Menjadi prodiakon di Paroki Tangerang, Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB), bukanlah pengalaman baru bagi Dimas Setiawan. Jauh sebelumnya Dimas dipercaya untuk aktif seksi Panggilan. Ia memang dikenal aktif dalam kehidupan menggereja. Pengabdiannya tumbuh perlahan melalui berbagai bentuk pelayanan dan keterlibatan dalam kehidupan umat. Kini ia menjadi prodikaon sekaligus diberi tugas penasihat Prodiakon HSPMTB Tangerang.
Dimas telah menjadi umat Paroki HSPMTB sejak tahun 2001.
Namun, pengalaman hidup menggerejanya bahkan sudah dimulai jauh sebelumnya,
ketika ia masih berada di paroki Kebon Dalem, Semarang Jawa Tengah. Di sana, ia
pernah legioner. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting yang
membentuk dirinya untuk semakin mencintai kehidupan menggereja dan pelayanan
kepada umat.
Setelah bergabung dengan komunitas umat di Paroki HSPMTB,
Dimas tidak langsung menjadi prodiakon. Ia terlebih dahulu menjalani berbagai
bentuk pelayanan. Ia pernah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP), serta
mengikuti Kursus Kitab Suci. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal rohani
sekaligus proses pembentukan dirinya sebelum akhirnya dipercaya menjalankan
tugas sebagai prodiakon.
Sejak tahun 2019, Dimas mulai menjalankan pelayanan sebagai
prodiakon. Ia termasuk dalam jajaran prodiakon yang mendapat kepercayaan untuk
menjalankan tugas pelayanan hingga tahun 2029.
“Mulai tahun 2019 sampai dengan sekarang saya menjadi
prodiakon, bersama dengan 145 prodiakon lainnya hingga tahun 2029. Saya
mengakui bahwa menjadi pelayan altar seperti ini tidak mudah. Tantangannya
bukan hanya datang dari luar komunitas, tetapi juga dari dalam komunitas
sendiri,” ungkap Dimas.
Keterlibatan ini membuatnya semakin memahami bahwa menjadi
prodiakon bukan sekadar menerima tugas liturgis. Di balik tugas membagikan
Komuni Kudus, terdapat tanggung jawab moral dan spiritual untuk menghadirkan
wajah Kristus di tengah umat.
Perjalanan Panjang dalam Pelayanan
Ketika pertama kali bergabung dengan Paroki HSPMTB pada tahun
2001, Dimas sudah terlibat dalam berbagai kegiatan dan pelayanan paroki. Ia
pernah bergabung dalam tim komper, termasuk terlibat dalam tim katekese paroki.
Karena itu, ketika kemudian dipercaya menjadi prodiakon,
tugas tersebut bukanlah sesuatu yang benar-benar asing baginya. Pelayanan
sebagai prodiakon merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang yang telah ia
jalani selama bertahun-tahun.
Bagi Dimas, setiap bentuk pelayanan memiliki hubungan satu
sama lain. Pengalaman dalam berbagai kegiatan gerejani telah mengajarinya untuk
memahami karakter umat, bekerja bersama dalam komunitas, serta menghadapi
berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan bersama.
Latar belakang pendidikan Dimas sebagai alumni Akademi Bahasa
Asing (ABA) di Semarang juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun,
pengalaman yang paling membentuk dirinya justru berasal dari keterlibatannya
dalam kehidupan umat.
Ia belajar bahwa pelayanan tidak selalu berjalan mulus. Ada saat ketika seseorang diterima, tetapi ada pula ketika seseorang harus menghadapi perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan tantangan dari sesama anggota komunitas. Justru dalam keadaan seperti itulah, menurut Dimas, seorang pelayan dituntut untuk semakin dewasa dalam iman.
Bagi Dimas, tugas seorang prodiakon tidak boleh dipersempit
hanya pada kegiatan membagikan Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi. Lebih dari
itu, seorang prodiakon dipanggil untuk membawa Kristus kepada mereka yang
merindukan kehadiran-Nya.
Pelayanan kepada umat yang sakit menjadi salah satu
pengalaman yang sangat berarti baginya. Ketika seseorang karena kondisi
kesehatannya tidak dapat datang ke gereja untuk mengikuti Ekaristi, kehadiran
seorang prodiakon yang membawa Komuni Kudus menjadi bentuk nyata perhatian
Gereja. Di sanalah Dimas melihat bahwa pelayanan memiliki dimensi kemanusiaan
yang sangat kuat.
“Melayani mereka yang lemah, susah dan terpinggirkan adalah
pengalaman ketika mereka merasakan kasih Tuhan dalam kehidupan mereka,”
katanya.
Bagi Dimas, orang sakit bukanlah orang yang kehilangan tempat
dalam kehidupan Gereja. Sebaliknya, mereka tetap menjadi bagian penting dari
tubuh Kristus. Karena itu, ketika seorang prodiakon datang mengunjungi dan
membawa Komuni Kudus, sesungguhnya ia tidak hanya membawa hosti, tetapi juga
membawa penghiburan, perhatian dan kasih Gereja.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat Dimas semakin
menyadari bahwa pelayanan bukan tentang dirinya. Pelayanan adalah tentang
bagaimana melalui dirinya orang lain dapat mengalami kebaikan Tuhan.
“Jika sebelum saya menjadi prodiakon saya suka emosi atau
marah dengan siapa pun, setelah menjadi pelayan altar saya semakin mewaspadai
jalan hidup saya,” ujarnya.
Kesadaran tersebut menjadi salah satu buah terpenting dari
pelayanannya. Dimas menyadari bahwa seorang prodiakon tidak hanya dilihat
ketika berada di sekitar altar. Sikap dan perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari juga menjadi bagian dari kesaksian iman. Karena itu, seorang
prodiakon harus mampu menjaga tutur kata, sikap dan hubungan dengan sesama.
Prodiakon Dimas memandang pelayanan sebagai prodiakon sebagai
salah satu bentuk puncak pelayanan dalam perjalanan hidupnya di Paroki HSPMTB
Tangerang.
Puncak yang ia maksud bukanlah jabatan atau kedudukan yang
lebih tinggi daripada pelayanan lainnya. Sebaliknya, “puncak” berarti sebuah
tahap ketika seseorang semakin menyadari bahwa hidupnya harus diberikan bagi
orang lain.
Semakin bertambah usia, Dimas justru semakin belajar untuk
tidak memaksakan kehendak. Ia memilih untuk mengikuti keputusan bersama selama
keputusan tersebut membawa kebaikan bagi umat dan komunitas.Baginya, pelayanan
harus dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan.
Seorang pelayan tidak selalu harus menjadi orang yang
didengar. Ada kalanya ia justru harus belajar mendengarkan. Tidak selalu harus
menjadi orang yang berada di depan, tetapi bersedia berjalan bersama orang
lain.
Dalam pemahaman seperti itu, pelayanan menjadi sebuah latihan
kerendahan hati. Dimas menyadari bahwa semakin lama seseorang melayani, semakin
besar pula tuntutan untuk mengosongkan diri dari kepentingan pribadi.
Perjalanan pelayanan Dimas sebagai prodiakon tentu tidak selalu mudah. Berbagai tantangan hadir, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam komunitas. Namun, ia tidak melihat tantangan sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, tantangan menjadi kesempatan untuk memperkuat iman.
Ia percaya bahwa dalam setiap kesulitan, Tuhan tidak pernah
meninggalkan umat-Nya. “Setiap pengalaman ada naik dan ada turun dalam soal
iman. Sekiranya Tuhan tidak akan pernah gagal mengusahakan keinginan baik ini,”
katanya.
Keyakinan tersebut membuat Dimas terus bertahan dalam
pelayanan.Ia percaya bahwa manusia dapat mengalami kelemahan, kegagalan, bahkan
jatuh dalam perjalanan hidup. Namun, ketika seseorang mau bangkit dan kembali
kepada Tuhan, selalu ada jalan untuk melanjutkan perjalanan.
“Ketika jatuh, Tuhan akan menolong,” demikian keyakinan yang
terus ia pegang. Dari pengalaman pelayanan itulah Dimas merasa dirinya semakin
belajar menjadi pribadi yang rendah hati.
Dimas merupakan bagian dari umat Lingkungan St. Pontianus,
Wilayah Soter, Banjar Wijaya. Di tengah komunitas lingkungan tersebut, ia tidak
hanya hadir dalam kegiatan gerejawi, tetapi juga berusaha membangun kepedulian
terhadap sesama.
Baginya, semangat pelayanan tidak boleh berhenti di dalam
gedung gereja. Gereja bukan hanya tempat umat mengikuti Ekaristi, tetapi juga
komunitas yang dipanggil untuk menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan
sehari-hari. Karena itu, kepedulian kepada sesama harus menjadi bagian dari
kehidupan umat.
Pengalaman sebagai prodiakon semakin menguatkan kesadaran
tersebut. Pelayanan kepada orang sakit, umat yang membutuhkan perhatian, maupun
mereka yang mengalami kesulitan menjadi bagian dari panggilan untuk
menghadirkan wajah Kristus.
Dimas percaya bahwa di tengah dunia yang semakin kompleks dan
tantangan kehidupan yang semakin berat, umat Katolik dipanggil untuk tidak
berjalan sendiri. Kebersamaan dalam komunitas menjadi kekuatan untuk saling
menopang.
Melayani dengan
Ikhlas
Setelah melewati perjalanan panjang dalam kehidupan
menggereja, Dimas sampai pada sebuah kesadaran sederhana: pelayanan bukan
tentang seberapa besar seseorang terlihat, melainkan seberapa tulus ia
memberikan dirinya.
Menjadi prodiakon baginya merupakan sebuah panggilan untuk
semakin dekat dengan Kristus sekaligus semakin dekat dengan sesama.
Ia menyadari bahwa selama menjalankan pelayanan, akan selalu
ada tantangan. Ada keberhasilan dan kegagalan, ada penerimaan dan penolakan,
ada saat-saat penuh semangat dan ada pula saat ketika iman terasa diuji.
Namun, semuanya itu merupakan bagian dari perjalanan. Dimas
memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu menyertai setiap niat baik yang
dilakukan dengan ketulusan.
“Di tengah tantangan yang semakin berat, saya yakin Tuhan
pasti menolong. Kendati tantangan itu sangat berat,” katanya.
Keyakinan itulah yang membuatnya tetap bertahan sebagai
pelayan.Bagi Dimas Setiawan, menjadi prodiakon bukan sekadar tugas di sekitar
altar. Prodiakon adalah perjalanan untuk belajar mengendalikan diri, melayani
dengan rendah hati, hadir bagi mereka yang membutuhkan, dan membawa Kristus
kepada siapa pun yang merindukan kasih-Nya.
Pada akhirnya, pelayanan menjadi sebuah perjalanan iman.
Semakin seseorang melayani, semakin ia menyadari bahwa dirinya bukanlah pusat
dari pelayanan itu. Kristuslah pusatnya.
Dan ketika seorang pelayan mampu menjalankan tugasnya dengan
ikhlas, rendah hati dan penuh kasih, di sanalah pelayanan menemukan maknanya
yang terdalam.**
Konradus R. Mangu
.jpeg)
0 Komentar