Unordered List

6/recent/ticker-posts

Yulius Lamanepa: Musik yang Tumbuh dari Lewo, Menemani Perantauan


                                


Yulius Lamanepa, pegiat seni 


Ada orang yang memilih musik sebagai profesi. Ada pula orang yang menemukan musik sebagai bagian dari dirinya sejak usia sangat muda. Yulius Lamanepa termasuk yang kedua. Musik baginya bukan sekadar bunyi, bukan pula hanya kegiatan untuk mengisi waktu luang. Musik telah tumbuh bersamanya sejak masa kanak-kanak, menjadi ruang untuk berekspresi, tempat menemukan kegembiraan, sekaligus jalan panjang yang kemudian membawanya dari tanah kelahiran menuju Jakarta.

Kecintaan Yulius terhadap musik sudah terlihat sejak usianya sekitar empat tahun. Pada usia yang masih sangat dini itu, ia telah senang menyanyi sambil memainkan alat musik tradisional yang dikenal dengan sebutan juk. Bagi seorang anak kecil, kegiatan tersebut mungkin tampak sebagai permainan. Namun, dari kebiasaan sederhana itulah perlahan-lahan tumbuh sebuah bakat yang kemudian terus diasah sepanjang hidupnya.

Dunia seni semakin dekat ketika Yulius mulai berani tampil di panggung sandiwara. Panggung menjadi tempat pertama baginya untuk mengenal bagaimana seorang seniman berhadapan dengan penonton. Ia belajar tampil, mengolah suara, membangun keberanian, dan menikmati perhatian publik. Dari panggung sederhana itu, ia mulai menemukan bahwa dirinya memiliki kegembiraan tersendiri ketika bernyanyi dan menari.

Bernyanyi dan menari menjadi dua dunia yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan keseniannya. Ia menikmati keduanya bukan semata-mata karena ingin tampil, melainkan karena seni memberikan ruang baginya untuk mengekspresikan perasaan dan kreativitas. Dari sinilah kemampuan itu terus berkembang. Perlahan, sedikit demi sedikit, Yulius mengasah kemampuan bernyanyi dan membangun kepercayaan dirinya sebagai seorang penggiat seni.

Dari Watoone Menuju Waiwerang

Pendidikan formal juga menjadi bagian dari perjalanan hidup Yulius. Ia menyelesaikan pendidikan di SMP Lamaholot 1912 Watoone, kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA Suryamandala Waiwerang.

Masa sekolah menjadi periode penting dalam pembentukan dirinya. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan, Yulius merasakan bahwa bakat seninya belum berkembang sebagaimana yang ia harapkan. Ada dorongan dalam dirinya untuk mencari ruang yang lebih luas, ruang yang memungkinkan dirinya bekerja sekaligus mengembangkan kemampuan yang selama ini telah tumbuh sejak kecil. Pilihan itu kemudian membawanya kepada keputusan besar, merantau ke Jakarta. 

                                                    

                                        ,                  Meraih mimpi di metropolitan 

Jakarta pada waktu itu bukanlah tempat yang mudah bagi seorang anak muda yang datang dari daerah. Kota besar menawarkan banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan persaingan dan ketidakpastian. Yulius datang tanpa saudara dan tanpa kenalan dekat yang dapat menjadi tempat bergantung. Ia harus membangun kehidupannya sendiri.

Ia mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, musik tidak pernah benar-benar ditinggalkannya. Di sela-sela perjuangan mencari nafkah, dunia seni tetap menjadi bagian dari kehidupannya. Ia menyanyi, bermusik, mencari kesempatan tampil, dan terus menjaga bakat yang telah tumbuh sejak kecil.

Di sinilah terlihat bahwa bagi Yulius, musik bukan sesuatu yang muncul ketika keadaan sedang menyenangkan. Musik justru menjadi bagian dari perjuangannya sebagai seorang perantau.

Ketika Mimpi Menemukan Ruang

Perjalanan Yulius di Jakarta mulai menemukan titik penting ketika pada tahun 1995 ia memperoleh kesempatan mencoba masuk ke dunia rekaman. Ia mulai merekam karya-karyanya di sebuah dapur rekaman.

Bagi sebagian orang, proses rekaman mungkin hanya sebuah pekerjaan teknis. Tetapi bagi Yulius, pengalaman tersebut merupakan sebuah pintu yang membuka harapan baru. Suara yang selama bertahun-tahun hanya terdengar di panggung-panggung kecil dan lingkungan terbatas mulai memiliki kesempatan untuk menjangkau pendengar yang lebih luas.

Dari satu rekaman ke rekaman berikutnya, perjalanan bermusiknya terus berkembang. Beberapa karya kemudian dikenal oleh publik. Tidak semuanya berlangsung dalam jalan yang mudah, tetapi pengalaman tersebut membuktikan satu hal: ketekunan yang dipelihara dalam waktu panjang pada akhirnya dapat menemukan jalannya sendiri.

Tahun 1995 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan keseniannya. Dari sana, musik tidak lagi sekadar kegemaran masa kecil. Musik telah menjadi bagian dari identitas Yulius sebagai seorang seniman.  Namun, perjalanan itu tidak membuatnya berhenti pada pencapaian masa lalu.

Musik yang Tidak Pernah Berhenti

Waktu terus berjalan. Kesibukan hidup bertambah, pekerjaan dan tanggung jawab semakin banyak. Tetapi musik tetap memiliki tempat khusus dalam kehidupan Yulius.

Ia terus bermusik.  Di tengah kesibukan sebagai seorang perantau, ia tetap menyempatkan diri untuk bernyanyi dan berkarya. Baginya, seni bukan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika seseorang memasuki usia dewasa atau ketika kehidupan menuntut perhatian pada pekerjaan dan keluarga. Justru dalam perjalanan hidup yang panjang itulah seni menemukan maknanya yang lebih dalam.

Musik menjadi semacam benang merah yang menghubungkan masa kecil, masa muda, kehidupan perantauan, hingga kehidupan sosialnya sekarang.

Ada sesuatu yang menarik dalam perjalanan tersebut. Yulius tidak hanya membawa dirinya ke Jakarta. Ia juga membawa bagian dari tanah kelahirannya. Di dalam suara, irama, pengalaman panggung, dan kecintaannya pada seni, tersimpan ingatan tentang kampung halaman, tentang lingkungan sosial tempat ia bertumbuh, dan tentang kebudayaan yang membentuk dirinya.

Karena itu, ketika ia kemudian kembali terlibat lebih aktif dalam kegiatan komunitas Witihama di Jakarta, dunia seni seperti menemukan rumah barunya.

Ketika Seni Menjadi Bagian dari Pengabdian

Dalam kelompok Witihama Taan Tou, Yulius dipercaya menjadi Koordinator Seni Budaya. Kepercayaan tersebut seolah menjadi momentum baru dalam perjalanan keseniannya.

Insting seninya kembali menggeliat. Ia tidak lagi hanya berpikir tentang dirinya sendiri sebagai penyanyi atau pemain musik. Ia mulai melihat seni sebagai kekuatan yang dapat menghidupkan komunitas. Seni dapat menjadi ruang perjumpaan. Seni dapat mempertemukan generasi muda dan generasi tua. Seni dapat menjadi sarana untuk menjaga ingatan budaya sekaligus memperkenalkan identitas Witihama di tanah perantauan.

Dari posisi tersebut, berbagai gagasan mulai muncul. Yulius berusaha merancang kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang dapat melibatkan banyak orang. Ia membuka ruang kolaborasi dengan mereka yang memiliki kemampuan dan karya di bidang masing-masing.

Ada penyanyi, pemusik, penari, pelaku seni tradisional, maupun mereka yang memiliki minat terhadap kebudayaan daerah. Semua dapat dipertemukan dalam satu ruang kreativitas.  Di sinilah peran Yulius mengalami perubahan penting: dari seorang pelaku seni menjadi penggerak seni.

Ia tidak hanya bertanya, "Apa yang dapat saya nyanyikan?" tetapi mulai berpikir, "Apa yang dapat kita ciptakan bersama?"

Menjaga Identitas melalui Seni

Bagi masyarakat perantauan, kebudayaan memiliki fungsi yang sangat penting. Ketika seseorang hidup jauh dari Lewo Tanah, identitas tidak selalu dapat dipertahankan hanya melalui ingatan. Ia membutuhkan ruang untuk dihidupkan kembali.

Musik, tarian, bahasa, cerita rakyat, dan berbagai bentuk ekspresi budaya dapat menjadi jembatan antara generasi yang lahir di tanah asal dan generasi yang tumbuh di tanah perantauan. Yulius tampaknya memahami hal itu melalui pengalaman hidupnya sendiri. 

Ia pernah menjadi anak kecil yang memainkan juk dan bernyanyi. Ia pernah berdiri di panggung sandiwara. Ia pernah menjadi anak muda yang membawa mimpi ke Jakarta tanpa saudara dan kenalan dekat. Ia pernah mengetuk pintu dunia rekaman. Ia mengalami perjalanan panjang sebagai pekerja dan perantau. Dan kini, setelah melewati perjalanan tersebut, ia memperoleh kesempatan untuk menggunakan pengalaman seninya bagi komunitas.

Karena itu, musik bagi Yulius bukan hanya tentang masa lalu. Musik juga berbicara tentang masa depan. Ia ingin agar seni tetap hidup di tengah masyarakat Witihama di perantauan. Lebih dari itu, seni dapat menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Witihama kepada lingkungan yang lebih luas.

Dari Panggung Pribadi ke Panggung Komunitas

Perjalanan Yulius Lamanepa memperlihatkan sebuah transformasi yang menarik. Dahulu ia bernyanyi untuk mengekspresikan dirinya. Kini ia menggunakan pengalaman bermusiknya untuk membuka ruang bagi orang lain.

Dahulu panggung menjadi tempat bagi dirinya untuk menunjukkan kemampuan. Kini panggung dapat menjadi tempat bagi banyak orang untuk bertemu dan berkarya.

Dahulu musik merupakan kegemaran seorang anak kecil. Kini musik menjadi bagian dari pengabdian seorang perantau kepada komunitasnya.

Di titik inilah perjalanan Yulius menemukan makna yang lebih luas. Seni tidak berhenti pada tepuk tangan penonton. Seni dapat menjadi cara untuk merawat identitas, mempererat persaudaraan, dan menjaga hubungan batin dengan tanah asal.

Yulius Lamanepa adalah salah satu contoh bahwa perantauan tidak selalu berarti meninggalkan kampung halaman. Seseorang memang dapat pergi jauh secara geografis, tetapi nilai-nilai, ingatan, budaya, dan kecintaan terhadap tanah asal dapat tetap dibawa dalam perjalanan.

Jakarta memberinya ruang untuk berkembang. Namun, setelah bertahun-tahun hidup di tanah rantau, ia kembali menghadirkan sesuatu untuk komunitas asalnya: pengalaman, kreativitas, suara, dan seni.

Dari seorang anak kecil yang bermain juk di tanah kelahiran, perjalanan itu akhirnya sampai pada sebuah panggung yang lebih besar—panggung kebersamaan.


                                    

                                       Yulius Lamanepa dalam suatu konser di Witihama 

Dan di panggung itulah Yulius Lamanepa terus bernyanyi. Bukan hanya untuk dirinya, bukan hanya untuk musik. Tapi juga menjaga agar denyut seni dan kebudayaan Witihama hidup di tanah perantauan.  **  

                                                                                                                    Konradus R Mangu Bahi 





  

Posting Komentar

0 Komentar