Bojong Indah, Gagas Indonesia Satu
GELARAN Turnamen Futsal Witihama Cup I berakhir setelah melewati final pada Minggu, 1 November 2026. Kemenangan sebagai Juara I diraih tim Honihama disusul tim Watoone, Riangduli dan juara IV, tim Weranggere. Hal ini berarti Honihama menjadi tim terbaik menyisikan 15 tim lainnya yang telah berlaga seminggu sebelumnya. Pertandingan ini berlangsung di lapangan Sekolah Lamaholot, Bojong Indah Jakarta Barat, disaksikan ratusan warga Witihama yang tersebar di wilayah Jabodetabek.
Dua tim yang paling akhir bertanding adalah tim Honihama berhadapan dengan tim Watoone (1912). Menariknya sebelum kedua tim bertanding diantar dengan tarian hedung (tari khas Lamaholot) mengiringi kedua tim masuk dalam lapangan untuk bertanding. Selebrasi demikian memantik rasa dukungasn setiap suporter. Sesuai catatan penulis sekitar 500 an warga Witihama hadir menyaksikan laga bergengsi itu .
Pertandingan kedua tim cukup menguras emosi, bahkan ketegangan pemain. Warga pendukung tetap antusias menyaksikan dari pinggir lapangan. Bukan hanya tim Watoone tak ketinggalan tim Honihama yang tampil memukau para penonton yang hadir.
Gaya pertandingan yang ditunjukkan khususnya tim Honihama cukup menarik perhatian. Maklum salah seorang pemain (Fortunatus Lamaile) pernah bermain mewakili NTT beberapa tahun lalu di Malang, Surabaya. Bahkan sosok ini memiliki sekolah bola yang dikelolahnya di Jakarta Barat. Pertandingan yang sangat memancing emosi penonton itu beerakhir dengan kemenangan Honihama dengan skor 3-2.
Petrus CKL Belo, SH
Khusus pertandingan Honihama, Petrus CKL Belo, SH seorang pengacara asal Watoone ini berkomentar teknik permainan yang ditunjukkan para pemain Honihama dan pemain Watoone sangat baik (walaupun timnya kalah). Ia sportif mengakui keunggulan tim Honihama. Kendati demikian ia juga merasa senang Watoone bisa masuk final dan jadi juara dua.
Berbeda dengan Paulina Surat (istri Petrus) yang mengatakan ketidaktelitian wasit dalam memimpin pertandingan. Ia mengamati terjadi dua kali pelanggaran dilakukan pemain (berhadapan Watoone dan tima lainnya) disaksikan hari itu lolos dari perhatian wasit. Ia menyarankan ke depan hal ini perlu diperhatikan sehingga tidak terjadi aksi protes pemain maupun para pendukungnya.
Tokoh senior Witihama, asal Lamaleka - Kamilus Inglan memuji teknik permainan tim Honihama . Sosok pemain depan , Ariyel yang dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam turnamen ini memiliki kemampuan penguasaan bola yang sangat bagus. Demikian juga Alwin Wilhelmus, pemain dari Honihama dinobatkan sebagi Top Score dalam laga tersebut.
Yulius Lamanepa, sang penyanyi Lamaholot asal Witihama tak henti -hentinya memuji cara kerja panitia sehingga berakhir dengan baik dan sukses. "Saya mengacungkan jempol buat adik-adik panitia yang bekerja sangat rapi mengatur pertandingan ini sehingga pelaksanaan turnamen ini tak ada cacat sedikitpun,'' katanya.
Keberhasilan turnamen Witihama tak bisa diingkari. Untuk itu tak ada salah Kamil Inglan merasa perlu mendorong dipikirkan turnamen diperluas menjadi tingkat Adonara. Ada banyak pemain hebat dari desa lain, kemudian digabungkan menjadi kekuatan Adonara yang sangat baik dan tangguh sehingga ia menggagas turnamen ini boleh tingkat Adonara.
Aba Wahid Key berterima kasih kepada warga Witihama karena secara kolaborasi membantu pelaksanaan turnamen ini. Tak lupa ia menyampaikan terima kasih kepada pihak yayasan dan sekolah Lamaholot yang telah menyediakan fasilitas lapangan untuk pertandingan ini. Atas kesediaan yayasan dan sekolah ini telah digelar turnamen seelama dua hari 18 Oktober dan 1 November 2026 yang telah dilaksanakan dengan baik.
Agustinus Demon Kebon, dalam sambutan penutup menyebut biasanya warga Witihama dikenal "kepala batu" alias susah diatur bahkan stigma suka membuat keonaran namun fakta hari ini turnamen yang telah digagas berlangsung dengan sangat tertib. Ia memiliki harapan kegiatan serupa akan dilaksanakan dan terus perlu mendapat dukungan warga Witihama.
Momentum futsal hanyalah sebagai sarana bagi warga Witihama, seperti disaksikan penulis mereka memiliki kerinduan mendalam untuk saling beertemu dan menyapa. Dalam petandingan ada kekalahan juga kemenangan. Meski ada yang kalah mereka toh menerima kekalahan sebagai cambuk untuk nanti lebih maju kelak dan inilah setiap tim perlu legowo untuk menerimanya.
Seperti disaksikan warga Witihama terlihat seperti enggan untuk beranjak. Saat ada lantunan musik mengudara di lapangan luas Lamaholot, bahkan mereka berdecak kagum dengan kebeersamaan itu. Kemeriahn semakin sempurna, Martin Kurman dengan kemampuan bermain organnya bak tingkat "dewa" dibarengi suara khas Boston Lamawuran juga tak ketinggalan Yulius Lamanepa. Suasana ini mengingatkan bahwa keebersamaan tetap menjadi harapan dan kerinduan bersama warga Witihama di rantau. **
Laporan dari Lamaholot; Konrad R. Mangu



0 Komentar