![]() |
| Fio Rencia Manuella |
SEJAK kecil, Fio Rencia
Manuella sudah akrab dengan suasana pelayanan gereja. Lingkungan keluarga yang
aktif dalam kegiatan kerohanian membuat dirinya bertumbuh menjadi seorang
remaja yang tidak hanya mencintai musik, tetapi juga memiliki semangat melayani
sesama.
Fio Rencia Manuella lahir
di Tangerang, 17 Oktober 2009. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara,
buah hati pasangan Kuang Hai dan Lusiana yang berasal dari Pontianak,
Kalimantan Barat. Fio tinggal bersama keluarganya di Poris Indah Blok E Nomor
620D, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.
Pendidikan dasarnya
ditempuh di SD Maria Immaculata, 2016 - 2022. Setelah itu ia melanjutkan
pendidikan di SMP Immaculata dari tahun 2022 hingga 2025. Kini ia sedang
menempuh pendidikan di SMK Setia Bhakti Tangerang (kelas XI).
Kecintaan Fio terhadap
musik tumbuh dari aktivitasnya di gereja. Ia tergabung dalam pelayanan ibadah
sebagai pemain drum. Selain itu, ia juga mengenal berbagai bentuk pelayanan
lain seperti Worship Leader (WL), Singer, operator LCD yang menampilkan lirik
lagu, serta usher yang bertugas menyambut jemaat.
Keluarga menjadi sumber
inspirasi utama dalam pelayanan tersebut. Kakak-kakaknya terlebih dahulu aktif
melayani di gereja sehingga secara tidak langsung mengajak Fio untuk ikut
terlibat. Orang tuanya yang merupakan jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) juga
mendukung penuh kegiatan pelayanan anak-anak mereka.
Ketertarikan Fio pada
alat musik drum dimulai ketika ia berusia sekitar 12 tahun atau saat duduk di
kelas enam sekolah dasar. Awalnya ia belajar dari kakak-kakak di gereja. Dengan
tekun ia mengamati, berlatih, dan mengembangkan kemampuannya secara otodidak.
Selama kurang lebih dua tahun, ia terus belajar hingga akhirnya mampu menguasai
permainan drum dengan baik.
"Belajar drum
pertama kali di gereja. Saya belajar dari kakak-kakak yang melayani di
sana," demikian kisahnya.
Bagi Fio, bermain drum
bukan sekadar hobi. Musik menjadi sarana untuk melayani Tuhan dan mendukung
jalannya ibadah. Bersama para pelayan musik lainnya yang memainkan gitar, bass,
dan keyboard, ia mengiringi pujian dan penyembahan dalam berbagai kegiatan gereja.
Di tengah kesibukan
sekolah dan pelayanan, Fio juga belajar tentang arti perjuangan dari kedua
orang tuanya. Sang ayah pernah menjalankan usaha makanan, terutama ayam bakar,
sedangkan ibunya membantu masyarakat melalui terapi pijat dan pengobatan
tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Saat ini ayahnya sedang
menghadapi keterbatasan kesehatan karena tangan kirinya belum dapat digerakkan
secara normal selama beberapa bulan terakhir.
Sebagai anak, Fio
merasakan dukungan yang besar dari keluarga, khususnya para kakaknya. Salah
seorang kakaknya, Tresya Manuella, menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi
dan pernah bekerja di Australia. Kakak-kakak lainnya juga telah memasuki dunia
kerja dan berusaha mandiri. Kehadiran mereka menjadi motivasi bagi Fio untuk
terus belajar dan mengembangkan diri.
Meski usianya masih muda,
Fio telah menunjukkan bahwa pelayanan tidak harus menunggu dewasa. Melalui
dentingan stik drum dan irama musik yang dimainkan, ia ikut ambil bagian dalam
membangun suasana ibadah yang hidup dan penuh sukacita.
Perjalanan hidup Fio
Rencia Manuella masih panjang. Namun satu hal yang sudah tampak jelas, yakni
kecintaannya pada musik dan kesediaannya untuk melayani. Dari ruang ibadah
gereja hingga bangku sekolah, ia sedang menapaki langkah-langkah kecil yang
kelak dapat membawanya menuju masa depan yang lebih baik.
Bagi Fio, musik bukan
hanya tentang nada dan irama, melainkan juga tentang pengabdian, kebersamaan,
dan ungkapan syukur kepada Tuhan melalui talenta yang dimilikinya.**
Konradus
R. Mangu

0 Komentar