Mengatur manusia sebenarnya bukan perkara mudah. Namun, ada satu cara yang sering dianggap paling praktis untuk membuat orang mengikuti kehendak kita, yaitu ancaman.
"Awas, kalau tidak mengikuti perintah, akan ada sanksi!"
Cara ini bisa kita temukan di mana-mana. Di rumah, ketika orang tua menghadapi anak-anaknya. Di kantor, ketika pimpinan mengatur bawahannya. Bahkan dalam organisasi, ketika seseorang merasa memiliki kewenangan untuk mengendalikan orang lain.
Ancaman memang sering menghasilkan kepatuhan dengan cepat. Tetapi, kita perlu bertanya: apakah orang yang patuh karena ancaman benar-benar memahami apa yang harus dilakukannya? Apakah ia melakukannya dengan kesadaran, kerelaan, dan keikhlasan?
Belum tentu.
Orang yang mengikuti perintah karena takut sesungguhnya sedang menghindari hukuman, bukan sedang menerima nilai atau tujuan dari perintah tersebut. Ia mungkin terlihat patuh di hadapan kita, tetapi belum tentu memiliki kesediaan yang sama ketika kita tidak berada di dekatnya.
Bahkan, ketika kesempatan muncul, kepatuhan yang dibangun di atas rasa takut dapat berubah menjadi perlawanan. Sebab, sesuatu yang dilakukan karena keterpaksaan tidak selalu melahirkan kesetiaan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara *membuat orang takut kepada kita dan membuat orang sadar akan tanggung jawabnya.*
Membangkitkan kesadaran memang membutuhkan waktu. Seorang pemimpin perlu menjelaskan, memberi teladan, mendengarkan, membimbing, dan memperlakukan orang lain dengan penghargaan. Tidak selalu mudah, tidak selalu cepat, tetapi jauh lebih bermakna untuk membangun tanggung jawab yang tumbuh dari dalam diri seseorang.
Sebab, manusia bukan sekadar objek yang harus digerakkan melalui perintah. Manusia memiliki pikiran, perasaan, harga diri, dan kemampuan untuk memahami alasan di balik sesuatu yang harus dikerjakannya.
Karena itu, seorang pemimpin perlu meluangkan waktu untuk berpikir: bagaimana membuat orang mau melakukan sesuatu karena memahami kebaikan dan tanggung jawabnya, bukan semata-mata karena takut terhadap akibat jika tidak melakukannya?
Ada satu hal lain yang juga patut direnungkan. Ketika terjadi kekacauan di bawah, janganlah kita terburu-buru menyalahkan orang-orang yang berada di bawah. Kita perlu melihat kembali bagaimana orang-orang di atas memimpin, memberi contoh, membangun komunikasi, dan memperlakukan mereka yang dipimpinnya.
Bukankah ada ungkapan, seperti di atas, demikian pula di bawah?
Jika yang di atas lurus, yang di bawah akan memiliki arah untuk meluruskan diri. Jika yang di atas menghormati dan menghargai, yang di bawah akan belajar menghormati dan menghargai. Sebaliknya, jika yang di atas terbiasa menggunakan ancaman, jangan heran apabila yang di bawah hanya belajar patuh ketika diawasi dan mencari kesempatan untuk menghindar ketika pengawasan tidak ada.
Kepemimpinan bukan tentang seberapa besar seseorang mampu membuat orang lain takut, melainkan seberapa besar ia mampu menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab dalam diri orang-orang yang dipimpinnya.*
Sebab, keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya terlihat dari keteraturan orang-orang ketika dirinya hadir, tetapi juga dari bagaimana mereka tetap mampu menjaga tanggung jawab ketika dirinya tidak lagi berada di sana.***
*) Penulis adalah pengajar SMK Setia Bhakti

0 Komentar