Unordered List

6/recent/ticker-posts

PETRUS PULANG KE RUMAH BAPA Oleh Radegunda Anem Taum

 


                                                            Oleh Radegunda Anem Taum

Rumah sakit selalu berbau sama: karbol, obat-obatan, dan kecemasan yang menggantung di udara.

Namun, bagiku, kamar nomor 10 di ujung lorong itu telah menjadi rumah keduaku selama tiga bulan terakhir.

Di atas ranjang, Petrus terbaring dengan tubuh yang semakin ringan. Tubuh yang dahulu tegap, yang pernah menggendongku melewati gang sempit rumah kos kami, kini tinggal tulang dan kulit. Kanker telah menggerogotinya perlahan, seperti api kecil yang tak pernah benar-benar padam.

Setiap pagi, pukul lima, aku membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Pukul tujuh, kusuapi bubur yang telah disaring, sesendok demi sesendok, menunggu dengan sabar sampai ia mampu menelannya. Siang hari kubacakan cerita. Malam hari kupijat kakinya yang semakin dingin.

Ritual itu kami jalani seperti doa.

Suatu pagi, Petrus berkata pelan,

“Kamu capek, Sayang? Pulanglah. Istirahat.”

Aku tersenyum. Kugenggam tangannya yang tulang-tulangnya mulai menonjol.

“Rumahku di sini. Di samping kamu.”

Dokter sudah mengatakan tidak banyak yang bisa dilakukan. Keluarga pun perlahan belajar mengucapkan kata yang paling sulit: ikhlas.

Tetapi kesetiaanku tidak pernah dibangun dari logika.

Enam tahun lalu, di sebuah rumah kecil, kami pernah mengucapkan janji: dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit.

Dan kini, aku hanya sedang menepati janji itu.

 

Siang itu, Yogyakarta berjalan seperti biasa.

Kendaraan memenuhi jalan. Orang-orang bergegas mengejar urusan masing-masing. Matahari menggantung di atas kota. Tetapi di kamar nomor 10, waktu seakan berjalan dengan cara yang berbeda.

Tiba-tiba napas Petrus memburu.

Bunyi monitor berubah. Teratur sesaat, kemudian kacau.

Aku panik. Kupanggil perawat, tetapi sebelum siapa pun datang, aku sudah naik ke sisi ranjang dan memeluk tubuh suamiku.

Seperti dahulu.

Seperti ketika kami masih tinggal di kamar kos yang sempit dan dunia belum mengenal kata kanker.

“Sayang, dengarkan aku.”

Air mataku jatuh ke pelipisnya.

“Terima kasih sudah menjadi suami yang baik. Terima kasih sudah mengizinkan aku mencintai kamu sampai hari ini.”

Aku menarik napas panjang.

“Kalau Sayang sudah capek, tidak apa-apa. Tidurlah. Tidur yang nyenyak.”

Petrus membuka mata.

Dengan sisa tenaga yang entah disimpan di mana, tangannya terangkat. Jemarinya menyentuh wajahku, menghapus air mata yang mengalir.

“I love you, Rat...na.”

Suaranya terputus-putus.

“...ikhlaskan a...ku pergi. Ini yang terbaik untukmu... dan anak kita.”

Setelah itu, napasnya semakin pelan.

Lalu berhenti.

Tepat pukul tiga belas.

Garis di monitor memanjang lurus.

Dokter dan perawat berlari masuk. Ruangan yang beberapa detik sebelumnya begitu sunyi mendadak dipenuhi langkah kaki, suara perintah, dan tangis.

Namun bagiku, dunia justru menjadi senyap.

Aku terduduk di samping ranjang.

Aku tidak menangis.

Aku tidak berteriak.

Seolah-olah tubuhku belum mengerti bahwa lelaki yang selama enam tahun kupanggil suami baru saja pergi.

 

Bersiap Pulang ke Kampung

 

Jenazah Petrus dibawa ke kamar jenazah untuk dimandikan dan dipersiapkan.

Aku berdiri di lorong.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Lorong rumah sakit itu tetap ramai. Orang-orang datang dan pergi. Pintu-pintu terbuka dan tertutup. Telepon berdering.

Tetapi bagiku, semuanya seperti bergerak jauh di luar diriku.

Menjelang pukul enam petang, Petrus dibawa pulang.

Bukan dengan kendaraan yang biasa kami gunakan.

Bukan sebagai suami yang akan membuka pintu rumah dan memanggil nama anak kami.

Ia pulang dengan ambulans.

Sirene meraung membelah jalan-jalan Yogyakarta yang mendadak terasa asing. Di dalam ambulans, Petrus terbaring kaku di dalam peti. Kemeja telah dikenakan. Celana hitam. Sepatu dan kaus kaki putih.

Tidak ada lagi selang infus yang harus kuawasi.

Tidak ada obat yang perlu kutanyakan.

Tidak ada lagi suara Petrus menahan sakit.

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku tidak perlu khawatir tentang rasa sakit suamiku.

Dan justru itulah yang paling menyakitkan.

Aku duduk di samping peti.

Tanganku menyentuh kayu itu.

Dingin.

 

Ketika ambulans berhenti di depan rumah, malam telah turun.

Pintu belakang dibuka.

Beberapa kerabat mengangkat peti kayu itu perlahan. Para pelayat yang sejak tadi bercakap-cakap mendadak diam.

Aku berdiri di sampingnya.

“Selamat datang di rumah sementaramu, Sayang,” bisikku.

Aku ingin menangis.

Tetapi tidak bisa.

Kemudian anak kami datang.

Ia memandang peti kayu yang sedang dibawa masuk.

“Mama...”

“Iya, Sayang?”

“Kenapa Bapa tidur di dalam kotak?”

Aku terdiam.

“Kenapa Bapa tidak bangun?”

Pertanyaan sederhana itu menghantam lebih keras daripada kabar kematian yang kuterima beberapa jam sebelumnya.

Aku berjongkok dan memeluk anakku.

“Bapa capek, Nak.”

Hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku.

Ia kembali bertanya,

“Bapa tidak mau memeluk aku lagi?”

Saat itulah pertahananku terasa runtuh.

Namun aku menahannya.

Bukan karena aku kuat.

Aku hanya belum boleh hancur.

Ada seorang anak kecil yang masih membutuhkan ibunya.

 

Orang-orang memuji ketabahanku malam itu.

Mereka berkata aku hebat.

Tidak pingsan.

Tidak meraung.

Tidak menangis di depan banyak orang.

Mereka tidak tahu bahwa di dalam diriku ada suara yang menjerit tanpa henti.

Aku ingin membongkar peti itu.

Aku ingin Petrus bangun.

Aku ingin lelaki itu kembali menggendong anak kami.

Aku ingin mendengar satu kali lagi suaranya memanggil,

“Sayang...”

Tetapi peti itu sudah tertutup.

Segelnya sudah terpasang.

Separuh hidupku terasa ikut terkunci di dalamnya.

Bagaimana aku harus menangis jika air mataku sendiri terasa membeku?

Bagaimana aku harus berteriak jika sebagian diriku telah pergi bersama lelaki yang kucintai?

 

Ruang tengah rumah itu dahulu penuh dengan suara Petrus.

Di sanalah ia biasa duduk setelah pulang bekerja. Melepaskan lelah. Bercerita tentang hari yang panjang. Sesekali menyandarkan kepala di bahuku.

Malam itu, tempat yang sama berubah menjadi ruang duka.

Di depan peti, sebuah foto Petrus diletakkan.

Dalam foto itu ia tersenyum.

Senyum yang begitu hidup.

Aku menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis.

Bukan tangis yang keras.

Hanya air mata yang jatuh satu-satu, seperti hujan yang terlambat.

Aku mendekati peti dan meletakkan telapak tanganku di atas kayu.

“Terima kasih, Sayang.”

Aku menarik napas.

“Pulanglah dengan tenang.”

Untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa mencintai seseorang kadang-kadang berarti belajar melepaskannya.

Bukan karena cinta telah selesai.

Justru karena cinta ingin membiarkannya beristirahat.

Peti itu kelak akan ditutup tanah.

Tubuh yang selama enam tahun kupeluk akan kembali kepada bumi.

Tetapi cinta tidak ikut dikuburkan.

Ia akan tinggal di rumah ini, dalam suara anak kami, dalam foto yang tergantung di dinding, dalam kenangan tentang seorang ayah yang pernah menggendong anaknya, dan dalam doa-doa yang akan kupanjatkan diam-diam pada sepertiga malam.

 

Malam itu aku akhirnya memahami arti kata pulang.

Aku telah menghantarkan Petrus pulang dua kali.

Pertama, ketika ia masih hidup—dengan kesetiaan, dengan tangan yang tak pernah lelah merawat, dengan janji yang tetap kupegang ketika harapan hampir habis.

Kedua, ketika hidupnya telah selesai—dengan air mata, doa, dan keikhlasan yang lahir dari luka paling dalam.

Kini tinggal satu perjalanan lagi.

Bukan perjalanan Petrus.

Perjalananku dan anak kami.

Kupeluk anakku erat-erat.

Di luar, malam Yogyakarta terus berjalan.

Ada kendaraan melintas. Ada suara orang berbicara. Ada angin yang menyentuh daun-daun.

Dunia ternyata tidak berhenti ketika seseorang meninggal.

Dunia tetap berjalan.

Dan karena itu, aku harus belajar berjalan pula.

Dengan separuh hati yang terasa hilang.

Dengan sisa kekuatan yang masih ada.

Aku menatap foto Petrus sekali lagi.

“Beristirahatlah, Sayang.”

Kali ini suaraku tidak bergetar.

“Tidak ada lagi sakit. Tidak ada lagi penat.”

Kuelus kepala anakku.

“Biar kami yang melanjutkan perjalanan.”  

Petrus telah pulang ke rumah Bapa.****

 

Posting Komentar

0 Komentar