Unordered List

6/recent/ticker-posts

Salib Merah

 


Oleh: Valery Kopong

Ketika menonton film “Pesta Babi”  membuka  kesadaran publik akan eksploitasi hutan  Papua dengan mengatasnamakan program strategis nasional. Film dokumenter ini tidak sekedar tontonan tanpa makna namun memberikan kritik dan membangun kesadaran baru akan tata kelola lingkungan hidup yang menjadi urat nadi kehidupan manusia. Film yang melibatkan suku-suku adat sekaligus penjaga keberlangsungan hutan, sepertinya tak berdaya di hadapan aparat yang memberikan tindakan represif.

Melihat pembangunan nasional yang lebih banyak mengorbankan lingkungan hidup dan meminggirkan masyarakat adat, menggugah kesadaran para aktivis, melakukan tindakan untuk menyadarkan pemerintah melalui jalur sastra. Dunia sastra tidak hanya dilihat sebagai ungkapan batin seorang sastrawan namun mewakili jeritan  masyarakat umum yang hak-hak adatnya sedang diamputasi oleh aparat. Film dokumenter investigatif yang  disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale menjadi ajang polemik dan membuka ruang diskursus tentang lingkungan hidup. “Pesta Babi” tidak sekedar judul film kontroversial namun mengungkapkan kerakusan dan ketamakan oligarki dan pemerintah yang menggundulkan hutan demi ambisi proyek strategis.

Ke mana arah hidup suku-suku Marind (atau Malind), Yei, Awyu, dan Muyu setelah hutan-hutan adat yang menjadi rumah mereka dirusak? Ini pertanyaan retoris sekaligus menggugah kesadaran di ruang publik. Kerusakan alam di Papua dan beberapa tempat di wilayah Indonesia adalah contoh nyata tindakan arogan dan represif seperti yang diperlihatkan dalam film pesta babi. Mengapa hewan babi yang dikemas menjadi judul sebuah film? Dandhy dan Cypri tentu lebih tahu pilihan nama hewan ini sebagai judul film. Keberadaan babi sepertinya mengganggu sebagian masyarakat yang haram akan babi. Beberapa waktu lalu, ketika ormas-ormas tampil dengan suara lantang menyerukan agar tidak boleh lagi dijual daging babi. Peristiwa yang hampir sama terjadi di Solo, di mana warga mendatangi tempat penjulan mie babi dan memaksa warung itu ditutup karena dianggap meresahkan masyarakat.

Dandhy dan Cypri, dua sutradara film pesta babi, ingin mempertahankan nama hewan ini supaya tetap membuat publik penasaran di balik film dokumenter ini. Babi itu rakus dan tak peduli pada gerombolan hewan di saat makan. Perilaku hewan ini memberikan gambaran secara umum tentang sikap tamak dan loba bagi mereka yang terus memikirkan bagaimana cara menghancurkan hutan dan mendapat keuntungan dari proyek nasional itu. Mereka yang menghancurkan hutan adalah mereka yang lebih mementingkan diri ketimbang memikirkan keberlanjutan hidup orang-orang Papua.

Di mana suara profetis dari kaum agamawan atas Papua yang terluka oleh karena pembabatan hutan secara liar? Memang Gereja terkesan hati-hati dalam bersuara dan bahkan kehilangan daya kristisnya. Peran kenabian menjadi penting untuk menyerukan suara profetis atas kerusakan alam semesta ini. Gereja lebih banyak menyodorkan ensiklik yang berbicara tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si, menyoroti tentang kehancuran alam semesta oleh tangan-tangan manusia dan mengajak semua orang untuk memulihkan kembali lingkungan yang rusak. Suguhan ensiklik ini mestinya menggugah kesadaran untuk berani menghentikan ekploitasi alam Papua. Hanya beberapa imam dan beberapa uskup yang berani berbicara tentang hutan adat yang dirusakan.

Suara Gereja sebagai seruan protefis tentu memiliki konsekuensi yang harus dihadapi. Ada intimidasi dan penolakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan dalam menyuarakan kebenaran di ruang publik. Masyarakat adat terutama suku Awyu dan Marind yang tampil di film pesta babi, mereka berani menancapkan salib merah sebagai simbol perlawanan terhadap aparat. Salib merah, ya salib penuh darah. Salib merah membangkitkan ingatan kolektif tentang anak manusia yang menjadi kurban penyaliban pada dua ribuan tahun yang lalu, seakan hadir di tanah Papua. Salib tidak hanya dilihat sebagai titik temu pada persilangan kayu, namun memberikan simbol persilangan komitmen masyarakat adat yang menyatukan diri dengan Kristus di salib.

Salib adalah bukti cinta dan kesetiaan Kristus pada dunia. Memang, tentang cinta, sulit untuk dedefinisikan. Melihat puncak “cinta agape” (cinta tanpa syarat) yang diperlihatkan oleh Kristus di kayu salib, nampak cinta sejati yang terpatri di palang hina. Mengapa Kristus tetap bertahan di kayu salib hingga mempertanggung-jawabkan seluruh karya perutusan-Nya? Karena ketulusan cinta maka Kristus rela mati di kayu salib. Cinta paripurna telah diperlihatkan oleh Kristus pada jalan kesengsaraan, “via dolorosa.” Salib merah telah ditancapkan di Papua, sebagai pra tanda akan terjadi perlawanan dalam diam. Di balik penderitaan salib, ada kemenangan di minggu kebangkitan-Nya. Salib Merah dalam film “Pesta Babi” dimaknai sebagai sebuah perlawanan berdarah. Dalam perlawanan berdarah itu, kita terbentur pada pertanyaan, untuk apa dan mengapa?***

 

Posting Komentar

0 Komentar