Unordered List

6/recent/ticker-posts

Dimas Setiawan ; Prodiakon sebagai Puncak Pelayanan


                                                    

                                              Dimas Setiawan, Prodiakon St Maria

Menjadi prodiakon di Paroki Tangerang, Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB), bukanlah pengalaman baru bagi Dimas Setiawan. Jauh sebelumnya Dimas dipercaya untuk aktif seksi Panggilan. Ia memang dikenal aktif  dalam kehidupan menggereja. Pengabdiannya tumbuh perlahan melalui berbagai bentuk pelayanan dan keterlibatan dalam kehidupan umat. Kini ia menjadi prodikaon sekaligus diberi tugas penasihat Prodiakon HSPMTB Tangerang. 

Dimas telah menjadi umat Paroki HSPMTB sejak tahun 2001. Namun, pengalaman hidup menggerejanya bahkan sudah dimulai jauh sebelumnya, ketika ia masih berada di paroki Kebon Dalem, Semarang Jawa Tengah. Di sana, ia pernah legioner. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting yang membentuk dirinya untuk semakin mencintai kehidupan menggereja dan pelayanan kepada umat.

Setelah bergabung dengan komunitas umat di Paroki HSPMTB, Dimas tidak langsung menjadi prodiakon. Ia terlebih dahulu menjalani berbagai bentuk pelayanan. Ia pernah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP), serta mengikuti Kursus Kitab Suci. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal rohani sekaligus proses pembentukan dirinya sebelum akhirnya dipercaya menjalankan tugas sebagai prodiakon.

Sejak tahun 2019, Dimas mulai menjalankan pelayanan sebagai prodiakon. Ia termasuk dalam jajaran prodiakon yang mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas pelayanan hingga tahun 2029.

“Mulai tahun 2019 sampai dengan sekarang saya menjadi prodiakon, bersama dengan 145 prodiakon lainnya hingga tahun 2029. Saya mengakui bahwa menjadi pelayan altar seperti ini tidak mudah. Tantangannya bukan hanya datang dari luar komunitas, tetapi juga dari dalam komunitas sendiri,” ungkap Dimas.

Keterlibatan ini membuatnya semakin memahami bahwa menjadi prodiakon bukan sekadar menerima tugas liturgis. Di balik tugas membagikan Komuni Kudus, terdapat tanggung jawab moral dan spiritual untuk menghadirkan wajah Kristus di tengah umat.

Perjalanan Panjang dalam Pelayanan

Ketika pertama kali bergabung dengan Paroki HSPMTB pada tahun 2001, Dimas sudah terlibat dalam berbagai kegiatan dan pelayanan paroki. Ia pernah bergabung dalam tim komper, termasuk terlibat dalam tim katekese paroki.

Karena itu, ketika kemudian dipercaya menjadi prodiakon, tugas tersebut bukanlah sesuatu yang benar-benar asing baginya. Pelayanan sebagai prodiakon merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.

Bagi Dimas, setiap bentuk pelayanan memiliki hubungan satu sama lain. Pengalaman dalam berbagai kegiatan gerejani telah mengajarinya untuk memahami karakter umat, bekerja bersama dalam komunitas, serta menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan bersama.

Latar belakang pendidikan Dimas sebagai alumni Akademi Bahasa Asing (ABA) di Semarang juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, pengalaman yang paling membentuk dirinya justru berasal dari keterlibatannya dalam kehidupan umat.

Ia belajar bahwa pelayanan tidak selalu berjalan mulus. Ada saat ketika seseorang diterima, tetapi ada pula ketika seseorang harus menghadapi perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan tantangan dari sesama anggota komunitas. Justru dalam keadaan seperti itulah, menurut Dimas, seorang pelayan dituntut untuk semakin dewasa dalam iman.

Bagi Dimas, tugas seorang prodiakon tidak boleh dipersempit hanya pada kegiatan membagikan Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi. Lebih dari itu, seorang prodiakon dipanggil untuk membawa Kristus kepada mereka yang merindukan kehadiran-Nya.

Pelayanan kepada umat yang sakit menjadi salah satu pengalaman yang sangat berarti baginya. Ketika seseorang karena kondisi kesehatannya tidak dapat datang ke gereja untuk mengikuti Ekaristi, kehadiran seorang prodiakon yang membawa Komuni Kudus menjadi bentuk nyata perhatian Gereja. Di sanalah Dimas melihat bahwa pelayanan memiliki dimensi kemanusiaan yang sangat kuat.

“Melayani mereka yang lemah, susah dan terpinggirkan adalah pengalaman ketika mereka merasakan kasih Tuhan dalam kehidupan mereka,” katanya.

Bagi Dimas, orang sakit bukanlah orang yang kehilangan tempat dalam kehidupan Gereja. Sebaliknya, mereka tetap menjadi bagian penting dari tubuh Kristus. Karena itu, ketika seorang prodiakon datang mengunjungi dan membawa Komuni Kudus, sesungguhnya ia tidak hanya membawa hosti, tetapi juga membawa penghiburan, perhatian dan kasih Gereja.

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat Dimas semakin menyadari bahwa pelayanan bukan tentang dirinya. Pelayanan adalah tentang bagaimana melalui dirinya orang lain dapat mengalami kebaikan Tuhan.

 Menjadi prodiakon mengubah cara pandang. Perjalanan menjadi prodiakon juga membawa perubahan dalam diri Dimas. Ia mengakui bahwa sebelum menjadi prodiakon, dirinya masih mudah terbawa emosi. Namun, setelah menjalani pelayanan sebagai pelayan altar, ia semakin belajar mengendalikan diri dan berhati-hati dalam bersikap.

“Jika sebelum saya menjadi prodiakon saya suka emosi atau marah dengan siapa pun, setelah menjadi pelayan altar saya semakin mewaspadai jalan hidup saya,” ujarnya.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu buah terpenting dari pelayanannya. Dimas menyadari bahwa seorang prodiakon tidak hanya dilihat ketika berada di sekitar altar. Sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian dari kesaksian iman. Karena itu, seorang prodiakon harus mampu menjaga tutur kata, sikap dan hubungan dengan sesama.

 Ia menyebut dirinya harus mampu menjadi “batu penjuru” bagi siapa pun di lingkungan tempat ia berada.Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa bagi Dimas, menjadi prodiakon berarti bersedia menjadi teladan dalam kehidupan bersama. Bukan berarti seorang prodiakon harus menjadi manusia yang sempurna, tetapi ia harus terus berusaha menghadirkan sikap yang mencerminkan kasih, kerendahan hati dan kesediaan melayani.

Prodiakon Dimas memandang pelayanan sebagai prodiakon sebagai salah satu bentuk puncak pelayanan dalam perjalanan hidupnya di Paroki HSPMTB Tangerang.

Puncak yang ia maksud bukanlah jabatan atau kedudukan yang lebih tinggi daripada pelayanan lainnya. Sebaliknya, “puncak” berarti sebuah tahap ketika seseorang semakin menyadari bahwa hidupnya harus diberikan bagi orang lain.

Semakin bertambah usia, Dimas justru semakin belajar untuk tidak memaksakan kehendak. Ia memilih untuk mengikuti keputusan bersama selama keputusan tersebut membawa kebaikan bagi umat dan komunitas.Baginya, pelayanan harus dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan.

Seorang pelayan tidak selalu harus menjadi orang yang didengar. Ada kalanya ia justru harus belajar mendengarkan. Tidak selalu harus menjadi orang yang berada di depan, tetapi bersedia berjalan bersama orang lain.

Dalam pemahaman seperti itu, pelayanan menjadi sebuah latihan kerendahan hati. Dimas menyadari bahwa semakin lama seseorang melayani, semakin besar pula tuntutan untuk mengosongkan diri dari kepentingan pribadi.

Perjalanan pelayanan Dimas sebagai prodiakon tentu tidak selalu mudah. Berbagai tantangan hadir, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam komunitas. Namun, ia tidak melihat tantangan sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, tantangan menjadi kesempatan untuk memperkuat iman.

Ia percaya bahwa dalam setiap kesulitan, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. “Setiap pengalaman ada naik dan ada turun dalam soal iman. Sekiranya Tuhan tidak akan pernah gagal mengusahakan keinginan baik ini,” katanya.

Keyakinan tersebut membuat Dimas terus bertahan dalam pelayanan.Ia percaya bahwa manusia dapat mengalami kelemahan, kegagalan, bahkan jatuh dalam perjalanan hidup. Namun, ketika seseorang mau bangkit dan kembali kepada Tuhan, selalu ada jalan untuk melanjutkan perjalanan.

“Ketika jatuh, Tuhan akan menolong,” demikian keyakinan yang terus ia pegang. Dari pengalaman pelayanan itulah Dimas merasa dirinya semakin belajar menjadi pribadi yang rendah hati.

Dimas merupakan bagian dari umat Lingkungan St. Pontianus, Wilayah Soter, Banjar Wijaya. Di tengah komunitas lingkungan tersebut, ia tidak hanya hadir dalam kegiatan gerejawi, tetapi juga berusaha membangun kepedulian terhadap sesama.

Baginya, semangat pelayanan tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja. Gereja bukan hanya tempat umat mengikuti Ekaristi, tetapi juga komunitas yang dipanggil untuk menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kepedulian kepada sesama harus menjadi bagian dari kehidupan umat.

Pengalaman sebagai prodiakon semakin menguatkan kesadaran tersebut. Pelayanan kepada orang sakit, umat yang membutuhkan perhatian, maupun mereka yang mengalami kesulitan menjadi bagian dari panggilan untuk menghadirkan wajah Kristus.

Dimas percaya bahwa di tengah dunia yang semakin kompleks dan tantangan kehidupan yang semakin berat, umat Katolik dipanggil untuk tidak berjalan sendiri. Kebersamaan dalam komunitas menjadi kekuatan untuk saling menopang.

Melayani dengan Ikhlas

Setelah melewati perjalanan panjang dalam kehidupan menggereja, Dimas sampai pada sebuah kesadaran sederhana: pelayanan bukan tentang seberapa besar seseorang terlihat, melainkan seberapa tulus ia memberikan dirinya.

Menjadi prodiakon baginya merupakan sebuah panggilan untuk semakin dekat dengan Kristus sekaligus semakin dekat dengan sesama.

Ia menyadari bahwa selama menjalankan pelayanan, akan selalu ada tantangan. Ada keberhasilan dan kegagalan, ada penerimaan dan penolakan, ada saat-saat penuh semangat dan ada pula saat ketika iman terasa diuji.

Namun, semuanya itu merupakan bagian dari perjalanan. Dimas memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu menyertai setiap niat baik yang dilakukan dengan ketulusan.

“Di tengah tantangan yang semakin berat, saya yakin Tuhan pasti menolong. Kendati tantangan itu sangat berat,” katanya.

Keyakinan itulah yang membuatnya tetap bertahan sebagai pelayan.Bagi Dimas Setiawan, menjadi prodiakon bukan sekadar tugas di sekitar altar. Prodiakon adalah perjalanan untuk belajar mengendalikan diri, melayani dengan rendah hati, hadir bagi mereka yang membutuhkan, dan membawa Kristus kepada siapa pun yang merindukan kasih-Nya.

Pada akhirnya, pelayanan menjadi sebuah perjalanan iman. Semakin seseorang melayani, semakin ia menyadari bahwa dirinya bukanlah pusat dari pelayanan itu. Kristuslah pusatnya.

Dan ketika seorang pelayan mampu menjalankan tugasnya dengan ikhlas, rendah hati dan penuh kasih, di sanalah pelayanan menemukan maknanya yang terdalam.**

Konradus R. Mangu

 

Posting Komentar

0 Komentar