Maria Magdalena Lilis Hariyani
BAGI Bu Lilis, menjadi prodiakon bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Panggilan itu datang melalui penunjukan ketua lingkungan. Ada perasaan kaget ketika pertama kali mendengar dirinya dipercaya untuk menjalankan tugas pelayanan tersebut. Ia pun tidak langsung menyanggupi. Namun, setelah mempertimbangkan permintaan itu, akhirnya Lilis bersedia menerima tugas tersebut dan mulai belajar menjalankan tanggung jawabnya sebagai prodiakon.
“Awalnya saya kaget karena ditunjuk oleh ketua lingkungan. Sebelumnya, saya tidak langsung mau. Namun, karena diminta, akhirnya saya menerima dan menjalankannya sebagai prodiakon,” ungkap Lilis mengenang awal keterlibatannya dalam pelayanan Gereja.
Seiring berjalannya waktu, Lilis mulai memahami bahwa panggilan pelayanan tidak selalu datang dari keinginan pribadi. Ada kalanya Tuhan menghadirkan kesempatan melalui kepercayaan orang lain. Baginya, kesediaan menerima tugas sebagai prodiakon merupakan awal dari sebuah proses pembelajaran iman. Ia percaya, melalui pelayanan ini, Tuhan memberinya kesempatan untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan semakin mengenal makna melayani.
Lilis telah menjadi umat Paroki Kutabumi sejak 1999. Perempuan yang berasal dari Jawa Tengah ini kemudian menerima pemberkatan dan pemberesan perkawinan pada 2024 oleh Romo Wahyu. Dalam kehidupan sehari-hari, ia menjalankan perannya sebagai istri dan ibu bagi seorang anak. Di tengah tanggung jawab keluarga tersebut, ia juga berusaha menyediakan waktu dan hati untuk melayani Tuhan serta sesama.
Pendidikan terakhirnya ditempuh di LP3I, tempat ia menyelesaikan pendidikan Diploma III (D-3) Komputer Akuntansi di Cimone, Tangerang. Bekal pendidikan dan pengalaman hidupnya menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya hingga saat ini. Namun, dalam pelayanan sebagai prodiakon, ia menyadari bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Seorang pelayan Gereja juga perlu memiliki kerendahan hati, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar.
Pelayanan yang Mengubah Sikap Iman
Bagi Lilis, salah satu buah terpenting dari pelayanan sebagai prodiakon ialah perubahan sikap iman. Ia menyadari bahwa melayani bukan sekadar menjalankan tugas yang dipercayakan oleh Gereja, melainkan juga kesempatan untuk membenahi diri agar semakin sesuai dengan ajaran Kristus.
Ia belajar melihat kehidupan sehari-hari sebagai tempat untuk mempraktikkan iman. Kesabaran, misalnya, bukan hanya diperlukan ketika menjalankan tugas di lingkungan atau paroki, tetapi juga dalam kehidupan berkeluarga. Demikian pula kerendahan hati tidak cukup diucapkan dalam doa, tetapi harus tampak melalui sikap dan tindakan nyata terhadap orang-orang di sekitarnya.
Lilis mengakui bahwa dirinya masih perlu banyak belajar. Ia ingin semakin sabar dalam menghadapi berbagai keadaan, baik dalam kehidupan keluarga, lingkungan, maupun komunitas paroki. Baginya, perubahan sikap iman merupakan proses yang tidak berhenti setelah seseorang menerima tugas pelayanan. Sebaliknya, pelayanan justru menjadi ruang untuk terus mengoreksi diri dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Pengalaman mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) juga menjadi bagian dari perjalanan imannya. Melalui pembelajaran iman tersebut, Lilis semakin menyadari pentingnya menghidupi dan mewartakan kabar baik. Pewartaan Injil tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui kesaksian hidup, kesediaan membantu sesama, serta sikap yang mencerminkan kasih Kristus.
bersama puteranya
Ia ingin agar pelayanan yang dijalankannya sungguh berangkat dari hati yang tulus. Bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan, melainkan sebagai ungkapan syukur atas iman dan kesempatan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
“Belajar untuk melayani Tuhan dan sesama,” demikian prinsip yang ingin terus dipegangnya.
Melayani dengan rendah hati, itulah yang tertanam dalam perziarahan imannya. Dalam menjalankan tugas sebagai prodiakon, Lilis memahami bahwa dirinya tidak dituntut menjadi pribadi yang sempurna. Yang terpenting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar, memperbaiki kekurangan, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Ia ingin melayani dengan rendah hati serta menyadari bahwa setiap pelayanan merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan.
Harapan itu pula yang ingin terus diwujudkannya pada masa mendatang. Lilis ingin semakin memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai prodiakon, sekaligus menjadikan setiap pengalaman pelayanan sebagai kesempatan untuk memperdalam iman.
Baginya, menjadi pelayan Gereja tidak berarti seseorang sudah selesai dengan proses pembentukan diri. Justru melalui pelayanan, seseorang semakin mengenali kelemahannya dan belajar mengubah sikap yang belum sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Kesabaran, ketulusan, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama menjadi nilai-nilai yang perlu terus dihidupi.
Ada satu kebahagiaan tersendiri bagi Lilis ketika melihat anak semata wayangnya kini aktif sebagai putra altar. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kehidupan iman keluarga yang ingin terus mereka tumbuhkan. Ia berharap, keterlibatan anaknya dalam pelayanan Gereja dapat menjadi kesempatan untuk belajar bertanggung jawab, mencintai Tuhan, dan melayani sesama sejak usia muda.
Panggilan yang Patut Ditanggapi
Setiap hari, Lilis menjalankan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Ia bekerja serta berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi di tengah kesibukan itu, ia juga berupaya memberikan diri bagi pelayanan Gereja. Baginya, kehidupan keluarga dan pelayanan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat menjadi tempat untuk menghidupi iman melalui kasih, kesabaran, pengorbanan, dan tanggung jawab.
Perjalanan Lilis mengingatkan kita bahwa panggilan melayani tidak selalu dimulai dengan kesiapan yang sempurna. Ada orang yang sejak awal memiliki kerinduan untuk melayani, tetapi ada pula yang baru menemukan makna panggilan setelah menerima kepercayaan dan menjalaninya dengan tekun.
Karena itu, ketika kesempatan untuk melayani datang, tidak ada salahnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk belajar dan bertumbuh. Keraguan pada awalnya bukan berarti seseorang tidak mampu menjadi pelayan yang baik. Dengan doa, pembinaan, keterbukaan hati, dan kesediaan memperbaiki diri, pelayanan dapat menjadi jalan menuju kedewasaan iman.
Lilis masih terus belajar. Ia tidak menganggap dirinya telah mencapai kesempurnaan, tetapi berusaha melangkah sedikit demi sedikit agar semakin sabar, rendah hati, dan setia dalam pelayanan. Baginya, yang terpenting bukanlah seberapa besar tugas yang dipercayakan, melainkan seberapa tulus tugas itu dijalankan.
Kisahnya menjadi ajakan bagi umat untuk tidak menutup diri ketika mendapat kepercayaan melayani. Mungkin hari ini seseorang merasa belum siap. Namun, siapa tahu, melalui kesempatan sederhana yang diberikan Tuhan, ia justru menemukan jalan untuk memperdalam iman dan menjadi berkat bagi orang lain.
Sebab, pada akhirnya, pelayanan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan bagi Gereja, melainkan juga tentang bagaimana pelayanan itu mengubah diri kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Dari kesediaan untuk melangkah, tumbuhlah iman; dari kesetiaan dalam tugas, lahirlah kasih; dan dari kerendahan hati, terpancarlah kabar baik bagi semua orang.**
Konradus R. Mangu


0 Komentar