Unordered List

6/recent/ticker-posts

Pastor Pencinta “Sole Oha” (In Memoriam: Pater Laurens Useng, SVD)

 

alm. Pater Laurens Useng, SVD

Setelah peristiwa pentahbisan uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Katedral Larantuka pada Rabu, 11 Februari 2026, datanglah berita duka yang menyelimuti Serikat Sabda Allah, Provinsi SVD Ende. Salah seorang anggota SVD, Pater Laurens Useng, SVD meninggal dunia. Sosok imam ini, penulis sendiri belum pernah ketemu secara langsung, namun cukup banyak mendengar cerita tentang karya-karya pastoral yang membumi di Paroki Koli-Sagu. Gaya pastoralnya menarik dan unik bahkan menyatu dengan umat.

Pater Laurens tidak hanya berbicara tentang penguatan ekonomi umat, namun beliau terlibat langsung bersama para petani di wilayah Koli – Adonara. Dengan terlibat bekerja, ia langsung mendengarkan apa yang menjadi keluhan kritis dari para petani yang hidup bertahan dari kemurahan hati alam. Cara berpastoral seperti ini, seakan menggeser mimbar Sabda dari ruang gereja ke tengah masyarakat. Ia berusaha mengulas apa yang menjadi pergulatan hidup para petani. Ia memberikan penguatan secara teologis terhadap karya-karya para petani. Teologi itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit tetapi tumbuh dalam ruang terbuka dan para teolog mengadopsinya pada tataran teologis yang tetap mengakar pada bumi-manusia.

Tak hanya pola pendekatan dalam kerja saja, namun Pater Laurens juga menghidupkan budaya lokal seperti sole-oha, sebuah tarian massal yang ada di Adonara. Menurut cerita yang saya peroleh bahwa setiap kali mengunjungi lingkungan-lingkungan, beliau selalu membawa “giring-giring” atau “bolong” dalam bahasa Lamaholot, yang biasa dipakai saat terlibat dalam tarian tradisional, Sole-oha. Pater Laurens juga dikenal mahir bertutur dengan menggunakan bahasa sastra lamaholot pada acara menari tradisional itu. Mengapa Pater Laurens menampilkan budaya-budaya lokal sebagai bagian penting dalam karya pastoral? Pertanyaan ini menjadi penting ketika dilihat dalam konteks peristiwa inkarnasi, Allah yang jauh, transenden, menjelma menjadi manusia, imanen, menetap bersama manusia.

Pater Laurens sedang membumikan pesan-pesan injil melalui keterlibatan penuh dalam bekerja kebun dan juga menuturkan nilai-nilai sastrawi pada momentum pelaksanaan sole-oha. Ia mengabarkan kabar suka cita melalui kearifan lokal agar pesan-pesan injil dan warta tentang Kerajaan Allah yang penuh dengan suka cita semakin dimengerti oleh umat yang dilayani. Menjadi pewarta Sabda seperti Pater Laurens Useng, SVD, harus berani untuk masuk dalam budaya setempat dan menghadirkan Kristus dengan cara unik dan menyenangkan. Umat yang pernah dilayani merasa kehilangan karena cara melayani mereka dengan kesederhanaan. Namun justeru dalam kesederhanaan itu mereka tak akan lupa akan kerendahan hati dan cara melebur diri bersama umat. Pater Laurens telah memperlihatkan esensi kristianitas, yakni menjadi garam dan terang dunia. Selamat memasuki hidup abadi.*** (Valery Kopong)

Posting Komentar

0 Komentar