Frans Harum, tokoh Manggarai
Ada sesuatu yang sering kita lupakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan: kedekatan dengan alam. Padahal, di sanalah tubuh dipulihkan, pikiran dijernihkan, dan hati kembali tenang. Pengalaman itulah yang dirasakan oleh warga Keluarga Manggarai Bogor (KMB) saat melakukan tracking ke Puncak Paniisan—sebuah destinasi yang mungkin belum banyak dikenal, tetapi menyimpan kekayaan pengalaman yang luar biasa.
Di ketinggian sekitar 862 mdpl, perjalanan menuju Paniisan bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah perjalanan batin. Setiap langkah di jalur berbatu dan menanjak seakan mengajak kita berdialog dengan diri sendiri. Nafas yang tersengal perlahan berubah menjadi irama yang selaras dengan alam. Keringat yang mengalir bukan lagi beban, tetapi tanda kehidupan yang sedang bergerak.
Fransiskus Harum, salah satu penggerak kegiatan ini, sudah membuktikan manfaatnya. Bukan hanya kebugaran tubuh yang meningkat, tetapi juga kualitas hidup yang membaik. Dari keluhan kesehatan hingga rasa jenuh, semuanya perlahan terurai di tengah hijaunya pepohonan dan sejuknya udara pegunungan.
Namun, lebih dari sekadar olahraga, tracking ke Paniisan adalah tentang perjumpaan. Di sepanjang jalur, para pendaki disambut oleh warga lokal yang sederhana namun hangat. Ada yang menjajakan air minum, ada yang menyediakan makanan ringan. Interaksi kecil ini menjadi jembatan kemanusiaan—bahwa perjalanan kita juga memberi arti bagi orang lain.
Dan ketika akhirnya tiba di puncak, semua lelah itu terbayar lunas. Langit terbuka luas. Angin menyapa lembut. Secangkir teh hangat di tangan terasa begitu istimewa. Tawa, cerita, dan diskusi mengalir tanpa sekat. Di ketinggian itu, manusia kembali sederhana—tanpa beban status, tanpa hirarki, hanya sebagai sesama yang berbagi ruang dan waktu.
Inilah yang membuat Puncak Paniisan bukan sekadar tujuan, tetapi pengalaman.Bagi siapa pun yang merasa penat, jenuh, atau sekadar ingin mencoba sesuatu yang berbeda—Paniisan menunggu. Tidak harus menjadi pendaki profesional. Tidak perlu perlengkapan mahal. Cukup niat, semangat, dan kemauan untuk melangkah.
Setelah 50 meter berjalan berfoto bersama
Mari keluar sejenak dari rutinitas guna memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak dan jiwa untuk bernapas. Mari menyapa alam, dan mungkin… menemukan kembali diri kita yang sempat hilang.Karena terkadang, kebahagiaan itu sederhana:berjalan, bersama, menuju puncak.* Konradus R. Mangu



0 Komentar