Yoseph Yapi Taum
Kediktatoran
mulai memasuki kehidupan manusia ketika seseorang takut berbicara meskipun
sedang sendirian. Ia memeriksa dinding, merendahkan suara, lalu mencurigai
pikirannya sendiri. Kekuasaan telah berhasil menempatkan penjaga di dalam
kesadarannya.
Ketakutan
semacam itulah yang memperoleh bentuk mengerikan dalam novel Nineteen
Eighty-Four atau 1984 (1949) karya George Orwell. Melalui kehidupan
Winston Smith, Orwell membawa pembaca memasuki masyarakat yang kehilangan ruang
untuk menyimpan rahasia, mempertahankan ingatan, dan mengatakan sesuatu yang
berbeda dari kehendak penguasa. Membaca novel ini berarti mengalami bagaimana
kehidupan sehari-hari perlahan berubah menjadi penjara.
Pemberitaan
mengenai dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto, yang menyeret
mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan sejumlah perwira, memberi alasan untuk
membaca kembali Orwell. Menurut keterangan kepolisian yang diberitakan pada 3
November 2026, sasaran dugaan penyadapan juga mencakup pejabat, tokoh politik,
media, dan kelompok masyarakat. Status dugaan dan proses pembuktiannya harus
tetap dihormati. Namun, persoalan yang ditimbulkannya berdampak pada nama-nama
yang sedang diperiksa: bagaimana instrumen negara dapat berubah menjadi alat
untuk menguasai kehidupan orang lain?
Peran Profetik Sastra
Di
sinilah sastra menjalankan peran profetisnya. Ia mengingatkan manusia, bangsa,
dan negara tentang kemungkinan kehancuran yang tumbuh dari kebiasaan mereka
sendiri. Fiksi menyediakan pengalaman batin untuk mengenali bahaya ketika
bahasa resmi masih berusaha membuatnya terdengar biasa.
Dalam 1984,
telescreen menjadi lambang pengawasan yang merampas keintiman. Perangkat
itu menyiarkan suara kekuasaan sekaligus memungkinkan penghuninya diawasi.
Rumah kehilangan fungsi sebagai tempat berlindung. Wajah, gerak tubuh, bahkan
reaksi spontan dapat mengundang kecurigaan.
Kengerian
perangkat tersebut terletak pada ketidakpastian: seseorang tidak mengetahui
kapan dirinya sedang diperhatikan. Karena pengawasan mungkin berlangsung setiap
saat, ia harus mengendalikan dirinya setiap saat pula. Kekuasaan memperoleh
kepatuhan bahkan ketika petugasnya tidak terlihat.
Penyadapan,
dalam pembacaan ini, mempunyai akibat yang lebih luas daripada bocornya
percakapan. Ia mengubah hubungan manusia dengan sesamanya. Orang mulai
menimbang apakah sahabatnya dapat dipercaya, apakah keluhannya akan disimpan
sebagai barang bukti, apakah percakapan keluarga kelak menjadi alat pemerasan.
Masyarakat masih tampak ramai, tetapi hubungan di dalamnya kehilangan rasa
aman.
Orwell
memperdalam persoalan itu melalui pekerjaan Winston di Kementerian Kebenaran.
Winston bertugas mengubah catatan masa lalu agar sesuai dengan kepentingan
Partai. Dokumen yang bertentangan disingkirkan; kesalahan penguasa diperbaiki
secara retrospektif. Dengan demikian, pengawasan terhadap manusia berjalan
bersama penguasaan atas ingatan.
Hubungannya
jelas: orang yang mengetahui dirinya diawasi akan kesulitan mengoreksi kebohongan;
orang yang kehilangan bukti masa lalu akan kesulitan membuktikan bahwa penguasa
sedang berbohong. Kediktatoran menjadi kukuh ketika ketakutan dan pemalsuan
kenyataan saling menopang.
Di
hadapan Winston berdiri O’Brien, tokoh yang menyingkapkan inti kekuasaan
totaliter. Baginya, penderitaan manusia merupakan sarana untuk memastikan
dominasi. Ia menghendaki penyerahan yang menjangkau pikiran: korban harus
kehilangan kemampuan mempertahankan kebenarannya sendiri.
Haus Kekuasaan dan Pemberontakan Hewan
Ada yang hunger
for power: lapar akan kekuasaan. Kelaparan ini tidak selesai setelah
jabatan diperoleh. Ia menuntut tambahan kendali, tambahan kepatuhan, tambahan
kemampuan untuk menentukan nasib orang lain. Dalam sosok O’Brien, Orwell
memperlihatkan ambisi yang telah melepaskan dirinya dari tujuan pelayanan.
Kekuasaan menjadi tujuan bagi dirinya sendiri.
Ungkapan
“kegilaan kekuasaan” karena itu dapat dibaca sebagai keadaan politik ketika
hasrat menguasai terus berkembang, sementara batas moral terus menyusut. Setiap
kritik dianggap ancaman. Setiap wilayah pribadi terasa sebagai ruang yang belum
ditaklukkan. Bahkan kesetiaan bawahan harus diperiksa berulang-ulang karena
penguasa tidak lagi sanggup membayangkan hubungan yang bebas dari perhitungan
dominasi.
Dari
sini, anggapan bahwa penyadapan antarelite dapat dikritisi melalui imajinasi
Orwellian. Dunia Orwell justru membantu kita mengenali bagaimana sistem yang
dibangun melalui kecurigaan dapat menjangkiti para pengelolanya sendiri. Ketika
informasi rahasia menjadi sumber daya politik, orang-orang di sekitar pusat
kekuasaan memiliki insentif untuk mengumpulkan dan menyimpannya.
Pengawasan
dapat menjadi mata uang untuk menawar jabatan, melindungi jaringan, atau
menyandera keputusan. Dalam keadaan demikian, rantai komando formal belum tentu
mencerminkan letak kendali yang sesungguhnya. Pemilik jabatan dan pemilik
rahasia dapat menjadi dua pusat kuasa yang berbeda.
Namun,
membaca persoalan ini hanya sebagai ancaman terhadap kepala negara akan
mempersempit pelajaran Orwell. Martabat percakapan pribadi tidak bergantung
pada pangkat orang yang berbicara. Presiden, wartawan, dosen, aktivis, dan
warga biasa sama-sama membutuhkan perlindungan dari intervensi sewenang-wenang.
Pembelaan terhadap keamanan negara harus bertemu dengan pembelaan terhadap
kebebasan warganya.
Kritik
Orwell terhadap kekuasaan juga memperoleh bentuk tajam dalam Animal Farm
(1945). Melalui fabel tentang pemberontakan hewan, ia menggambarkan harapan
pembebasan yang berangsur dikuasai elite baru. Perubahan berlangsung melalui
penguasaan bahasa, pembenaran hak istimewa, dan pelemahan ingatan bersama.
Kemenangan revolusi akhirnya memberi tempat bagi lahirnya penindasan baru.
Bentuk
fabel membuat pengkhianatan itu mudah dikenali. Pembaca melihat jarak antara
janji dan tindakan, sementara para penghuni peternakan semakin kesulitan
menyatakannya. Kesederhanaan cerita justru menajamkan pertanyaan: mengapa
mereka yang pernah menentang penindasan dapat mengulanginya ketika memperoleh
kesempatan berkuasa?
Pertanyaan
tersebut menjangkau kehidupan bangsa mana pun. Pergantian pemimpin tidak dengan
sendirinya menghapus hasrat mendominasi. Lembaga dapat mempertahankan nama dan
lambangnya sambil kehilangan tujuan awalnya. Bahasa pengabdian dapat terus
diperdengarkan ketika praktik sehari-hari semakin menjauh dari kepentingan
masyarakat.
Daya
profetis sastra tumbuh dari kemampuannya memperlihatkan proses itu sebelum
akibatnya diterima sebagai kewajaran. Pembaca diajak mengenali tanda-tandanya:
pemujaan terhadap pemimpin, penyempitan bahasa, penghinaan terhadap kritik,
pembenaran kekerasan, dan penyerahan hak demi janji keamanan.
Orwell
memahami hubungan antara penciptaan sastra dan tanggung jawab politik. Dalam
esai “Why I Write” (1946), ia menjelaskan orientasi antitotaliter
karya-karyanya sekaligus keinginannya mengolah tulisan politik menjadi seni.
Komitmen tersebut hidup melalui tokoh, konflik, ironi, dan pengalaman membaca
yang mengguncang.
Peringatan Sastra
Karena
itu, membaca Orwell hari ini semestinya mendorong kita menuntut pembuktian yang
terbuka, pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan, serta batas yang tegas
terhadap penggunaan instrumen negara. Pengungkapan penyalahgunaan kuasa harus
memulihkan kepercayaan publik dan perlindungan warga. Jika hanya menghasilkan
perpindahan alat kendali dari satu kelompok ke kelompok lain, peringatan sastra
kembali diabaikan.
Pada
akhirnya, keberhasilan sebuah bangsa membaca 1984 terletak pada
kesanggupannya menjaga agar pengalaman Winston tidak menjadi pengalaman warganya.
Sastra mengingatkan bahwa kediktatoran membutuhkan manusia yang menyerahkan
ingatannya, membiasakan ketakutannya, dan berhenti mempertanyakan kekuasaan.
Orwell
telah memberi bentuk pada bahaya itu. Tugas kita adalah mengenalinya ketika ia
datang dengan wajah yang akrab, bahasa yang menenteramkan, dan janji bahwa
semua dilakukan demi keselamatan bersama.
(Yoseph Yapi Taum, Guru Besar Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma).
.png)
0 Komentar