Dalam
renungan hari ini, buah dari pergumulan dan refleksi dengan dasar pijak pada
kitab suci, yakni kitab
Yesaya dan Injil Yohanes. Dalam Kitab Yesaya 42:1-7 oleh para ekseget Katolik
dilihat sebagai Nyanyian seorang hamba Tuhan. Nabi Yesaya, tidak hanya tampil
menubuatkan kedatangan Mesias, tetapi juga meramalkan sosok Mesias yang
memerintah dengan penuh kelembutan. Nabi Yesaya memperkenalkan Mesias yang
melaksanakan tugas perutusan, tidak hanya dengan penuh kelembutan tetapi juga
merawat kesetiaan itu pada Allah yang telah mengutusnya dan juga sebagai bukti
kecintaan pada manusia. Ada beberapa point penting yang diperlihatkan
oleh Yesaya tentang Mesias. Yesaya menguak identitas sesungguhnya dari seorang
Hamba Tuhan. Yesus hadir sebagai, Mesias tidak hanya mengambil rupa sebagai
manusia namun juga menghambakan diri-Nya. Yesus sebagai seorang hamba,
dapat kita lihat dalam kisah kelahirannya di kandang Betlehem. Ketika sang
Mesias dilahirkan di kandang hina, hal ini memperlihatkan ketertutupan hati
manusia dan tidak memberi ruang rumah bagi-Nya untuk dilahirkan secara layak.
Bayi Yesus yang dilahirkan itu dibaringkan di palungan, tempat makanan hewan.
Banyak penafsir kitab suci, memaknai bayi Yesus yang ada di palungan sebagai
cara sederhana Sang Mesias menunjukkan diri sebagai roti hidup yang turun dari
surga. Seperti palungan, tempat disajikannya makanan bagi kawanan domba, Yesus
pun memperlihatkan diri sebagai roti hidup yang memberikan jaminan kekal bagi mereka
yang memakan roti itu.
Point
penting lain yang digambarkan oleh Yesaya adalah Misi Mesianik yang Lembut (Ayat
2-3). Mesias tidak
membawa misi dengan berteriak, melainkan dengan cara yang lemah lembut.
Meminjam bahasa Yesaya, "buluh yang patah terkulai tidak akan
diputuskannya," hal ini bermakna bahwa Mesias tidak membuang
orang lemah, berdosa, atau patah hati, melainkan memulihkan mereka. Yesus tidak
mengambil jarak dengan mereka yang tersisihkan dari panggung pergaulan namun
justeru Ia menyatu dengan mereka. Mesias juga tampil untuk memberikan
terang bagi mereka yang sedang mengalami kegelapan hidup, dan menggarami mereka
yang sedang tawar hatinya. Menjadi garam dan terang inilah yang kemudian
menjadi esensi kristianitas kita sebagai pengikut-Nya. Apa gunanya menjadi
terang, jika berada di tempat yang terang benderang? Untuk apa menjadi garam
jika tetap berada di dalam “gudang garam?”
Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini mau menghantar kita untuk memahami
Yesus Kristus dalam terang Injil Yohanes. Penginjil Yohanes menyajikan teks
kitab suci yang memiliki kedalaman makna teologis. Penginjil Yohanes tidak
sekedar sebagai narator namun menyajikan kedalaman makna teologi yang berbeda
dengan tiga Injil Sinoptik. Karena itu Injil Yohanes diberi simbol burung
Rajawali yang terbang tinggi tanpa takut akan silau matahari. Dalam Injil
Yohanes 12: 1-11 menggambarkan tindakan kasih dari Maria, saudara Lazarus (dari
Betania) dan juga Lazarus yang menjadi puncak mukjizat yang dilakukan oleh
Yesus terhadapnya. Maria dari Betania mengolesi minyak Narwastu yang mahal
sebagai tindakan kasih yang tulus sekaligus mempersiapkan kematian bagi Yesus.
Ada beberapa point penting yang disoroti oleh penginjil Yohanes. Kasih dan
Pengabdian Total (Maria dari Betania). Maria mengambil minyak narwastu yang
sangat mahal dan menyekanya dengan rambutnya. Dalam teologi Katolik, ini
melambangkan penyerahan diri secara total, penghormatan tertinggi, dan cinta
kasih yang tidak mempedulikan biaya (bukan hitung-hitungan) kepada Yesus. Maria
dari Betania, saudara Lazarus mengabaikan perhitungan manusiawi tentang untung dan rugi, melainkan memberi dengan tulus.
Kehadiran dan cinta tulus dari Yesus harus dibalas juga dengan kebaikan yang
penuh simbolik. Hal ini berbeda dengan Yudas Iskariot. Yudas mengkritik
tindakan Maria dengan dalih orang miskin, padahal ia serakah. Ini menjadi
peringatan bagi umat beriman untuk memeriksa motivasi dalam melayani dan
memberikan yang terbaik bagi Tuhan, bukan didasari oleh kepura-puraan atau
keserakahan. Yudas menjadi murid Yesus, tidak berarti secara otomatis
memperlihatkan kebaikan seperti yang diajarkan oleh Sang Gurunya, namun justeru
memperlihatkan sisi gelap kehidupannya, bahkan menjual Sang Guru dengan harga
tiga puluh keping perak. Yudas adalah prototipe dari sosok keserakahan dunia,
namun masih disapa Yesus sebagai sahabat ketika Ia datang bersama para algoju
untuk menangkap Sang Guru.
Tindakan simbolik yang diperlihatkan Maria, juga menyiapkan Paskah Yesus. Yesus menegaskan bahwa tindakan Maria adalah untuk hari penguburan-Nya
(ayat 7). Ini menunjukkan bahwa Yesus secara sadar menerima pengurapan sebagai
persiapan misi salib-Nya di Yerusalem yang sudah dekat. Dalam Injil
Yohanes hari ini, kita bisa melihat bagaimana tindakan simbolik Maria untuk
mempersiapkan jalan penderitaan yang harus dilalui Yesus. Orang-orang Yahudi
tidak hanya mengincar Yesus untuk menghabisi nyawanya tetapi juga melenyapkan
nyawa seorang Lazarus yang barusan dibangkitkan. Peristiwa Yesus membangkitkan
Lazarus dilihat sebagai puncak karya mukjizatnya namun melalui proses
pembangkitan Lazarus, hendak memberitakan kepada dunia bahwa seorang yang
disebut Mesias telah hadir di tengah-tengah mereka.
Lazarus adalah potret kemiskinan
dan orang-orang yang dibuang, limbah masyarakat. Namun yang tidak dipandang
dunia, justeru Yesus hadir untuk ada bersamanya. Dia yang miskin dan
dibangkitkan oleh Yesus, membuka mata dunia bahwa sang Mesias harus mati
sebagai cara sederhana dalam menjalani misi penyelamatan dunia. Seorang Mesias,
seorang penyelamat dunia, tidak melewati jalan mulus namun Ia harus menderita,
mati, dikuburkan dan pada hari ke tiga Ia harus bangkit dari alam maut.
Tindakan untuk menghabisi nyawa
Lazarus setelah Ia dibangkitkan oleh Yesus adalah tindakan pembungkaman dan
sabotase yang dilaksanakan oleh ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tujuannya
sederhana, supaya warta tentang karya Yesus melalui mukjizatnya, tidak
disebarkan ke mana-mana. Lazarus hendak dibunuh dan Yesus pun dibunuh oleh
tangan-tangan para algoju. Pembunuhan di sini, lebih dilihat sebagai tindakan
untuk mengakhiri cerita hidup Yesus. Mereka mendera Yesus, mulai dari Gabatha menuju
Golgota. Bagi mereka, penderitaan yang dialami oleh Yesus dan kematian di kayu
salib adalah puncak keberakhiran cerita tentang Yesus. Namun justeru karena
kematian Yesus, Ia memperoleh kehidupan baru, melalui peristiwa
kebangkitan-Nya.
Yesus tidak pernah melawan bahkan
Ia setia memeluk derita di atas kayu salib. Ketika Yesus di atas kayu salib dan
diolok-olok oleh para prajurit, “Jika Engkau anak Allah, turunkanlah diriMu
dari atas kayu Salib.” Yesus bisa turun dari salib atas olokan itu, namun jika
Ia benar-benar turun dari salib maka keselamatan belum terjadi. Masih ada
proses panjang yang harus dilalui oleh Yesus. Ia tetap mendekap di kayu Salib
sebagai tanda kesetiaan pada Allah Bapa-Nya dan bukti kecintaan terhadap
manusia. Bagi orang Kristiani, Salib bukanlah akhir dari hidup Yesus, namun
melalui salib, Yesus berjalan dalam duka
yang sunyi untuk menyelamatkan manusia.
“Salib merupakan teladan dari tindakan tanpa perlawanan.”
Dalam Buku Harian Santa Faustina nomor 1002, Ia
menggambarkan kerinduan terdalam untuk makan perjamuan bersama Yesus agar ia
boleh mengalami penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Santa Faustina,
rasul kerahiman Ilahi adalah orang sederhana, yang tidak sanggup berbicara,
apalagi menulis. Namun oleh dorongan pembimbing rohaninya, Ia berani untuk
bersaksi tentang kerahiman Allah. Hidup, karya dan pengalaman perjumpaan dengan
Kristus yang tersalib, memberanikan Santa Faustina untuk terus bersaksi di
hadapan dunia melalui tulisan-tulisannya. Santa Faustina, boleh saya juluki
sebagai “jurnalis kerahiman” karena mendokumentasikan pengalaman imannya akan
Kristus melalui tulisan-tulisan. Kita juga bersyukur atas karya para penulis
Kitab Suci, yang memuat pengalaman iman umat Israel dan juga dokumen karya dan ajarannya Yesus. Dalam keterbatasan, para
penulis membuka diri terhadap karya Roh yang menggerakan kesadaran mereka untuk
menulis apa yang mereka alami tentang Kristus. “Tentang apa yang kami alami,
harus kami wartakan.” Memasuki Tri Hari Suci, kita menyelami kerahiman Allah
yang menyata dalam diri Yesus. Ia menjalani Jumat Agung agar boleh mengalami Minggu
kebangkitan. Masih Pas-kah, Paskah bagi kita di tahun ini? Selamat memasuki
retret agung dan silentium magnum. *** (Valery Kopong)
Catatan: Renungan
ini dibawakan doa Koronka Kelompok Kerahiman Ilahi, Senin, 30 Maret 2026

0 Komentar