Paulus Mado Sogen
Ia tidak pernah mengenal bangku sekolah. Huruf-huruf bahkan baru mulai
dikenalnya ketika merantau ke Kalimantan Timur, kemudian ke Sabah, Malaysia.
Namun, di balik keterbatasan itu, tersimpan pikiran besar tentang masa depan
anak-anaknya. Ia mungkin tidak mampu membaca buku, tetapi ia tahu bahwa
pendidikan dapat membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik. Ia mungkin tak
pernah mengecap pendidikan formal, tetapi ia memahami betapa pentingnya seorang
anak memiliki kesempatan untuk kuliah.
Dialah Paulus Mado Sogen. Seorang ayah, petani, dan perantau yang menjalani
hidup dalam kesederhanaan. Ia bukan orang terpelajar. Namun, dari tangannya
yang pernah bekerja di kebun sayur dan pusat penggergajian kayu, lahir sebuah
keputusan besar: mengantarkan anaknya menuju bangku kuliah.
Kisah tentang cinta, pengorbanan, dan iman itu kembali mengemuka dalam Misa
Nebo, sebutan untuk misa malam ketiga setelah pemakaman dalam tradisi dan
bahasa Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Misa
tersebut digelar untuk mendoakan kepergian Paulus Mado Sogen, yang wafat pada
25 Oktober 2026 dalam usia 92 tahun.
Di hadapan keluarga dan umat yang berkumpul, Thomas Akaraya Sogen, putra
sulung almarhum, mengisahkan kembali perjalanan hidup ayahnya. Sebuah kisah
sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam tentang tanggung jawab orang tua,
perjuangan hidup, dan cinta yang tak pernah mengenal batas.
Misa Nebo dipimpin oleh RP Lambertus Sogen, C.Ss.R., imam misionaris
Redemptoris yang selama ini bertugas di Samoa, Pasifik Selatan, dan sedang
menjalani cuti di tanah air.
Mimpi Tak Padam
Paulus Mado Sogen lahir dan tumbuh dalam keluarga petani dengan kehidupan
yang jauh dari kemewahan. Keterbatasan ekonomi dan pendidikan menjadi bagian
dari perjalanan hidupnya. Bahkan, ketika masih duduk di kelas II SMP, ia harus
meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di Samarinda, Kalimantan
Timur.
Di sana, ia bekerja pada sebuah pusat penggergajian kayu. Hanya sekitar
setahun menetap di Kalimantan, ia kemudian melanjutkan perjalanan perantauannya
bersama seorang adik ipar ke Sabah, Malaysia.
Sang ipar bekerja sebagai sopir truk, sementara Paulus menjadi buruh di
kebun sayur. Hari-harinya diisi dengan kerja keras. Jauh dari keluarga, ia
berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menyisihkan harapan bagi masa
depan.
Namun, ada satu kenyataan yang membuat perjalanan perantauannya tidak mudah.
Paulus benar-benar tidak bisa membaca dan menulis. Setiap surat-menyurat
dilakukan oleh sang ipar atas namanya. Ia tidak mampu membaca pesan yang
datang, apalagi menuliskan sendiri balasan untuk keluarga di kampung.
Keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti berpikir. Justru dalam perjalanan
hidup yang penuh kesulitan tersebut, tumbuh kesadaran bahwa anak-anaknya kelak
harus memiliki kesempatan yang tidak pernah ia miliki.
Tahun 1983 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan keluarga ini.
Thomas Akaraya Sogen menyelesaikan pendidikan SMA. Pada tahun yang sama, Paulus
pulang dari perantauan di Sabah.
Bagi Thomas, kepulangan sang ayah bukan sekadar peristiwa bertemunya kembali
seorang anak dengan orang tuanya. Kepulangan itu membawa sebuah kejutan yang
tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Setelah pulang dari Malaysia, bapak langsung mengajak saya ke Kupang.
Katanya untuk kuliah,” tutur Thomas dengan suara terbata-bata. Kenangan itu
kembali hadir, seolah membuka luka kehilangan sekaligus menghadirkan rasa
syukur yang mendalam.
Seorang ayah yang tak pernah menikmati pendidikan formal, seorang buruh
kebun sayur yang hidup dalam keterbatasan, ternyata telah menyimpan cita-cita
besar bagi anaknya.
Tak Bisa Membaca Mampu Melihat Masa Depan
Bagi sebagian orang, keputusan untuk menguliahkan anak mungkin merupakan
sesuatu yang biasa. Namun, bagi keluarga Paulus Mado Sogen, keputusan itu
adalah sebuah lompatan besar.
Ia tidak memiliki bekal pendidikan yang memadai. Ia juga tidak memahami
secara terperinci dunia perguruan tinggi. Bahkan, ketika tiba di Kupang, mereka
nyaris tersesat karena tidak mengetahui harus menuju kampus mana, memilih
program studi apa, dan mencari tempat tinggal di mana.
Tetapi Paulus memiliki satu keyakinan: anaknya harus memperoleh pendidikan
yang lebih tinggi.
Thomas mengingat bagaimana ayahnya berpikir tentang kemampuan anak-anaknya.
Ia ingin anak yang dinilainya memiliki kecakapan intelektual lebih baik
memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Di sinilah letak keistimewaan seorang Paulus Mado Sogen. Ia tidak mengukur
masa depan anak-anaknya dari keterbatasan dirinya. Ia tidak membiarkan
ketidakmampuannya membaca dan menulis menjadi batas bagi cita-cita mereka.
Ia mungkin tidak mampu membacakan buku untuk anaknya. Namun, ia sanggup
mengantarkan anaknya menuju tempat di mana buku-buku dan ilmu pengetahuan akan
menjadi bagian dari kehidupannya.
“Bagi saya, itulah bukti nyata seorang ayah yang bertanggung jawab penuh
untuk mewujudkan masa depan anak-anaknya,” ungkap Thomas, yang kemudian menjadi
ayah dari tiga orang anak.
Perjalanan mereka ke Kupang memang tidak berjalan mulus. Di tengah
hiruk-pikuk kota, keduanya kebingungan mencari arah. Namun, Tuhan menghadirkan
pertolongan melalui seorang kakak kelas Thomas ketika masih SMP.
Orang tersebut membantu mengantar mereka ke tempat tujuan, mengurus
pendaftaran kuliah, sekaligus mencarikan tempat kos.
Pertemuan itu menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Di tengah
ketidakpastian, pertolongan datang. Di tengah kebingungan, jalan terbuka.
Thomas akhirnya menjadi putra pertama dari kampung halamannya yang mengenyam
pendidikan tinggi, meskipun pada awalnya hanya menyelesaikan program Diploma
Dua.
“Sungguh, Tuhan itu mahabaik kepada setiap hamba-Nya yang beriman
kepada-Nya,” ungkap Thomas.
Pengalaman hidup tersebut kemudian ia tuangkan dalam buku berjudul Anak
Kampung ke UGM, yang terbit pada 2025. Buku itu bukan semata-mata
kisah perjalanan akademik, melainkan juga kesaksian tentang seorang ayah yang
berani bermimpi bagi anaknya, bahkan ketika dirinya sendiri tidak pernah
mengenal dunia pendidikan.
Warisan tak
pernah hilang
Ada banyak hal yang dapat diwariskan seorang ayah kepada anak-anaknya. Harta
benda, tanah, rumah, ataupun berbagai pencapaian hidup. Namun, Paulus Mado
Sogen meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: keteladanan.
Bagi anak-anaknya dan masyarakat di kampung, Paulus dikenal sebagai pribadi
yang tekun menjalankan kehidupan iman. Ia tidak pernah absen mengikuti perayaan
Ekaristi. Doa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kesehariannya.
Sebelum dan sesudah makan, ia selalu berdoa. Dalam kesederhanaan hidupnya,
ia memperlihatkan bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang diucapkan, melainkan
sesuatu yang dijalani dengan setia.
Ketekunan itu menjadi kenangan yang terus hidup dalam hati anak-anaknya.
Thomas meyakini bahwa doa-doa ayahnya telah menjadi kekuatan bagi keluarga.
Ia mengenang bagaimana sang ayah senantiasa menyerahkan kehidupan dan masa
depan anak-anaknya kepada Tuhan.
Salah seorang cucu Paulus bahkan telah dipanggil untuk menjadi imam. Ia
adalah RD Christian Dominicus Juang Sogen, imam projo Keuskupan Agung Kupang
yang ditahbiskan pada awal 2026.
Bagi keluarga, panggilan imamat cucunya merupakan sebuah anugerah sekaligus
buah dari perjalanan iman yang panjang.
“Ket tekunannya dalam berdoa merupakan satu hal yang tidak pernah kami
lupakan. Doa-doanya didengar Tuhan sehingga salah seorang cucunya bisa
dipanggil menjadi imam Tuhan,” tutur Thomas, pensiunan pengawas SMP di
Kabupaten Kupang, NTT.
Mungkin Paulus tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari seorang cucunya
akan mengenakan jubah imam. Namun, ia telah meletakkan dasar yang kokoh melalui
kehidupan iman yang sederhana, kesetiaan dalam doa, dan tanggung jawab terhadap
keluarga.
Cinta Berlanjut dalam Kenangan
Pada 25 Oktober 2026, Paulus Mado Sogen mengakhiri perjalanan panjangnya di
dunia. Ia berpulang ke hadapan Sang Pencipta dalam usia 92 tahun.
Kepergiannya meninggalkan seorang istri tercinta, Antonia Sabu Kolin,
delapan orang anak—empat laki-laki dan empat perempuan—28 orang cucu, serta 15
orang cicit.
Bagi keluarga besar Sogen, kehilangan ini tentu bukan perkara mudah. Sosok
yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka
kini telah tiada. Namun, kenangan tentang dirinya tidak akan pernah benar-benar
hilang.
Paulus Mado Sogen mungkin tidak pernah mengenal huruf-huruf di bangku
sekolah. Ia tidak memiliki gelar akademik. Ia juga tidak pernah menulis teori
tentang pendidikan, tanggung jawab orang tua, atau kehidupan iman.Tetapi
melalui hidupnya, ia telah mengajarkan semuanya.
Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya milik mereka yang mampu
bersekolah. Ia mengajarkan bahwa tanggung jawab seorang ayah tidak berhenti
pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Ia mengajarkan bahwa cinta dapat menjelma
menjadi keberanian untuk memperjuangkan masa depan anak-anak.
Dan yang paling penting, ia mengajarkan bahwa iman tidak harus hadir dalam
kata-kata yang indah. Iman dapat tumbuh melalui doa yang sederhana, kesetiaan
pergi ke gereja, dan kesediaan menyerahkan seluruh kehidupan kepada Tuhan.
Seorang ayah yang buta huruf telah membuka jalan bagi anaknya untuk membaca
dunia. Seorang perantau yang bekerja di kebun sayur telah menanam benih
pendidikan dalam keluarga. Seorang lelaki sederhana telah meninggalkan warisan
yang tak ternilai harganya.
Kini, Paulus Mado Sogen telah pergi. Namun, cita-cita yang pernah ia
perjuangkan tetap hidup dalam diri anak-anak, cucu-cucu, dan generasi yang
datang sesudahnya.
Sebab, pada akhirnya, ukuran kebesaran seorang ayah bukanlah seberapa tinggi
pendidikan yang pernah ia tempuh, melainkan seberapa jauh ia mampu mengantarkan
anak-anaknya menuju masa depan.
Semoga Tuhan menerima segala jerih payah, pengorbanan, dan ketekunan imanmu.
Semoga engkau beristirahat dalam damai abadi bersama Kristus, yang selama
hidupmu selalu engkau imani.
Dan semoga kisahmu terus menjadi pengingat bagi setiap keluarga: bahwa cinta
seorang ayah, sekalipun lahir dari keterbatasan, mampu melahirkan harapan yang
melampaui generasi.
(Annie
Taum)

0 Komentar