Bertutur kitab suci merupakan sesuatu yang menarik dan sekaligus menantang para peserta, terutama anak-anak didik yang saat ini duduk di bangku SD Insan Teratai. Ketika dikasih tugas untuk membaca dan menceritakan kembali kisah panggilan Samuel, awalnya mereka mengalami kesulitan. Mereka merasa sulit, bukan pada saat membaca kisah panggilan Samuel, namun justeru pada saat diminta untuk menuturkan ulang dengan bahasa sendiri tentang kisah panggilan Samuel.
Samuel hidup di bawah asuhan imam Eli. Ketika berada bersama Eli, Samuel mendapatkan panggilan dari Allah. Tiga kali Allah memanggilnya saat ia tertidur. Awalnya ia mengira bahwa Eli memanggilnya namun Eli menyadari bahwa itu panggilan dari Allah, maka Eli menyuruhnya untuk menjawab ketika ada panggilan yang ketiga dari Allah. “Bersabdalah Tuhan, hambaMu mendengar.” Samuel mendapatkan panggilan dari Allah dan ia menjadi seorang hakim untuk memimpin bangsa Israel.
Beberapa literatur menuliskan bahwa Samuel tidak hanya sebagai hakim namun ia juga mempunyai kemampuan sebagai penglihat. Ia hidup dalam masa trasisi, antara masa hakim-hakim dan masa kerajaan. Samuel memiliki kemampuan dalam memimpin dan sekaligus mempersiapkan raja baru untuk kerajaan Israel. Kita bisa belajar dari Samuel yang mampu melihat kemampuan Saul dan mempersiapkannya untuk menjadi raja pertama dalam kerajaan Israel.
Bagi orang Israel, raja yang dipilih adalah simbol kehadiran Allah karena
di mata orang-orang Israel, raja mereka sesungguhnya adalah Allah sendiri.
Allah yang setia menuntun dan menggembalakan bangsa pilihan-Nya. Samuel menjadi
“alatnya Tuhan” untuk mempersiapkan raja baru, yakni Saul. Melalui raja yang
dipilih, Allah bekerja untuk memimpin bangsa pilihan-Nya. Allah senantiasa
memperlihatkan kesetiaan pada umat pilihan-Nya, walaupun umat-Nya tidak setia. Sebagai
Israel baru karena baptisan dan karena percaya pada Kristus, kita belajar untuk
setia pada Kristus yang telah diutus Allah untuk menyelamatkan umat manusia
melalui pengorbanan diri-Nya.***(Valery Kopong)

0 Komentar