Unordered List

6/recent/ticker-posts

Penyembuhan Kebutaan

                                        


Ketika Yesus lewat, dua orang buta mengikuti Dia sambil berseru, “Anak Daud, kasihanilah kami!” Matius 9:27

Bayangkan kedua pria ini sejenak. Tepat sebelum bagian ini, Yesus telah menyembuhkan seorang kusta, menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi, memulihkan kesehatan ibu mertua Petrus, membuat orang lumpuh berjalan, dan menghentikan pendarahan seorang wanita yang telah berlangsung bertahun-tahun. Ia telah mengusir setan, membebaskan orang-orang dari penindasan, dan bahkan membangkitkan seorang gadis berusia dua belas tahun dari kematian. Konteks ini penting saat kita membayangkan kedua orang buta ini berseru, "Anak Daud, kasihanilah kami!"

Kabar tentang Yesus dan mukjizat-mukjizat-Nya menyebar dengan cepat. Pada masa dan budaya itu, kebutaan sering kali menyebabkan mereka hidup mengemis kecuali keluarga mampu mencukupinya. Orang-orang ini sangat menderita, baik karena kebutaan fisik maupun karena marginalisasi yang menyertainya. Kemudian mereka mulai mendengar kisah-kisah—satu demi satu—tentang rabi baru ini, seorang nabi dari garis keturunan Daud, yang mungkin adalah Mesias yang dinantikan semua orang. Mereka mendengar tentang mukjizat-mukjizat-Nya dan langsung berharap Dia dapat menyembuhkan mereka juga. Jadi, ketika Yesus lewat, mereka tidak ragu-ragu.

Meskipun penyembuhan fisik bukanlah misi utama Yesus, tindakan-tindakan ini merupakan ungkapan kasih sayang dan otoritas ilahi-Nya yang kuat. Dengan menyembuhkan, Ia membawa kedamaian dan sukacita bagi hati yang resah, tetapi yang lebih penting, Ia menunjukkan bahwa perkataan-Nya mengandung otoritas ilahi. Injil Matius disusun sedemikian rupa sehingga Khotbah Yesus di Bukit—ringkasan ajaran-Nya—dimulai. Kemudian diikuti serangkaian mukjizat. Meskipun mukjizat-mukjizat ini merupakan tindakan kasih bagi mereka yang Ia sembuhkan, mukjizat-mukjizat ini juga berfungsi untuk meyakinkan kita saat ini untuk mendengarkan dan menaati firman-Nya.

Kita dipanggil untuk meneladani iman kedua orang buta ini. Kita harus percaya bahwa Yesus adalah jawaban atas segala kebutuhan kita, satu-satunya yang dapat menyembuhkan jiwa kita. Kita dapat melihat kebutaan fisik mereka sebagai metafora bagi kebutaan rohani kita sendiri. Sebagaimana mereka berseru memohon kesembuhan fisik, kita pun harus berseru memohon kesembuhan rohani.

Renungkanlah hari ini watak kedua orang buta ini. Meskipun kita hanya tahu sedikit tentang mereka, kita tahu mereka berseru kepada Yesus memohon belas kasihan dan kesembuhan. Doa mereka harus menjadi doa kita; harapan mereka, harapan kita; seruan mereka yang penuh semangat, permohonan kita memohon belas kasihan. Kesembuhan yang mereka cari tercermin dalam penyembuhan yang kita cari hari ini, khususnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Dalam sakramen inilah kita menemukan Yesus lewat, di mana kita berseru memohon belas kasihan dan di mana kita disembuhkan secara rohani. Marilah kita merindukan kesembuhan dari kebutaan rohani kita dan berseru kepada Yesus dengan tekun, mengikuti-Nya tanpa henti dalam doa. Dia akan mendengar dan menjawab kita.

Tuhanku yang menyembuhkan, meskipun banyak mukjizat-Mu menunjukkan kuasa ilahi-Mu atas alam, iblis, dan segala penyakit—bahkan kematian—kesembuhan terbesar yang Engkau tawarkan adalah kesembuhan jiwaku dari dosa. Kasihanilah aku, Tuhan. Sembuhkanlah kebutaan rohaniku agar aku dapat mengenal-Mu, mengikuti-Mu, dan hidup sesuai kehendak-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu. Amin.   ( Re-Post)

Posting Komentar

0 Komentar