Unordered List

6/recent/ticker-posts

Panggilan yang Mengalahkan Segalanya: Kisah Sr. Gaudensia, DAS

                                            


                                                                Sr. Gaudensia, DAS  

Di tengah kehidupan religius yang berkembang di berbagai belahan dunia, pengalaman setiap pelayan Tuhan memiliki warna yang berbeda. Sr. Gaudensia, DAS, seorang suster kelahiran Adonara, membagikan kisah panggilan dan pelayanannya yang penuh pergulatan, kesetiaan, dan pengorbanan.

Ia  saat ini  berkarya di Filipina, sebuah negara dengan mayoritas umat Katolik. Namun, baginya, realitas di sana tidak selalu seindah bayangan banyak orang. Ia melihat adanya sikap individualisme yang cukup tinggi, bahkan penghargaan terhadap hidup bakti tidak selalu tampak seperti yang ia rasakan di Indonesia. Meski demikian, panggilan hidup religius tetap tumbuh di sana—terlihat dari banyaknya imam, suster, dan bruder, termasuk dalam ordo-ordo seperti Agustinian.

Di balik tantangan itu, Sr. Gaudensia juga menemukan keindahan iman yang hidup. Ia menyaksikan bagaimana satu bangku panjang dalam Perayaan Ekaristi Kudus dapat dipenuhi oleh satu keluarga besar—bukan hanya orang tua dan anak, tetapi juga kakek, nenek, dan kerabat lainnya. Sebuah gambaran sederhana, namun sarat makna tentang kebersamaan dalam iman.

Bagi Sr. Gaudensia, karya pelayanan bukan sekadar tugas, melainkan misteri panggilan. Ia mengakui dengan jujur bahwa sebagai manusia, ia pernah merasakan jatuh cinta dan dicintai. Namun, di atas segalanya, ia memilih untuk menanggapi panggilan Tuhan. Pilihan itu membawanya berkarya di berbagai bidang pelayanan, termasuk di panti asuhan—tempat ia menghadirkan kasih bagi mereka yang membutuhkan.

Pengalamannya juga membawanya melayani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Dalam suatu kesempatan, ia pernah diminta untuk “melepas jubah” agar dapat melayani secara lebih bebas. Namun dengan tegas ia menolak. Baginya, identitas sebagai suster bukanlah sesuatu yang bisa dilepaskan sesuka hati.

“Orang lain mungkin bisa melakukannya, tetapi saya tidak,” ujarnya. Prinsip itu ia pegang teguh, bahkan saat bertugas di Palangkaraya, Kalimantan. Baginya, panggilan hidup bakti adalah totalitas—bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Namun di balik keeeteguhan hati ada luka yang tersimpan dalam diam. Tahun 2020 menjadi salah satu masa paling berat dalam hidupnya. Saat dunia dilanda pandemi Covid-19, ia menerima kabar duka: ayahandanya meninggal dunia. Dalam perjalanan dari Kupang menuju Kalimantan, ia baru mengetahui kabar itu setibanya di Surabaya.

Ia dihadapkan pada pilihan sulit: kembali pulang atau melanjutkan perutusan. Dengan hati yang berat, ia memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Kalimantan.

‘’Saya tidak bisa kembali,’’ kenangnya lirih. Di tengah duka itu, ia menemukan penghiburan. Sepuluh imam dan seorang uskup mendoakan ayahnya. Sebuah momen yang ia syukuri sebagai tanda kasih Tuhan di tengah kehilangan.

Kenangan tentang ayahnya begitu melekat. Ia pernah merawat sang ayah saat sakit, bahkan telah menyiapkan kain putih untuk keperluan pemakaman. Ada satu momen yang tak pernah ia lupakan: saat ia pamit kembali menjalankan tugas, ayahnya yang semula memandangnya, perlahan membalikkan wajah ke arah dinding.

Bagi Sr. Gaudensia, itu adalah tanda bahwa sang ayah belum sepenuhnya rela.

Kini, ia menyadari bahwa panggilan hidup bakti memang menuntut pengorbanan besar. Bahkan, ketika orang tua yang dicintai dipanggil Tuhan, ia tidak selalu bisa berada di sisi mereka.

Namun justru di situlah letak makna panggilan itu: sebuah kesetiaan yang melampaui rasa pribadi, sebuah cinta yang meluas bagi banyak orang.

Kisah Sr. Gaudensia adalah potret nyata seorang pelayan Tuhan—yang memilih meninggalkan kenyamanan keluarga demi menjawab panggilan yang lebih besar. Sebuah perjalanan iman yang tidak mudah, tetapi penuh makna.

                                                                                                                 *** (Konradus R. Mangu)

 

Posting Komentar

1 Komentar