Unordered List

6/recent/ticker-posts

Vitus Ola Ongenulan: Selalu Ada Rasa Suka Cita di Rumah Perantauan

 

                                                      Vitus Ola, istri dan tiga buah hatinya  


ADA semangat yang menyala di tengah perjuangan hidup di kota Jakarta. Kata orang Jakarta menjanjikan suatu yang manis apabila memiliki ketahanan untuk menggapainya. Lalu ?


Menapaki riuhnya kehidupan Jakarta kerap menuntut ketangguhan ekstra dari setiap pribadi yang memilih untuk merantau. Di tengah dinamika ibu kota yang menyimpan seribu satu cerita—mulai dari kisah kejayaan, lika-liku perjuangan, hingga momen yang sarat duka nestapa—kehadiran sebuah wadah persekutuan yang hangat menjadi pelipur lara sekaligus penopang langkah. Bagi Vitus Ola Ongenulan, perasaan bersyukur dan penuh suka cita selalu membuncah setiap kali ia melangkahkan kaki dan membaur bersama sesama warga perantau dalam wadah Keluarga Besar Honihama Jakarta (KBHJ).

Putra dari Thomas Tuwarian ini memahami betul betapa riuhnya ritme kerja dan kerasnya tantangan hidup di ibu kota. Sebagai seorang karyawan perbankan di Jakarta, lulusan Sarjana Psikologi UPI YAI Jakarta angkatan 2010 ini mengerti bahwa perantauan bukan sekadar tempat mengadu nasib, melainkan juga medan ujian kedewasaan. Kini, bersama sang istri dan tiga buah hatinya, ayah yang menetap di wilayah Jakarta Timur ini melihat bahwa ikatan kedaerahan bukanlah sekadar nostalgia masa lalu, melainkan fondasi penting untuk saling menguatkan di tanah rantau.

Bergabung dengan paguyuban Honihama di Jakarta bukan sekadar pilihan mengisi waktu luang, melainkan sebuah kebutuhan spiritual dan sosial yang amat krusial. Setiap kali menghadiri pertemuan rutin, selalu ada ruang untuk saling menyapa dan merajut kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat terenggangkan oleh kesibukan kota besar. Di tempat merantau seluas Jakarta, warga yang berasal dari satu kampung halaman pun belum tentu saling mengenal. Ada anak-anak muda yang baru saja mendarat dan mulai mengadu peruntungan, dan ada pula para senior yang telah puluhan tahun bermukim. Melalui perjumpaan yang digagas berkala setiap dua atau tiga bulan sekali inilah, sekoci kebersamaan itu terus dirawat. Antaranggota dapat saling berkabar, memastikan tidak ada saudara se-kampung yang berjuang sendirian saat tertimpa musibah, serta merayakan setiap kebahagiaan secara bersama-sama.

Lebih dari sekadar tempat melepas rindu, KBHJ memegang peran strategis sebagai sarana bertukar pikiran untuk membangun lewotana. Kehadiran secara fisik dalam setiap perjumpaan menjadi kunci utama dalam memupuk persatuan. Dalam ruang perjumpaan itu, keterbukaan pikiran dan keberanian menyampaikan gagasan sangat diperlukan. Setiap pendapat, argumentasi, dan sumbang saran dimanfaatkan secara bijak untuk membenahi tata kelola organisasi agar semakin solid. Proses berorganisasi ini sekaligus menjadi laboratorium belajar bagi seluruh warga perantau untuk berpendapat secara santun, berargumen secara sehat, dan melahirkan pemikiran-pemikiran produktif demi kemajuan bersama.

Rasa rindu akan kampung halaman selalu menjadi pemicu utama yang mempererat diskusi. Pembicaraan mengenai perkembangan fisik desa, kepedulian sosial, hingga wacana strategis lainnya senantiasa bergulir hangat, melibatkan segenap elemen warga Honihama di Jakarta. Kehadiran paguyuban ini menjadi jembatan nyata antara perantauan dan tanah kelahiran, memastikan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, hati dan kontribusi terbaik tetap tertuju untuk bumi Honihama.

Pesan hangat secara khusus dialamatkan kepada adik-adik atau generasi muda Honihama yang baru saja memilih melangkahkan kaki di kerasnya bumi Jakarta. Jangan pernah merasa segan, ragu, atau malu untuk mencari informasi, mengetuk pintu persaudaraan, dan rajin bertanya kepada para senior. Dalam kebersamaan, selalu ada jalan keluar untuk setiap kesulitan yang dihadapi. Bergandengan tangan dan saling menopang akan membuka peluang untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih positif dan berdampak luas. 

Langkah ini bukan hanya demi kemajuan Honihama belakangan hari, melainkan juga demi kejayaan wilayah yang lebih besar, lewo Witihama. Mari kita terus jaga nyala api persaudaraan ini, merapatkan barisan, dan menjadikan KBHJ sebagai rumah bersama yang selalu menghadirkan suka cita, harapan, serta karya nyata bagi tanah kelahiran tercinta.  **  

                                                                                                                       Konradus R. Mangu 













Posting Komentar

0 Komentar