting:
Christian Dominikus Juang Sogen
Penerbit: Oase
Pustaka
Cetakan: Kedua,
2025 (Revisi)
Tebal: 244
halaman
Perjalanan pendidikan di wilayah kepulauan Indonesia kerap kali harus
menyeberangi laut, menembus sekat geografis, dan melampaui keterbatasan
ekonomi. Buku Anak Kampung ke UGM karya Thomas Akaraya Sogen merekam
secara jernih kenyataan tersebut. Buku setebal 244 halaman ini bukan sekadar
autobiografi motivasional tentang keberhasilan seorang anak desa menembus
Universitas Gadjah Mada (UGM), melainkan sebuah dokumen sosial mengenai
mobilitas sosial, perjuangan literasi, dan panggilan pengabdian seorang
pendidik dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lahir di Pulau Solor, Flores Timur, pada 22 Desember 1963, Thomas tumbuh
dalam keluarga petani yang akrab dengan penderitaan. Narasi buku dimulai secara
terbuka tanpa polesan sentimental, menceritakan masa kecil yang ditopang konsumsi
bulgur, jagung, dan singkong. Kemiskinan tidak dijadikan alat untuk memelas,
melainkan dipotret sebagai daya tempur sosial yang membentuk wataknya sejak
dini.
Ketertarikan Thomas pada dunia literasi bersemi dari ruang yang
bersahaja: membaca majalah Kunang-Kunang dan Dian di rumah
gurunya. Pada 1979, saat duduk di kelas II SMP, tulisan pertamanya dimuat di
majalah Dian. Pengalaman itu membangkitkan kesadaran awal bahwa tulisan
adalah media efektif untuk bersuara, mengolah kegelisahan, sekaligus mengenalkan
tanah kelahirannya ke dunia luar.
Dalam konteks sosiologi pendidikan, kata “kampung” dalam judul buku
melambangkan ruang periferi—wilayah pinggiran yang kerap alput dari perhatian
dan fasilitas negara. Sementara kata “UGM” menjadi representasi horizon cita-cita
yang mulanya tampak mustahil. Lewat ketekunan, Thomas membuktikan bahwa
pendidikan mampu menjadi daya dorong mobilitas vertikal. Setelah menyelesaikan
studi dan meniti karier dari guru Bahasa Inggris, kepala sekolah, hingga
pengawas sekolah di Kabupaten Kupang, ia membuktikan bahwa keberhasilan
akademik tidak mencabut dirinya dari akar sosial.
Daya tarik utama memoar ini terletak pada konsistensi peran Thomas yang
berevolusi dari seorang pembaca, penulis, hingga menjadi “guru bagi para guru”.
Usai mendirikan Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia) NTT pada 2014 dan
memimpinnya selama dua periode, ia aktif mendampingi para pendidik di berbagai
kabupaten seperti Lembata, Ngada, hingga Timor Tengah Selatan untuk
menghasilkan artikel, karya ilmiah, dan buku. Menulis baginya juga merupakan
bentuk keberanian intelektual, sebagaimana terekam ketika kritik tertulisnya
mengenai kebijakan anggaran daerah di media lokal sempat memicu polemik namun
justru mengukuhkan integritasnya.
Secara filosofis, buku ini menegaskan bahwa proses belajar mengajar
sejatinya tidak berhenti di dalam ruang kelas atau lembaran kurikulum formal.
Tradisi literasi yang diusung Thomas memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang
diendapkan melalui tulisan sanggup melampaui batas-batas birokrasi pendidikan.
Pembentukan watak kritis dan budaya menulis di kalangan guru NTT yang
diinisiasinya menjadi bukti konkret bahwa transformasi pendidikan nasional
senantiasa membutuhkan keteladanan praksis, bukan sekadar jargon reformasi dari
atas.
Melalui bahasa yang lugas dan narasi yang jujur, buku ini menyajikan
perjalanan yang melingkar. Secara geografis, Thomas bergerak menjauh dari Solor
menuju pusat kebudayaan di Yogyakarta. Namun secara eksistensial, ia justru
berjalan pulang. Ilmu dan pengalaman yang didapat di rantau ia kembalikan ke
tanah kelahirannya lewat gerakan literasi dan pendampingan masyarakat,
membuktikan bahwa intelektualitas sejati selalu berpijak pada bumi yang
dibelanya.
Secara kritis, alur narasi buku ini sempat mengalami pergeseran fokus di
bagian akhir—bergerak dari tensi perjuangan pendidikan yang intens menuju
romantisme dinamika kehidupan keluarga di Lewoleba. Kendati demikian, bagian
ini tetap dapat dibaca sebagai potret utuh bahwa keberhasilan hidup tidak
semata diukur dari capaian karier formal, melainkan juga dari kebermaknaan
dalam membina ruang domestik dan merawat hubungan kemanusiaan.
Sebagai sebuah memoar, Anak Kampung ke UGM berhasil menghadirkan
arsip ingatan kolektif tentang pergulatan anak-anak dari timur Indonesia dalam
merebut hak atas pendidikan tinggi. Kisah personal Thomas tidak berdiri
sendiri, melainkan mewakili cermin ketangguhan generasi pendidik yang
mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di tengah
keterbatasan sarana dan prasarana.
Anak Kampung ke UGM memberi pesan pedagogis yang kuat bagi para siswa dan pendidik:
keterbatasan ekonomi bukanlah vonis mati bagi cita-cita, dan mengajar serta
menulis adalah dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Pada akhirnya,
keberhasilan sejati bukanlah seberapa jauh seseorang meninggalkan kampung
halamannya, melainkan seberapa besar cahaya ilmu yang ia bawa pulang untuk
menerangi tempat asalnya.*** (Mariana Sogen)
seseorang meninggalkan kampung
halamannya, melainkan seberapa besar cahaya ilmu yang ia bawa pulang untuk
menerangi tempat asalnya.
0 Komentar