Unordered List

6/recent/ticker-posts

Lisiawati Lase: Mengabdi di DPRD dengan Semangat Pelayanan Kristiani

                                    

                                              Lisiawati Lase, anggota DPRD Tangerang 

Kutabumi, Gagas Indonesia Satu.com 

Di tengah dinamika politik daerah, sosok Lisiawati Lase tampil sebagai figur yang memaknai jabatan bukan sekadar posisi kekuasaan, melainkan ruang pelayanan. Sebagai anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan di Kabupaten Tangerang, ia menegaskan bahwa tugas legislatif sejatinya tidak berbeda dengan pelayanan di lingkungan Gereja Katolik: melayani tanpa membeda-bedakan.

Bagi Lisiawati, amanah rakyat adalah panggilan moral. Ia melihat setiap keputusan, setiap suara, dan setiap tindakan di lembaga legislatif sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat luas. “Yang membedakan hanya lingkup pelayanannya. Jika di gereja melayani umat, di DPRD kita melayani semua orang tanpa kecuali,” menjadi prinsip yang ia pegang teguh.

Saat ditemui di Tangerang, Selasa  (24/3/2026) mengatakan meski menjadi satu-satunya anggota beragama Katolik di lembaga tersebut, Lisiawati tidak merasa terpinggirkan. Justru, kehadirannya menjadi jembatan yang menghadirkan nilai-nilai kasih, damai, dan persaudaraan di tengah keberagaman. Dalam keseharian, ia tetap menjalankan praktik imannya, termasuk membuat tanda salib sebelum memulai aktivitas. Hal ini diterima dengan baik oleh rekan-rekannya, mencerminkan harmoni yang terbangun di tengah perbedaan.

Dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran, Lisiawati menjunjung tinggi prinsip musyawarah. Ia menyadari bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dalam sebuah lembaga politik. Namun, baginya, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipertemukan dalam semangat mencari solusi terbaik. “Setiap anggota punya pandangan dan karakter masing-masing. Yang penting adalah bagaimana kita menemukan titik temu demi kepentingan bersama,” ungkapnya.

Salah satu contoh nyata kinerjanya terlihat saat menangani persoalan sampah di wilayah konstituennya. Ketika warga mengeluhkan bau menyengat akibat pembuangan sampah oleh pihak tertentu, Lisiawati mengambil langkah cepat dengan memanggil kedua belah pihak. Ia mendengarkan aspirasi warga sekaligus memberikan peringatan kepada perusahaan terkait. Hasilnya, praktik pembuangan sampah yang merugikan masyarakat dihentikan tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan.

Pendekatan dialogis dan solutif ini sejalan dengan slogan yang diusungnya, “Melayani dengan Hati.” Bagi Lisiawati, setiap persoalan harus diselesaikan melalui komunikasi yang jujur dan terbuka, dengan mengedepankan empati. Ia percaya bahwa solusi terbaik lahir dari hati yang tulus untuk mencari kebaikan bersama.

Sebagai warga Paroki Kutabumi, Gereja St. Gregorius, Lisiawati telah mengabdi sebagai anggota DPRD selama enam tahun. Dalam perjalanannya, ia terus berupaya menghadirkan bonum commune—kesejahteraan bersama—sebagai tujuan utama dari setiap kebijakan dan tindakan yang diambil.

Sebagai ibu dari dua anak, Lisiawati Lase membuktikan bahwa peran sebagai legislator dapat dijalankan dengan integritas, kepedulian, dan semangat pelayanan. Ia tidak hanya menjadi representasi politik, tetapi juga teladan tentang bagaimana iman dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan publik—menghadirkan damai, keadilan, dan harapan bagi masyarakat luas.

                                                                                                                                                             **                                                                                                                                   Konradus R, Mangu

Posting Komentar

0 Komentar