Unordered List

6/recent/ticker-posts

Lazarus

 


Dalam renungan hari ini, buah dari pergumulan dan refleksi dengan dasar pijak pada kitab suci, yakni kitab Yesaya dan Injil Yohanes. Dalam Kitab Yesaya 42:1-7 oleh para ekseget Katolik dilihat sebagai Nyanyian seorang hamba Tuhan. Nabi Yesaya, tidak hanya tampil menubuatkan kedatangan Mesias, tetapi juga meramalkan sosok Mesias yang memerintah dengan penuh kelembutan. Nabi Yesaya memperkenalkan Mesias yang melaksanakan tugas perutusan, tidak hanya dengan penuh kelembutan tetapi juga merawat kesetiaan itu pada Allah yang telah mengutusnya dan juga sebagai bukti kecintaan pada manusia.  Ada beberapa point penting yang diperlihatkan oleh Yesaya tentang Mesias. Yesaya menguak identitas sesungguhnya dari seorang Hamba Tuhan. Yesus hadir sebagai, Mesias tidak hanya mengambil rupa sebagai manusia namun juga  menghambakan diri-Nya. Yesus sebagai seorang hamba, dapat kita lihat dalam kisah kelahirannya di kandang Betlehem. Ketika sang Mesias dilahirkan di kandang hina, hal ini memperlihatkan ketertutupan hati manusia dan tidak memberi ruang rumah bagi-Nya untuk dilahirkan secara layak. Bayi Yesus yang dilahirkan itu dibaringkan di palungan, tempat makanan hewan. Banyak penafsir kitab suci, memaknai bayi Yesus yang ada di palungan sebagai cara sederhana Sang Mesias menunjukkan diri sebagai roti hidup yang turun dari surga. Seperti palungan, tempat disajikannya makanan bagi kawanan domba, Yesus pun memperlihatkan diri sebagai roti hidup yang memberikan jaminan kekal bagi mereka yang memakan roti itu. 

Point penting lain yang digambarkan oleh Yesaya adalah   Misi Mesianik yang Lembut (Ayat 2-3). Mesias tidak membawa misi dengan berteriak, melainkan dengan cara yang lemah lembut. Meminjam bahasa Yesaya,  "buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya," hal ini  bermakna bahwa Mesias tidak membuang orang lemah, berdosa, atau patah hati, melainkan memulihkan mereka. Yesus tidak mengambil jarak dengan mereka yang tersisihkan dari panggung pergaulan namun justeru Ia menyatu dengan mereka. Mesias juga tampil untuk memberikan terang bagi mereka yang sedang mengalami kegelapan hidup, dan menggarami mereka yang sedang tawar hatinya. Menjadi garam dan terang inilah yang kemudian menjadi esensi kristianitas kita sebagai pengikut-Nya. Apa gunanya menjadi terang, jika berada di tempat yang terang benderang? Untuk apa menjadi garam jika tetap berada di dalam “gudang garam?”

Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini mau menghantar kita untuk memahami Yesus Kristus dalam terang Injil Yohanes. Penginjil Yohanes menyajikan teks kitab suci yang memiliki kedalaman makna teologis. Penginjil Yohanes tidak sekedar sebagai narator namun menyajikan kedalaman makna teologi yang berbeda dengan tiga Injil Sinoptik. Karena itu Injil Yohanes diberi simbol burung Rajawali yang terbang tinggi tanpa takut akan silau matahari. Dalam Injil Yohanes 12: 1-11 menggambarkan tindakan kasih dari Maria, saudara Lazarus (dari Betania) dan juga Lazarus yang menjadi puncak mukjizat yang dilakukan oleh Yesus terhadapnya. Maria dari Betania mengolesi minyak Narwastu yang mahal sebagai tindakan kasih yang tulus sekaligus mempersiapkan kematian bagi Yesus.

Ada beberapa point penting yang disoroti oleh penginjil Yohanes. Kasih dan Pengabdian Total (Maria dari Betania). Maria mengambil minyak narwastu yang sangat mahal dan menyekanya dengan rambutnya. Dalam teologi Katolik, ini melambangkan penyerahan diri secara total, penghormatan tertinggi, dan cinta kasih yang tidak mempedulikan biaya (bukan hitung-hitungan) kepada Yesus. Maria dari Betania, saudara Lazarus mengabaikan perhitungan manusiawi tentang untung  dan rugi, melainkan memberi dengan tulus. Kehadiran dan cinta tulus dari Yesus harus dibalas juga dengan kebaikan yang penuh simbolik. Hal ini berbeda dengan Yudas Iskariot. Yudas mengkritik tindakan Maria dengan dalih orang miskin, padahal ia serakah. Ini menjadi peringatan bagi umat beriman untuk memeriksa motivasi dalam melayani dan memberikan yang terbaik bagi Tuhan, bukan didasari oleh kepura-puraan atau keserakahan. Yudas menjadi murid Yesus, tidak berarti secara otomatis memperlihatkan kebaikan seperti yang diajarkan oleh Sang Gurunya, namun justeru memperlihatkan sisi gelap kehidupannya, bahkan menjual Sang Guru dengan harga tiga puluh keping perak. Yudas adalah prototipe dari sosok keserakahan dunia, namun masih disapa Yesus sebagai sahabat ketika Ia datang bersama para algoju untuk menangkap Sang Guru.

Tindakan simbolik yang diperlihatkan Maria, juga menyiapkan Paskah Yesus. Yesus menegaskan bahwa tindakan Maria adalah untuk hari penguburan-Nya (ayat 7). Ini menunjukkan bahwa Yesus secara sadar menerima pengurapan sebagai persiapan misi salib-Nya di Yerusalem yang sudah dekat. Dalam Injil Yohanes hari ini, kita bisa melihat bagaimana tindakan simbolik Maria untuk mempersiapkan jalan penderitaan yang harus dilalui Yesus. Orang-orang Yahudi tidak hanya mengincar Yesus untuk menghabisi nyawanya tetapi juga melenyapkan nyawa seorang Lazarus yang barusan dibangkitkan. Peristiwa Yesus membangkitkan Lazarus dilihat sebagai puncak karya mukjizatnya namun melalui proses pembangkitan Lazarus, hendak memberitakan kepada dunia bahwa seorang yang disebut Mesias telah hadir di tengah-tengah mereka.

Lazarus adalah potret kemiskinan dan orang-orang yang dibuang, limbah masyarakat. Namun yang tidak dipandang dunia, justeru Yesus hadir untuk ada bersamanya. Dia yang miskin dan dibangkitkan oleh Yesus, membuka mata dunia bahwa sang Mesias harus mati sebagai cara sederhana dalam menjalani misi penyelamatan dunia. Seorang Mesias, seorang penyelamat dunia, tidak melewati jalan mulus namun Ia harus menderita, mati, dikuburkan dan pada hari ke tiga Ia harus bangkit dari alam maut.

Tindakan untuk menghabisi nyawa Lazarus setelah Ia dibangkitkan oleh Yesus adalah tindakan pembungkaman dan sabotase yang dilaksanakan oleh ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tujuannya sederhana, supaya warta tentang karya Yesus melalui mukjizatnya, tidak disebarkan ke mana-mana. Lazarus hendak dibunuh dan Yesus pun dibunuh oleh tangan-tangan para algoju. Pembunuhan di sini, lebih dilihat sebagai tindakan untuk mengakhiri cerita hidup Yesus. Mereka  mendera Yesus, mulai dari Gabatha menuju Golgota. Bagi mereka, penderitaan yang dialami oleh Yesus dan kematian di kayu salib adalah puncak keberakhiran cerita tentang Yesus. Namun justeru karena kematian Yesus, Ia memperoleh kehidupan baru, melalui peristiwa kebangkitan-Nya.

Yesus tidak pernah melawan bahkan Ia setia memeluk derita di atas kayu salib. Ketika Yesus di atas kayu salib dan diolok-olok oleh para prajurit, “Jika Engkau anak Allah, turunkanlah diriMu dari atas kayu Salib.” Yesus bisa turun dari salib atas olokan itu, namun jika Ia benar-benar turun dari salib maka keselamatan belum terjadi. Masih ada proses panjang yang harus dilalui oleh Yesus. Ia tetap mendekap di kayu Salib sebagai tanda kesetiaan pada Allah Bapa-Nya dan bukti kecintaan terhadap manusia. Bagi orang Kristiani, Salib bukanlah akhir dari hidup Yesus, namun melalui  salib, Yesus berjalan dalam duka yang sunyi untuk menyelamatkan manusia.   Salib merupakan teladan dari tindakan tanpa perlawanan.”

Dalam Buku Harian Santa Faustina nomor 1002, Ia menggambarkan kerinduan terdalam untuk makan perjamuan bersama Yesus agar ia boleh mengalami penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Santa Faustina, rasul kerahiman Ilahi adalah orang sederhana, yang tidak sanggup berbicara, apalagi menulis. Namun oleh dorongan pembimbing rohaninya, Ia berani untuk bersaksi tentang kerahiman Allah. Hidup, karya dan pengalaman perjumpaan dengan Kristus yang tersalib, memberanikan Santa Faustina untuk terus bersaksi di hadapan dunia melalui tulisan-tulisannya. Santa Faustina, boleh saya juluki sebagai “jurnalis kerahiman” karena mendokumentasikan pengalaman imannya akan Kristus melalui tulisan-tulisan. Kita juga bersyukur atas karya para penulis Kitab Suci, yang memuat pengalaman iman umat Israel dan juga dokumen karya  dan ajarannya Yesus. Dalam keterbatasan, para penulis membuka diri terhadap karya Roh yang menggerakan kesadaran mereka untuk menulis apa yang mereka alami tentang Kristus. “Tentang apa yang kami alami, harus kami wartakan.” Memasuki Tri Hari Suci, kita menyelami kerahiman Allah yang menyata dalam diri Yesus. Ia menjalani Jumat Agung agar boleh mengalami Minggu kebangkitan. Masih Pas-kah, Paskah bagi kita di tahun ini? Selamat memasuki retret agung dan silentium magnum. *** (Valery Kopong)

 

  Catatan: Renungan ini dibawakan doa Koronka Kelompok Kerahiman Ilahi, Senin, 30 Maret 2026

 

Posting Komentar

0 Komentar