Dr. Edu Hena Lamabelawa
JAKARTA, Gagas
Indonesiasatu.com
Semangat kebersamaan dan
kekeluargaan warga perantauan asal Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, di
wilayah Jabodetabek kini semakin terkonsolidasikan. Kehadiran wadah baru
bernama Witihama "Taan Tou"
dideklarasikan sebagai pilar strategis untuk menyatukan rasa, merajut
kebersamaan, serta saling memotivasi agar generasi muda rantau dapat melangkah
lebih maju ke depan.
Hal tersebut diungkapkan oleh akademisi Universitas
Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Dr. Eduardus Hena Lamabelawa, saat ditemui di
sela-sela kegiatan Witihama Turnamen Cup I di halaman Sekolah Lamaholot, Bojong
Indah , Jakarta Barat.
Menurut Edu, gagasan awal pembentukan wadah ini bermula
ketika Uskup Larantuka memimpin Perayaan Ekaristi Kudus di Jakarta. Dalam
momentum tersebut, ia berdiskusi dengan sejumlah tokoh masyarakat Witihama
seperti Agus Demon Kebon, Dominikus Pugel, Yulius Lamanepa, Ansel, dan tokoh
lainnya mengenai pentingnya membangun soliditas perantauan.
"Kita melihat banyak organisasi dari NTT maupun
Flores di mana pun kita selalu ikut, tetapi warga Witihama belum sepenuhnya
kompak. Sekarang kita terobos bentuk wadah baru ini tanpa mengganggu paguyuban
yang sudah ada di setiap desa atau kampung," ujar Dr. Edu Hena.
Ia menegaskan, Withama Taan Tou dirancang secara khusus
agar terhindar dari konflik kepentingan (interest) yang berpotensi mengganggu kekompakan di
masa lalu. Dengan demikian, setiap program dan langkah yang dijalankan di dalam
wadah ini murni berorientasi pada penyatuan ikatan batin, saling menyapa, serta
saling mengisi kekurangan antar-sesama saudara.
"Mudah-mudahan ke depan, ketika ada yang mengalami
kesulitan, kita bisa mencari solusi dan saling berbagi, sehingga sesama warga
Kecamatan Witihama di perantauan bisa sama-sama gelekat (mengabdi) dengan mengangkat nama Lewo Tokan
Witihama," tambahnya.
Mengenai kegiatan perdana yang diselenggarakan hari ini,
Minggu ( 25/10/2026) Dr. Edu menilai pemilihan turnamen futsal sebagai langkah
awal sudah sangat tepat. Menurutnya, olahraga merupakan sarana yang mudah
dijangkau oleh siapa saja, tanpa dibatasi oleh jenjang usia maupun tingkat
pendidikan.
"Ini adalah kegiatan perdana yang bisa menyatukan
kita semua dari warga Witihama. Buktinya, anak-anak Witihama bisa bersatu di
perantauan," ungkapnya antusias.
Selain mempererat tali silaturahmi, kegiatan ini juga
dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi untuk mengidentifikasi berbagai persoalan
yang dihadapi warga di perantauan. Tanpa disadari, proses pemetaan masalah tersebut
sedang berjalan secara alami di tengah interaksi warga.
"Mungkin ada persoalan-persoalan kecil yang
kelihatannya sulit diatasi, nyatanya bisa diselesaikan kalau kita bersama-sama.
Ada agenda lain yang dibicarakan untuk mencari solusi jika ada hal yang belum
mencapai titik penyelesaian," jelas dosen Unika Atma Jaya tersebut.
Sebagai seorang pendidik dan akademisi, Dr. Edu juga
memberikan perhatian khusus pada masa depan generasi muda Witihama. Ia kerap
melontarkan pertanyaan reflektif kepada para pemuda di perantauan, seperti
memastikan apakah mereka sedang menempuh pendidikan tinggi atau bekerja, serta
mengidentifikasi hambatan-hambatan yang mungkin dihadapi.
Ia optimistis, melihat potensi besar yang dimiliki
generasi muda saat ini, jika dibina dan diarahkan dengan baik melalui
pendidikan yang berkualitas, maka dalam 5 hingga 10 tahun ke depan akan lahir
banyak anak-anak Witihama yang sukses di perantauan.
"Jadi yang pasti, di tengah kehidupan yang sangat
kompetitif ini, generasi muda mesti disiapkan untuk menyongsong masa depan
mereka yang lebih baik," pungkasnya.
Sebanyak 16 tim yang berasal dari desa di Witihama bertanding. Sekitar 400 an warga Witihama turut menyaksikan pertandingan perdana ini. Menurut rencana Minggu (1 November 2026) dilanjutkan dengan pertandingan final untuk menentukan juara. ***
Konradus R. Mangu
.jpeg)
0 Komentar